Meneguhkan Pewarisan Borobudur
untuk Anak Bangsa
Senin, 28 September 2026 | Pukul 08.00 WIB
Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Borobudur, Magelang
Borobudur Milik Siapa?
Candirejo, Borobudur — Sebuah ruang refleksi budaya dan
batin akan kembali dihidupkan melalui kegiatan Jamasan Nasip, Senin, 28
September 2026, di Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Borobudur.
Kegiatan ini mengangkat tema:
“Borobudur Milik Siapa? Meneguhkan Pewarisan Nilai untuk Anak Bangsa.”
Jamasan Nasip menjadi bagian dari perjalanan panjang Gerakan Ruwat
Rawat Borobudur dalam membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian
Borobudur tidak cukup hanya menjaga batu dan bangunannya, tetapi juga harus
menjaga, memahami, dan mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
kepada generasi penerus.
Kegiatan ini digagas dan didukung oleh para penggerak budaya, antara
lain Sucoro Setrodiharjo, Wahyoko, Alamtaro, dan Sugeng, bersama para
pelaku seni, budaya, tradisi, serta masyarakat yang memiliki kepedulian
terhadap keberlanjutan pewarisan nilai Borobudur.
Borobudur Telah Dipugar, Tetapi
Sudahkah Diwariskan?
Selama puluhan tahun, Borobudur telah menjadi pusat perhatian dunia.
Berbagai program pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan telah dilakukan.
Namun, di tengah berbagai keberhasilan tersebut, masih terdapat
pertanyaan mendasar yang terus mengemuka:
“Borobudur milik siapa?”
Pertanyaan tersebut bukan semata-mata mengenai kepemilikan secara hukum
atau administratif. Pertanyaan ini lebih jauh menyentuh persoalan siapa yang
merasa memiliki, menjaga, merawat, memahami, dan mewariskan nilai-nilai
Borobudur kepada generasi berikutnya.
Borobudur memang telah berhasil dipugar. Namun, keberhasilan pemugaran
belum otomatis berarti keberhasilan pewarisan.
Ketika Borobudur semakin sering dipandang sebagai aset ekonomi,
destinasi wisata, atau objek pembangunan, terdapat risiko bahwa nilai-nilai
kebijaksanaan, spiritualitas, kemanusiaan, pengetahuan, dan kebudayaan yang
terkandung di dalamnya justru semakin jauh dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, Jamasan Nasip ditempatkan sebagai ruang refleksi
budaya dan batin untuk melihat kembali hubungan manusia dengan warisan leluhur.
Jamasan bukan sekadar membersihkan pusaka. Jamasan adalah simbol membersihkan
cara pandang, mengingat jati diri, membaca perjalanan sejarah, dan meneguhkan
kembali tanggung jawab terhadap warisan yang dititipkan kepada generasi
sekarang.
Masyarakat sebagai Pancer
Pewarisan
Dalam pandangan Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, masyarakat tidak
semestinya hanya ditempatkan sebagai penerima dampak, penonton, atau penerima
manfaat pembangunan.
Masyarakat adalah bagian penting dari proses pewarisan.
Dalam filosofi Kiblat Papat Limo Pancer, pancer dapat dimaknai
sebagai titik tengah yang menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam,
kebudayaan, spiritualitas, dan ruang kehidupan.
Karena itu, pewarisan Borobudur membutuhkan lebih dari sekadar
pengelolaan. Ia membutuhkan kesadaran, keterlibatan, rasa memiliki, dan
tanggung jawab antargenerasi.
Di sinilah Jamasan Nasip menemukan maknanya: menghidupkan kembali
ruang-ruang belajar kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.
Air Suci sebagai Simbol Pewarisan
Salah satu rangkaian penting Jamasan Nasip adalah serah terima air
suci, yang kemudian dilanjutkan dengan kirab air suci oleh Bregada Ugi
Pitutur Jawi.
Air tidak hanya dimaknai sebagai benda dalam sebuah rangkaian ritual,
tetapi juga sebagai simbol kehidupan, kesucian niat, penyucian batin, dan
kesinambungan.
Air yang diserahkan dan dikirab menjadi simbol bahwa nilai-nilai
kehidupan harus terus mengalir dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Yang hendak diwariskan bukan semata-mata benda, tetapi pitutur,
pengalaman, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kesadaran untuk merawat
kehidupan.
Rangkaian Jamasan Nasip
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut akan diisi dengan
beberapa rangkaian kegiatan, yaitu:
- Jamasan
Nasip
- Serah
terima air suci Jamasan Nasip
- Kirab
air suci oleh Bregada Ugi Pitutur Jawi
- Pengobatan
gratis/terapi
- Sarasehan
budaya – Bincang Sekolah Kehidupan
- Doa
dan penutup
Rangkaian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan
seremonial, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, pengalaman
masyarakat, pengetahuan, spiritualitas, dan gagasan tentang masa depan
Borobudur.
Menuju 24 Tahun Gerakan Ruwat
Rawat Borobudur
Jamasan Nasip juga menjadi bagian dari perjalanan menuju Puncak 24
Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur.
Selama 24 tahun, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur berupaya membangun
kesadaran bahwa masyarakat dapat memberikan daya dukung terhadap pelestarian
Borobudur melalui semangat handarbeni: merasa memiliki, menjaga, merawat,
dan mewariskan.
Bagi gerakan ini, pelestarian tidak semata-mata berarti mempertahankan
benda atau bangunan agar tetap berdiri.
Pelestarian juga berarti memastikan agar nilai yang terkandung di
dalamnya tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Borobudur Tidak Cukup Dipugar
Jamasan Nasip hendak meneguhkan kembali tiga pesan sederhana:
Borobudur tidak cukup hanya dipugar. Borobudur harus diwariskan.
Borobudur tidak hanya membutuhkan pengelola, tetapi juga pewaris.
Borobudur bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi amanat untuk masa
depan.
Karena itu, pertanyaan “Borobudur milik siapa?” tidak harus
dijawab melalui perebutan klaim kepemilikan.
Jawabannya justru terletak pada tanggung jawab:
Borobudur adalah warisan bersama bagi siapa pun yang mau merawat, menjaga,
mempelajari, menghormati, dan mewariskan nilai-nilainya kepada generasi penerus
bangsa.
Dari Monumen Batu Menjadi Pustaka
Kehidupan
Melalui Jamasan Nasip, para penggerak kegiatan ingin mengingatkan
kembali bahwa Borobudur bukan hanya sebuah monumen batu.
Borobudur adalah pustaka kehidupan.
Ia menyimpan pengetahuan tentang manusia, alam, kehidupan,
kebijaksanaan, perjalanan batin, dan hubungan antarmanusia.
Karena itu, tugas generasi sekarang bukan hanya memastikan Borobudur
tetap berdiri, tetapi memastikan nilai-nilai yang dikandungnya tetap hidup
dalam kehidupan masyarakat.
Keberhasilan pelestarian pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari
seberapa kokoh batu-batu Borobudur berdiri, tetapi juga dari seberapa jauh
nilai-nilai Borobudur mampu dipahami dan diwariskan kepada anak bangsa.
Jamasan Nasip adalah ikhtiar kecil untuk mengingat kembali amanat besar
tersebut.
Merawat Borobudur berarti merawat nilai.
Mewariskan Borobudur berarti mewariskan kehidupan.
Dan pewarisan Borobudur adalah tanggung jawab kita bersama kepada
generasi yang akan datang.
Dusun Kaliduren, Desa Candirejo, Borobudur
28 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar