Borobudur, Jawa, dan Kegelisahan Arah anak Bangsa - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 21 Mei 2026

Borobudur, Jawa, dan Kegelisahan Arah anak Bangsa

Pewarisan Pengetahuan sebagai Jalan Menautkan Warisan Leluhur dengan Masa Depan Anak Bangsa

Oleh Sucoro Setrodiharjo

Di tengah arus modernitas, muncul satu kegelisahan mendasar: apakah Indonesia masih berjalan di atas akar kebudayaannya sendiri, atau semakin jauh darinya? Selama ini, pembangunan bangsa banyak dibentuk oleh sistem pendidikan, hukum, dan tata kelola warisan Barat, khususnya kolonial Belanda. Akibatnya, bangsa ini sering lebih akrab dengan cara berpikir luar dibanding menggali sumber pengetahuan dari leluhurnya sendiri.

Padahal, Nusantara terutama Jawa memiliki tradisi ilmu dan kebijaksanaan yang panjang. Leluhur tidak hanya mewariskan bangunan fisik, tetapi juga cara memahami hidup, hubungan manusia dengan alam, etika sosial, dan kesadaran spiritual. Persoalannya, warisan pengetahuan itu perlahan menjauh dari kehidupan generasi muda.

Di sinilah Borobudur menemukan makna pentingnya.

Borobudur bukan sekadar situs warisan dunia atau objek wisata, melainkan pusat pengetahuan peradaban—“buku batu” yang merekam ajaran tentang perjalanan manusia, harmoni kehidupan, dan kesadaran batin. Relief-reliefnya menyimpan pelajaran tentang sebab-akibat, nilai kemanusiaan, kepemimpinan, lingkungan, hingga spiritualitas. Borobudur sesungguhnya adalah guru peradaban yang diam, tetapi terus berbicara bagi siapa pun yang mau membaca.

Kesadaran inilah yang selama bertahun-tahun dirawat oleh komunitas Brayat Panangkaran – Ruwat Rawat Borobudur. Tidak berhenti pada ritual budaya atau gerakan pelestarian semata, mereka menempuh jalan penting yang sering terlupakan: pewarisan pengetahuan.

Melalui penulisan dan penerbitan berbagai buku tentang Borobudur, Jawa, nilai-nilai leluhur, hingga kegelisahan arah anak bangsa, Brayat Panangkaran berupaya menjembatani pengetahuan masa lalu dengan tantangan masa depan. Upaya ini menjadi penting karena warisan budaya tidak akan hidup hanya dengan konservasi fisik; ia harus diwariskan sebagai ilmu, pemahaman, dan kesadaran lintas generasi.

Pewarisan pengetahuan menjadi kunci. Sebab tanpa proses belajar, bangsa ini berisiko menjadi asing terhadap warisannya sendiri bahkan menjadi penonton di tanah peradabannya. Borobudur akan tinggal menjadi monumen batu, bukan sumber inspirasi hidup.

Karena itu, menjaga Borobudur tidak cukup hanya merawat candinya, tetapi juga merawat pengetahuannya. Buku, ruang dialog, sekolah kehidupan, riset, dan pendidikan kebudayaan menjadi bagian penting dari “Ruwat Rawat” masa kini yakni merawat ingatan bangsa agar tidak tercerabut dari akarnya.

Indonesia tidak harus menolak modernitas untuk maju. Namun bangsa ini memerlukan pijakan yang kuat: mengenali dirinya sendiri, memahami warisan leluhurnya, lalu mengolahnya menjadi arah masa depan.

Dari Borobudur kita belajar bahwa peradaban besar tidak lahir hanya dari pembangunan fisik, tetapi dari kemampuan mewariskan ilmu dan nilai kepada generasi berikutnya. Karena sesungguhnya, merawat warisan terbesar bukan hanya menjaga batu-batu candi tetap berdiri, melainkan memastikan pengetahuan dan jiwanya tetap hidup dalam anak bangsaTop of FormBottom of Form

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar