Redaksi Sekolah Kehidupan
Dari berbagai diskusi, kajian, catatan lapangan, serta refleksi yang berkembang dalam rangkaian kegiatan Borobudur Dalam Logika Angka, Sekolah Kehidupan, dan 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, terlihat bahwa persoalan Borobudur tidak semata-mata terletak pada teknis pengelolaan hari ini. Persoalan yang muncul sesungguhnya berakar pada cara pandang yang telah berkembang selama puluhan tahun tentang apa itu Borobudur, untuk siapa Borobudur dikelola, dan siapa yang sesungguhnya menjadi penyangga utama keberlanjutan warisan tersebut.
Dalam
konteks itu, perdebatan mengenai tata kelola Borobudur bukan hanya berbicara
tentang manajemen kawasan, melainkan juga menyangkut pelestarian nilai,
pewarisan kesadaran, serta hubungan antara negara, masyarakat, dan warisan
budaya dunia yang hidup di tengah kehidupan masyarakat.
Salah satu persoalan mendasar
yang terus muncul dalam diskusi tentang tata kelola Borobudur adalah
pertanyaan: siapa sebenarnya masyarakat
Borobudur?
Selama
ini, masyarakat sering dipahami dalam batas-batas administratif, yaitu mereka
yang tinggal di sekitar kawasan Borobudur atau mereka yang terhubung dengan
berbagai struktur formal pengelolaan. Pemahaman tersebut tentu tidak sepenuhnya
salah. Namun, jika hanya berhenti pada batas administratif, maka kita berisiko
menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Borobudur
bukanlah pasar, bukan kawasan industri, dan bukan sekadar destinasi wisata. Borobudur
adalah warisan budaya dunia yang membawa nama Indonesia di hadapan masyarakat
internasional. Oleh karena itu, baik buruknya pengelolaan Borobudur tidak hanya
berdampak pada masyarakat sekitar candi, tetapi juga mempertaruhkan nama baik
bangsa, kredibilitas pengelolaan warisan budaya Indonesia, dan kemampuan kita
mewariskan peradaban kepada generasi mendatang.
Karena
itulah, masyarakat Borobudur tidak dapat dipahami hanya dalam batas wilayah
administratif Kecamatan Borobudur yang terdiri dari 20 desa. Masyarakat
Borobudur sesungguhnya adalah seluruh elemen yang memiliki kepedulian, tanggung
jawab, pengetahuan, dan komitmen terhadap kelestarian Borobudur.
Di
dalamnya terdapat masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan candi dari
generasi ke generasi. Di dalamnya terdapat para pedagang yang pernah merasakan
berbagai kebijakan penataan kawasan. Di dalamnya terdapat para budayawan, tokoh
agama, pegiat budaya, akademisi, peneliti, guru, seniman, komunitas pelestari,
hingga warga negara yang memiliki perhatian terhadap masa depan Borobudur.
Perspektif
inilah yang menjadi salah satu landasan lahirnya Gerakan Ruwat Rawat Borobudur.
Selama
24 tahun, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur hadir sebagai gerakan pelestari yang
berusaha menjaga agar diskusi tentang Borobudur tidak terjebak hanya pada aspek
ekonomi dan pariwisata saja. Diakui ataupun tidak diakui secara formal, gerakan
ini telah membuktikan keberlanjutannya. Dalam ukuran Gerakan para Pelestari, Pemerhati
Borobudur,mampu bertahan selama 24 tahun bukanlah sesuatu yang sederhana.
Banyak organisasi, forum, dan kelompok kepentingan lahir lalu membuat Gerakan melalui
event budaya , lalu menghilang dalam waktu singkat, tetapi Ruwat Rawat
Borobudur tetap hadir dengan berbagai keterbatasannya.
Keberlangsungan
tersebut menunjukkan bahwa yang dijaga bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan
sebuah kesadaran. Kesadaran bahwa Borobudur membutuhkan lebih dari sekadar
pengelolaan administratif. Borobudur membutuhkan ruang refleksi, ruang kritik,
ruang dialog, dan ruang pembelajaran yang terus menerus.
Karena
itu, sejak awal Gerakan Ruwat Rawat Borobudur tidak memposisikan dirinya
sebagai bagian dari pengelola kawasan, tidak pula berpretensi menggantikan
pemerintah atau lembaga yang memiliki kewenangan formal. Sebaliknya, gerakan
ini menempatkan dirinya sebagai mitra masyarakat dan mitra kritis yang berupaya
membantu terwujudnya pengelolaan Borobudur yang lebih baik.
Tujuan
utamanya sederhana namun mendasar, yaitu mendorong terwujudnya keseimbangan
antara tiga pilar utama pengelolaan warisan budaya: pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan.
Selama
beberapa dekade terakhir, perhatian publik sering kali lebih banyak tertuju
pada aspek pemanfaatan. Ukuran keberhasilan lebih mudah dilihat dari jumlah
kunjungan wisatawan, perputaran ekonomi, pembangunan fasilitas, atau berbagai
indikator pertumbuhan lainnya. Semua itu memang penting dan tidak dapat
diabaikan.
Namun
Borobudur mengajarkan bahwa pemanfaatan tidak boleh berdiri sendiri.
Pemanfaatan
tanpa pelestarian akan menguras sumber daya warisan budaya secara perlahan.
Pemanfaatan
tanpa perlindungan akan membuka ruang bagi berbagai ancaman terhadap nilai dan
integritas situs.
Pemanfaatan
tanpa pewarisan akan menghasilkan keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi
kehilangan makna jangka panjang.
Di
sinilah pentingnya menjaga keseimbangan ketiga pilar tersebut.
Pelestarian
memastikan Borobudur tetap lestari secara fisik maupun nilai.
Perlindungan
memastikan Borobudur terlindungi dari berbagai ancaman yang dapat merusak
integritasnya.
Pemanfaatan
memastikan Borobudur tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Ketiganya
tidak boleh saling meniadakan. Ketiganya harus berjalan bersama.
Dalam
konteks itulah Gerakan Ruwat Rawat Borobudur selama 24 tahun berusaha
menghadirkan berbagai ruang pembelajaran melalui seminar, diskusi, webinar,
kompetisi opini, kongres Borobudur, dokumentasi, penerbitan buku, penyiaran public
media sosial website, hingga forum Sekolah Kehidupan. Semua itu dilakukan
dengan keyakinan bahwa pelestarian tidak cukup dilakukan melalui kebijakan dan
anggaran semata, tetapi juga melalui pembangunan kesadaran publik.
Sebab
pada akhirnya, ancaman terbesar terhadap Borobudur bukan hanya kerusakan batu,
melainkan hilangnya kesadaran tentang makna Borobudur itu sendiri.
Ketika
masyarakat tidak lagi memahami nilai Borobudur, ketika generasi muda hanya
mengenalnya sebagai objek wisata, ketika pengelolaan lebih banyak berbicara
tentang angka daripada makna, maka sesungguhnya proses pewarisan sedang
menghadapi tantangan yang serius.
Oleh
karena itu, pertanyaan tentang siapa masyarakat Borobudur menjadi sangat
penting untuk dijawab.
Jika
masyarakat hanya dimaknai sebagai kelompok administratif, maka kita akan
kehilangan sebagian besar kekuatan sosial yang selama ini ikut menjaga
Borobudur.
Namun
jika masyarakat dipahami sebagai seluruh pihak yang memiliki kepedulian,
tanggung jawab moral, dan komitmen terhadap kelestarian Borobudur, maka ruang
partisipasi akan menjadi lebih luas, lebih sehat, dan lebih sesuai dengan
semangat pelestarian warisan dunia.
Dari
sudut pandang ini, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur bukan sekadar organisasi atau
komunitas. Ia merupakan bagian dari ikhtiar panjang para Pelestari dan
Pemerhati Borobudur untuk memastikan
bahwa Borobudur tidak hanya dipelihara sebagai bangunan, tetapi juga diwariskan
sebagai kesadaran.
Sebab
tantangan terbesar Borobudur hari ini bukan lagi soal bagaimana memugar
batu-batunya. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mewariskan
maknanya.
Karena
itu, setelah lebih dari empat puluh tahun pasca pemugaran dan dua puluh empat tahun
perjalanan Ruwat Rawat Borobudur, satu kesimpulan penting semakin mengemuka:
Borobudur berhasil dipugar, tetapi pewarisannya
belum tentu berhasil.
Dan
karena itu pula, tugas terbesar kita bukan hanya menjaga keberadaan Borobudur
sebagai monumen dunia, melainkan menjaga agar kesadaran tentang Borobudur tetap
hidup dalam masyarakat.
Sebab pewarisan Borobudur bukanlah pewarisan
batu, melainkan pewarisan kesadaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar