Mengawal Pewarisan Borobudur Melalui Diskusi Strategis Bersama Lestra GP Semarang - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 27 Mei 2026

Mengawal Pewarisan Borobudur Melalui Diskusi Strategis Bersama Lestra GP Semarang


 

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur – Magelang : Menjelang dan sesudah perayaan Hari Raya Waisak pada 31 Mei lalu, kawasan Candi Borobudur kembali menjadi pusat perhatian dunia. Ribuan umat Buddha, wisatawan domestik, hingga mancanegara memadati kawasan warisan dunia tersebut. Kehadiran mereka tidak hanya menandai besarnya daya tarik Borobudur sebagai destinasi budaya dan spiritual, tetapi juga menegaskan bahwa Borobudur tetap hidup sebagai ruang peradaban yang menyatukan nilai spiritualitas, kebudayaan, dan denyut ekonomi masyarakat.

Bagi masyarakat yang tinggal dan tumbuh di sekitar Borobudur, momentum Waisak bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pengingat tentang tanggung jawab besar untuk menjaga, merawat, dan mengawal keberlanjutan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.

Di tengah usia yang kian menua menjelang 75 tahun pada September mendatang Sucoro Setrodiharjo tetap semangat mendampingi panitia yang dimotori oleh, Sapto Nugroho dan  Daniel Hakiki untuk terus melayani, mencatat, dan menjaga perjalanan Borobudur justru tidak pernah surut. Rasa lelah seolah sirna ketika melihat Borobudur terus menjadi ruang hidup bersama, tempat spiritualitas, kebudayaan, dan harapan masyarakat bertemu.

Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan kerja-kerja dokumentasi berkelanjutan. Berbagai dinamika sosial, kebudayaan, hingga isu pengelolaan Borobudur selama ini terus dicatat dan didokumentasikan melalui berbagai ruang dialog seperti Bincang Kehidupan, Kompetisi Opini, hingga penyelenggaraan Kongres Borobudur.

Berbagai hasil pemikiran, rekam jejak sejarah, dan catatan lapangan tersebut kemudian dirangkum menjadi buku serta dipublikasikan melalui media sosial sebagai upaya membangun kesadaran bersama tentang pentingnya masa depan Borobudur.

Agenda Focus Group Discussion (FGD)

Sebagai bagian dari ikhtiar panjang tersebut, Sucoro Setrodiharjo bersama Daniel Hakiki selaku inisiator dan panitia akan kembali menggelar ruang dialog strategis melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Isu Strategis Pengelolaan Borobudur yang akan dilaksanakan pada:

·         Hari/Tanggal: Rabu, 4 Juni 2026 Jam 09.00 sd 15.00 WIB

·         Tempat: Jalan Sumbing Nomor 1, Semarang

·         Kolaborasi: Yayasan Lestra GP (Lembaga Strategi Gerak Pembangunan)

Kegiatan ini diselenggarakan bersama Yayasan Lestra GP, sebuah organisasi masyarakat sipil yang aktif mendorong penguatan demokrasi, pendidikan kewarganegaraan, serta kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah penting untuk memperluas perspektif pengelolaan Borobudur, tidak hanya dari aspek konservasi fisik semata, tetapi juga dalam konteks sosial, kebudayaan, spiritual, pendidikan, hingga tata kelola pembangunan yang berkeadilan.

Narasumber dan Tokoh yang Hadir

Diskusi strategis tersebut rencananya akan menghadirkan sejumlah akademisi, pemikir, dan tokoh yang memiliki perhatian serius terhadap isu kebudayaan dan pengelolaan warisan dunia, antara lain:

·         Prof. Baiquni (Universitas Gadjah Mada)

·         Prof. Totok Roesmanto (UIN Walisongo Semarang)

·         Prof. Nurdin HK (Universitas Diponegoro)

·         Romo Toni Yunus (Pemerhati Sastrajendra)

FGD ini juga direncanakan akan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya membangun ruang dialog antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan para pemangku kepentingan terkait masa depan Borobudur.

Misi dan Harapan

Diskusi ini bertujuan menghimpun berbagai pandangan, masukan, dan rekomendasi strategis terkait persoalan yang berkembang di Borobudur. Isu yang akan dibahas mencakup pelestarian kebudayaan, tata kelola pariwisata berkelanjutan, perlindungan nilai spiritual kawasan, hingga penguatan kesejahteraan masyarakat yang selama turun-temurun hidup berdampingan dan menjaga keberadaan Borobudur.

Lebih dari itu, forum yang dikawal oleh Sucoro Setrodiharjo dan Daniel Hakiki ini diharapkan menjadi ruang bertemunya suara masyarakat, pengalaman lapangan, hasil dokumentasi panjang, serta perspektif akademik dalam satu semangat bersama: menjaga Borobudur agar tidak sekadar dipahami sebagai tumpukan batu bersejarah, melainkan sebagai ruang kehidupan yang terus diruwat dan dirawat demi keberlanjutan generasi mendatang.

Borobudur bukan hanya warisan masa lalu. Ia adalah napas kehidupan yang terus bergerak bersama masyarakatnya. Karena itu, ikhtiar untuk mencatat, merawat, dan mengawal masa depannya akan terus dilakukan selama semangat dan harapan masih menyala.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar