JAMASAN NASIP ( Menuju Puncak 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur ) - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 13 September 2026

JAMASAN NASIP ( Menuju Puncak 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur )

Meneguhkan Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa

Senin, 28 September 2026 | Pukul 08.00 WIB
Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Borobudur, Magelang

Borobudur Milik Siapa?

Candirejo, Borobudur — Sebuah ruang refleksi budaya dan batin akan kembali dihidupkan melalui kegiatan Jamasan Nasip, Senin, 28 September 2026, di Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Borobudur.

Kegiatan ini mengangkat tema:

“Borobudur Milik Siapa? Meneguhkan Pewarisan Nilai untuk Anak Bangsa.”

Jamasan Nasip menjadi bagian dari perjalanan panjang Gerakan Ruwat Rawat Borobudur dalam membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian Borobudur tidak cukup hanya menjaga batu dan bangunannya, tetapi juga harus menjaga, memahami, dan mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi penerus.

Kegiatan ini digagas dan didukung oleh para penggerak budaya, antara lain Sucoro Setrodiharjo, Wahyoko, Alamtaro, dan Sugeng, bersama para pelaku seni, budaya, tradisi, serta masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan pewarisan nilai Borobudur.

Borobudur Telah Dipugar, Tetapi Sudahkah Diwariskan?

Selama puluhan tahun, Borobudur telah menjadi pusat perhatian dunia. Berbagai program pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan telah dilakukan.

Namun, di tengah berbagai keberhasilan tersebut, masih terdapat pertanyaan mendasar yang terus mengemuka:

“Borobudur milik siapa?”

Pertanyaan tersebut bukan semata-mata mengenai kepemilikan secara hukum atau administratif. Pertanyaan ini lebih jauh menyentuh persoalan siapa yang merasa memiliki, menjaga, merawat, memahami, dan mewariskan nilai-nilai Borobudur kepada generasi berikutnya.

Borobudur memang telah berhasil dipugar. Namun, keberhasilan pemugaran belum otomatis berarti keberhasilan pewarisan.

Ketika Borobudur semakin sering dipandang sebagai aset ekonomi, destinasi wisata, atau objek pembangunan, terdapat risiko bahwa nilai-nilai kebijaksanaan, spiritualitas, kemanusiaan, pengetahuan, dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya justru semakin jauh dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, Jamasan Nasip ditempatkan sebagai ruang refleksi budaya dan batin untuk melihat kembali hubungan manusia dengan warisan leluhur.

Jamasan bukan sekadar membersihkan pusaka. Jamasan adalah simbol membersihkan cara pandang, mengingat jati diri, membaca perjalanan sejarah, dan meneguhkan kembali tanggung jawab terhadap warisan yang dititipkan kepada generasi sekarang.

Masyarakat sebagai Pancer Pewarisan

Dalam pandangan Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, masyarakat tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai penerima dampak, penonton, atau penerima manfaat pembangunan.

Masyarakat adalah bagian penting dari proses pewarisan.

Dalam filosofi Kiblat Papat Limo Pancer, pancer dapat dimaknai sebagai titik tengah yang menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, kebudayaan, spiritualitas, dan ruang kehidupan.

Karena itu, pewarisan Borobudur membutuhkan lebih dari sekadar pengelolaan. Ia membutuhkan kesadaran, keterlibatan, rasa memiliki, dan tanggung jawab antargenerasi.

Di sinilah Jamasan Nasip menemukan maknanya: menghidupkan kembali ruang-ruang belajar kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.

Air Suci sebagai Simbol Pewarisan

Salah satu rangkaian penting Jamasan Nasip adalah serah terima air suci, yang kemudian dilanjutkan dengan kirab air suci oleh Bregada Ugi Pitutur Jawi.

Air tidak hanya dimaknai sebagai benda dalam sebuah rangkaian ritual, tetapi juga sebagai simbol kehidupan, kesucian niat, penyucian batin, dan kesinambungan.

Air yang diserahkan dan dikirab menjadi simbol bahwa nilai-nilai kehidupan harus terus mengalir dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Yang hendak diwariskan bukan semata-mata benda, tetapi pitutur, pengalaman, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kesadaran untuk merawat kehidupan.

Rangkaian Jamasan Nasip

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut akan diisi dengan beberapa rangkaian kegiatan, yaitu:

  1. Jamasan Nasip
  2. Serah terima air suci Jamasan Nasip
  3. Kirab air suci oleh Bregada Ugi Pitutur Jawi
  4. Pengobatan gratis/terapi
  5. Sarasehan budaya – Bincang Sekolah Kehidupan
  6. Doa dan penutup

Rangkaian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, pengalaman masyarakat, pengetahuan, spiritualitas, dan gagasan tentang masa depan Borobudur.

Menuju 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur

Jamasan Nasip juga menjadi bagian dari perjalanan menuju Puncak 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur.

Selama 24 tahun, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur berupaya membangun kesadaran bahwa masyarakat dapat memberikan daya dukung terhadap pelestarian Borobudur melalui semangat handarbeni: merasa memiliki, menjaga, merawat, dan mewariskan.

Bagi gerakan ini, pelestarian tidak semata-mata berarti mempertahankan benda atau bangunan agar tetap berdiri.

Pelestarian juga berarti memastikan agar nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Borobudur Tidak Cukup Dipugar

Jamasan Nasip hendak meneguhkan kembali tiga pesan sederhana:

Borobudur tidak cukup hanya dipugar. Borobudur harus diwariskan.

Borobudur tidak hanya membutuhkan pengelola, tetapi juga pewaris.

Borobudur bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi amanat untuk masa depan.

Karena itu, pertanyaan “Borobudur milik siapa?” tidak harus dijawab melalui perebutan klaim kepemilikan.

Jawabannya justru terletak pada tanggung jawab:

Borobudur adalah warisan bersama bagi siapa pun yang mau merawat, menjaga, mempelajari, menghormati, dan mewariskan nilai-nilainya kepada generasi penerus bangsa.

Dari Monumen Batu Menjadi Pustaka Kehidupan

Melalui Jamasan Nasip, para penggerak kegiatan ingin mengingatkan kembali bahwa Borobudur bukan hanya sebuah monumen batu.

Borobudur adalah pustaka kehidupan.

Ia menyimpan pengetahuan tentang manusia, alam, kehidupan, kebijaksanaan, perjalanan batin, dan hubungan antarmanusia.

Karena itu, tugas generasi sekarang bukan hanya memastikan Borobudur tetap berdiri, tetapi memastikan nilai-nilai yang dikandungnya tetap hidup dalam kehidupan masyarakat.

Keberhasilan pelestarian pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari seberapa kokoh batu-batu Borobudur berdiri, tetapi juga dari seberapa jauh nilai-nilai Borobudur mampu dipahami dan diwariskan kepada anak bangsa.

Jamasan Nasip adalah ikhtiar kecil untuk mengingat kembali amanat besar tersebut.

Merawat Borobudur berarti merawat nilai.

Mewariskan Borobudur berarti mewariskan kehidupan.

Dan pewarisan Borobudur adalah tanggung jawab kita bersama kepada generasi yang akan datang.

Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Borobudur
28 September 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar