Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur – Magelang : Menjelang
dan sesudah perayaan Hari Raya Waisak pada 31 Mei lalu, kawasan Candi Borobudur
kembali menjadi pusat perhatian dunia. Ribuan umat Buddha, wisatawan domestik, hingga
mancanegara memadati kawasan warisan dunia tersebut. Kehadiran mereka tidak
hanya menandai besarnya daya tarik Borobudur sebagai destinasi budaya dan
spiritual, tetapi juga menegaskan bahwa Borobudur tetap hidup sebagai ruang
peradaban yang menyatukan nilai spiritualitas, kebudayaan, dan denyut ekonomi
masyarakat.
Bagi
masyarakat yang tinggal dan tumbuh di sekitar Borobudur, momentum Waisak bukan
sekadar agenda tahunan. Ia adalah pengingat tentang tanggung jawab besar untuk
menjaga, merawat, dan mengawal keberlanjutan nilai-nilai luhur yang diwariskan
leluhur.
Di tengah
usia yang kian menua menjelang 75 tahun pada September mendatang Sucoro Setrodiharjo
tetap semangat mendampingi panitia yang dimotori oleh, Sapto Nugroho dan Daniel Hakiki untuk terus melayani, mencatat,
dan menjaga perjalanan Borobudur justru tidak pernah surut. Rasa lelah seolah
sirna ketika melihat Borobudur terus menjadi ruang hidup bersama, tempat
spiritualitas, kebudayaan, dan harapan masyarakat bertemu.
Kesadaran
inilah yang kemudian melahirkan kerja-kerja dokumentasi berkelanjutan. Berbagai
dinamika sosial, kebudayaan, hingga isu pengelolaan Borobudur selama ini terus
dicatat dan didokumentasikan melalui berbagai ruang dialog seperti Bincang Kehidupan, Kompetisi Opini, hingga
penyelenggaraan Kongres Borobudur.
Berbagai
hasil pemikiran, rekam jejak sejarah, dan catatan lapangan tersebut kemudian
dirangkum menjadi buku serta dipublikasikan melalui media sosial sebagai upaya
membangun kesadaran bersama tentang pentingnya masa depan Borobudur.
Agenda Focus Group Discussion (FGD)
Sebagai
bagian dari ikhtiar panjang tersebut, Sucoro Setrodiharjo bersama Daniel Hakiki
selaku inisiator dan panitia akan kembali menggelar ruang dialog strategis
melalui kegiatan Focus Group
Discussion (FGD) Isu Strategis Pengelolaan Borobudur yang akan dilaksanakan
pada:
·
Hari/Tanggal: Rabu, 4 Juni 2026 Jam 09.00 sd 15.00 WIB
·
Tempat: Jalan Sumbing Nomor 1, Semarang
·
Kolaborasi: Yayasan Lestra GP (Lembaga Strategi Gerak
Pembangunan)
Kegiatan
ini diselenggarakan bersama Yayasan Lestra GP, sebuah organisasi masyarakat sipil
yang aktif mendorong penguatan demokrasi, pendidikan kewarganegaraan, serta
kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah penting
untuk memperluas perspektif pengelolaan Borobudur, tidak hanya dari aspek
konservasi fisik semata, tetapi juga dalam konteks sosial, kebudayaan,
spiritual, pendidikan, hingga tata kelola pembangunan yang berkeadilan.
Narasumber dan Tokoh yang Hadir
Diskusi
strategis tersebut rencananya akan menghadirkan sejumlah akademisi, pemikir,
dan tokoh yang memiliki perhatian serius terhadap isu kebudayaan dan
pengelolaan warisan dunia, antara lain:
·
Prof. Baiquni (Universitas Gadjah Mada)
·
Prof. Totok Roesmanto (UIN Walisongo Semarang)
·
Prof. Nurdin HK (Universitas Diponegoro)
·
Romo Toni Yunus (Pemerhati Sastrajendra)
FGD ini
juga direncanakan akan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian
dari upaya membangun ruang dialog antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan
para pemangku kepentingan terkait masa depan Borobudur.
Misi dan Harapan
Diskusi ini
bertujuan menghimpun berbagai pandangan, masukan, dan rekomendasi strategis terkait
persoalan yang berkembang di Borobudur. Isu yang akan dibahas mencakup
pelestarian kebudayaan, tata kelola pariwisata berkelanjutan, perlindungan
nilai spiritual kawasan, hingga penguatan kesejahteraan masyarakat yang selama
turun-temurun hidup berdampingan dan menjaga keberadaan Borobudur.
Lebih dari
itu, forum yang dikawal oleh Sucoro
Setrodiharjo dan Daniel
Hakiki ini diharapkan menjadi ruang bertemunya suara masyarakat, pengalaman
lapangan, hasil dokumentasi panjang, serta perspektif akademik dalam satu
semangat bersama: menjaga Borobudur agar tidak sekadar dipahami sebagai
tumpukan batu bersejarah, melainkan sebagai ruang kehidupan yang terus diruwat
dan dirawat demi keberlanjutan generasi mendatang.
Borobudur
bukan hanya warisan masa lalu. Ia adalah napas kehidupan yang terus bergerak
bersama masyarakatnya. Karena itu, ikhtiar untuk mencatat, merawat, dan
mengawal masa depannya akan terus dilakukan selama semangat dan harapan masih
menyala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar