WAISAK, BOROBUDUR, PEWARISAN, DAN SIAPA MASYARAKAT? - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Senin, 01 Juni 2026

WAISAK, BOROBUDUR, PEWARISAN, DAN SIAPA MASYARAKAT?

FGD Sekolah Kehidupan Edisi ke-18 dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Redaksi Sekolah Kehidupan

Hingar-bingar perayaan Waisak 2570 BE telah usai. Lampion telah padam. Arus wisatawan berangsur meninggalkan Borobudur. Berbagai dokumentasi visual tentang keindahan malam Waisak masih beredar luas di media sosial dan menjadi kebanggaan banyak pihak.

Namun setelah keramaian berlalu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Sebagian warga masih menghitung hasil parkir yang diperoleh selama perayaan. Sebagian pedagang masih menghitung dagangan yang tersisa dan bertanya ke mana harus menjualnya setelah keramaian berakhir. Sebagian lainnya kembali pada rutinitas sehari-hari yang nyaris tidak banyak berubah.

Pemandangan seperti ini berulang hampir setiap tahun.

Waisak datang. Borobudur menjadi pusat perhatian dunia. Ribuan orang hadir. Ekonomi bergerak untuk sesaat. Lalu kehidupan kembali ke titik semula.

Sampai hari ini belum banyak data yang mampu menjelaskan berapa jumlah masyarakat di kawasan Borobudur yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pariwisata. Belum banyak pula pemahaman yang memadai mengenai bagaimana masyarakat terus beradaptasi terhadap perubahan kebijakan dan regulasi yang dapat datang sewaktu-waktu.

Bagi sebagian masyarakat yang telah  berhasil menemukan peluang baru dan mengembangkan usaha yang semakin maju. Namun pada saat yang sama, kompetisi kehidupan terus berlangsung. Setiap perubahan menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Ada yang mampu beradaptasi lebih cepat, tetapi ada pula yang hanya dapat mengikuti keadaan karena keterbatasan yang dimiliki dan berakhir “ pasrah “

Di tengah situasi itulah muncul sebuah pertanyaan yang jarang dibicarakan secara mendalam:

Apakah masyarakat Borobudur hanya hadir sebagai penonton, penyedia jasa, penerima dampak ekonomi sesaat, atau sesungguhnya mereka adalah pewaris utama Borobudur?

Pertanyaan ini penting karena selama bertahun-tahun perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemegahan perayaan, jumlah kunjungan wisatawan, dampak ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun status Borobudur sebagai warisan budaya dunia.

Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada bagaimana melibatkan masyarakat, tetapi jarang mempertanyakan siapa masyarakat yang dimaksud. Dalam praktiknya, masyarakat sering direpresentasikan melalui struktur formal seperti pemerintah desa dan berbagai organisasi lokal.

Padahal, ketika Borobudur dipahami sebagai ruang kebudayaan, spiritualitas, dan warisan peradaban, masyarakat Borobudur jauh lebih luas. Selain masyarakat administratif, terdapat pula masyarakat pewaris atau masyarakat pengetahuan: para budayawan, seniman, peneliti, guru, tokoh adat, dan komunitas yang menjaga serta mewariskan nilai-nilai Borobudur.

Akibatnya, selama puluhan tahun yang banyak dipetakan adalah kawasan dan kelembagaannya, sementara masyarakat Borobudur sebagai subjek pewarisan belum pernah dipetakan secara utuh. Keberhasilan Borobudur pun lebih sering diukur melalui angka kunjungan dan dampak ekonomi, padahal pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang memahami, menjaga, dan akan mewariskan makna Borobudur kepada generasi berikutnya?

Padahal sebuah warisan tidak hanya membutuhkan pelestarian fisik. Sebuah warisan juga membutuhkan pewaris.

Borobudur telah berhasil dipugar. Borobudur juga berhasil menjadi salah satu destinasi wisata dan simbol kebudayaan Indonesia yang dikenal dunia. Namun keberhasilan pelestarian fisik belum otomatis berarti keberhasilan pewarisan.

Di sinilah pertanyaan tentang masyarakat Borobudur menjadi sangat penting.

Siapa sebenarnya masyarakat Borobudur?

Siapa yang selama ini dianggap mewakili mereka?

Siapa yang memperoleh manfaat dari perkembangan kawasan?

Siapa yang terdampak oleh berbagai perubahan yang terjadi?

Siapa yang menyimpan pengetahuan, pengalaman, dan ingatan tentang Borobudur?

Dan yang lebih mendasar lagi, siapa yang sedang dipersiapkan untuk mewarisi Borobudur pada masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi salah satu bahan refleksi dalam Focus Group Discussion (FGD) Sekolah Kehidupan Edisi ke-18 dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur.

Kami mengundang para pemerhati Borobudur, akademisi, pegiat budaya, mahasiswa, komunitas, pelaku pariwisata, dan masyarakat luas untuk bersama-sama mendiskusikan masa depan pewarisan Borobudur.

FGD Sekolah Kehidupan Edisi ke-18
Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

 Kamis, 4 Juni 2026
 Pukul 09.00 WIB
 Jl. Sumbing I, Semarang

Narahubung: 0856-0056-6885

Karena pewarisan Borobudur bukan sekadar pewarisan batu.

Pewarisan Borobudur adalah pewarisan kesadaran.

Dan kesadaran hanya dapat diwariskan melalui manusia.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar