FGD Sekolah
Kehidupan Edisi ke-18 dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur
Redaksi Sekolah
Kehidupan
Hingar-bingar perayaan Waisak
2570 BE telah usai. Lampion telah padam. Arus wisatawan berangsur meninggalkan
Borobudur. Berbagai dokumentasi visual tentang keindahan malam Waisak masih
beredar luas di media sosial dan menjadi kebanggaan banyak pihak.
Namun setelah keramaian
berlalu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Sebagian warga masih menghitung
hasil parkir yang diperoleh selama perayaan. Sebagian pedagang masih menghitung
dagangan yang tersisa dan bertanya ke mana harus menjualnya setelah keramaian
berakhir. Sebagian lainnya kembali pada rutinitas sehari-hari yang nyaris tidak
banyak berubah.
Pemandangan seperti ini
berulang hampir setiap tahun.
Waisak datang. Borobudur
menjadi pusat perhatian dunia. Ribuan orang hadir. Ekonomi bergerak untuk
sesaat. Lalu kehidupan kembali ke titik semula.
Sampai hari ini belum banyak
data yang mampu menjelaskan berapa jumlah masyarakat di kawasan Borobudur yang
menggantungkan kehidupannya pada sektor pariwisata. Belum banyak pula pemahaman
yang memadai mengenai bagaimana masyarakat terus beradaptasi terhadap perubahan
kebijakan dan regulasi yang dapat datang sewaktu-waktu.
Bagi sebagian masyarakat yang
telah berhasil menemukan peluang baru
dan mengembangkan usaha yang semakin maju. Namun pada saat yang sama, kompetisi
kehidupan terus berlangsung. Setiap perubahan menghadirkan peluang sekaligus
tantangan. Ada yang mampu beradaptasi lebih cepat, tetapi ada pula yang hanya
dapat mengikuti keadaan karena keterbatasan yang dimiliki dan berakhir “ pasrah
“
Di tengah situasi itulah muncul
sebuah pertanyaan yang jarang dibicarakan secara mendalam:
Apakah masyarakat
Borobudur hanya hadir sebagai penonton, penyedia jasa, penerima dampak ekonomi
sesaat, atau sesungguhnya mereka adalah pewaris utama Borobudur?
Pertanyaan ini penting karena
selama bertahun-tahun perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemegahan
perayaan, jumlah kunjungan wisatawan, dampak ekonomi, pembangunan
infrastruktur, maupun status Borobudur sebagai warisan budaya dunia.
Selama ini perhatian lebih
banyak tertuju pada bagaimana melibatkan masyarakat, tetapi jarang
mempertanyakan siapa masyarakat yang dimaksud. Dalam praktiknya, masyarakat
sering direpresentasikan melalui struktur formal seperti pemerintah desa dan
berbagai organisasi lokal.
Padahal, ketika Borobudur
dipahami sebagai ruang kebudayaan, spiritualitas, dan warisan peradaban,
masyarakat Borobudur jauh lebih luas. Selain masyarakat administratif, terdapat
pula masyarakat pewaris atau masyarakat pengetahuan: para budayawan, seniman,
peneliti, guru, tokoh adat, dan komunitas yang menjaga serta mewariskan
nilai-nilai Borobudur.
Akibatnya, selama puluhan tahun
yang banyak dipetakan adalah kawasan dan kelembagaannya, sementara masyarakat
Borobudur sebagai subjek pewarisan belum pernah dipetakan secara utuh.
Keberhasilan Borobudur pun lebih sering diukur melalui angka kunjungan dan
dampak ekonomi, padahal pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang
memahami, menjaga, dan akan mewariskan makna Borobudur kepada generasi
berikutnya?
Padahal sebuah warisan tidak
hanya membutuhkan pelestarian fisik. Sebuah warisan juga membutuhkan pewaris.
Borobudur telah berhasil
dipugar. Borobudur juga berhasil menjadi salah satu destinasi wisata dan simbol
kebudayaan Indonesia yang dikenal dunia. Namun keberhasilan pelestarian fisik
belum otomatis berarti keberhasilan pewarisan.
Di sinilah pertanyaan tentang
masyarakat Borobudur menjadi sangat penting.
Siapa sebenarnya masyarakat
Borobudur?
Siapa yang selama ini dianggap
mewakili mereka?
Siapa yang memperoleh manfaat
dari perkembangan kawasan?
Siapa yang terdampak oleh
berbagai perubahan yang terjadi?
Siapa yang menyimpan pengetahuan,
pengalaman, dan ingatan tentang Borobudur?
Dan yang lebih mendasar lagi,
siapa yang sedang dipersiapkan untuk mewarisi Borobudur pada masa depan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah
yang akan menjadi salah satu bahan refleksi dalam Focus Group Discussion (FGD)
Sekolah Kehidupan Edisi ke-18 dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur.
Kami mengundang para pemerhati
Borobudur, akademisi, pegiat budaya, mahasiswa, komunitas, pelaku pariwisata,
dan masyarakat luas untuk bersama-sama mendiskusikan masa depan pewarisan
Borobudur.
FGD Sekolah Kehidupan
Edisi ke-18
Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur
Kamis, 4 Juni 2026
Pukul 09.00 WIB
Jl. Sumbing I, Semarang
Narahubung:
0856-0056-6885
Karena pewarisan Borobudur
bukan sekadar pewarisan batu.
Pewarisan Borobudur
adalah pewarisan kesadaran.
Dan kesadaran hanya dapat diwariskan melalui
manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar