Pewarisan Pengetahuan sebagai
Jalan Menautkan Warisan Leluhur dengan Masa Depan Anak Bangsa
Oleh Sucoro Setrodiharjo
Di tengah arus modernitas, muncul satu kegelisahan
mendasar: apakah Indonesia masih berjalan di atas akar kebudayaannya sendiri,
atau semakin jauh darinya? Selama ini, pembangunan bangsa banyak dibentuk oleh
sistem pendidikan, hukum, dan tata kelola warisan Barat, khususnya kolonial
Belanda. Akibatnya, bangsa ini sering lebih akrab dengan cara berpikir luar
dibanding menggali sumber pengetahuan dari leluhurnya sendiri.
Padahal, Nusantara terutama Jawa memiliki tradisi
ilmu dan kebijaksanaan yang panjang. Leluhur tidak hanya mewariskan bangunan
fisik, tetapi juga cara memahami hidup, hubungan manusia dengan alam, etika
sosial, dan kesadaran spiritual. Persoalannya, warisan pengetahuan itu perlahan
menjauh dari kehidupan generasi muda.
Di sinilah Borobudur menemukan makna pentingnya.
Borobudur bukan sekadar situs warisan dunia atau
objek wisata, melainkan pusat pengetahuan peradaban—“buku batu” yang merekam
ajaran tentang perjalanan manusia, harmoni kehidupan, dan kesadaran batin.
Relief-reliefnya menyimpan pelajaran tentang sebab-akibat, nilai kemanusiaan,
kepemimpinan, lingkungan, hingga spiritualitas. Borobudur sesungguhnya adalah guru
peradaban yang diam, tetapi terus berbicara bagi siapa pun yang mau membaca.
Kesadaran inilah yang selama bertahun-tahun dirawat
oleh komunitas Brayat Panangkaran – Ruwat Rawat Borobudur. Tidak berhenti pada
ritual budaya atau gerakan pelestarian semata, mereka menempuh jalan penting
yang sering terlupakan: pewarisan pengetahuan.
Melalui penulisan dan penerbitan berbagai buku tentang
Borobudur, Jawa, nilai-nilai leluhur, hingga kegelisahan arah anak bangsa,
Brayat Panangkaran berupaya menjembatani pengetahuan masa lalu dengan tantangan
masa depan. Upaya ini menjadi penting karena warisan budaya tidak akan hidup
hanya dengan konservasi fisik; ia harus diwariskan sebagai ilmu, pemahaman, dan
kesadaran lintas generasi.
Pewarisan pengetahuan menjadi kunci. Sebab tanpa
proses belajar, bangsa ini berisiko menjadi asing terhadap warisannya sendiri bahkan
menjadi penonton di tanah peradabannya. Borobudur akan tinggal menjadi monumen
batu, bukan sumber inspirasi hidup.
Karena itu, menjaga Borobudur tidak cukup hanya
merawat candinya, tetapi juga merawat pengetahuannya. Buku, ruang dialog,
sekolah kehidupan, riset, dan pendidikan kebudayaan menjadi bagian penting dari
“Ruwat Rawat” masa kini yakni merawat ingatan bangsa agar tidak tercerabut dari
akarnya.
Indonesia tidak harus menolak modernitas untuk
maju. Namun bangsa ini memerlukan pijakan yang kuat: mengenali dirinya sendiri,
memahami warisan leluhurnya, lalu mengolahnya menjadi arah masa depan.
Dari Borobudur kita belajar bahwa peradaban besar
tidak lahir hanya dari pembangunan fisik, tetapi dari kemampuan mewariskan ilmu
dan nilai kepada generasi berikutnya. Karena sesungguhnya, merawat warisan
terbesar bukan hanya menjaga batu-batu candi tetap berdiri, melainkan
memastikan pengetahuan dan jiwanya tetap hidup dalam anak bangsa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar