BRIN Bersilaturahmi ke Seloprajo dan Dusun Kukusan: Mengenal Tradisi, Sejarah, dan Potensi Kopi Lereng Merbabu - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 11 Juni 2026

BRIN Bersilaturahmi ke Seloprajo dan Dusun Kukusan: Mengenal Tradisi, Sejarah, dan Potensi Kopi Lereng Merbabu

Laporan  Novita Siswayanti Redaksi Sekolah Kehidupan

Magelang – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kunjungan silaturahmi tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ke Kelompok Tani Maju Bersama di Desa Seloprajo, Kecamatan Ngablak, serta Dusun Kukusan, Desa Tirto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat, sejarah desa, tradisi keagamaan, serta potensi unggulan berupa kopi yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan warga lereng Gunung Merbabu.

Dalam pertemuan tersebut, warga memperkenalkan berbagai jenis kopi yang dibudidayakan oleh Kelompok Tani Maju Bersama di wilayah Seloprajo dan Dusun Kukusan. Mulai dari kopi arabika varietas Ateng Super hingga robusta lokal yang dikenal masyarakat dengan sebutan kopi soyolan atau kopi lancuran. Warga menjelaskan bahwa tanaman kopi arabika umumnya memiliki masa produktif sekitar lima tahun sebelum memerlukan peremajaan untuk menjaga kualitas dan hasil panen.

Para tamu juga diajak mengenal kebiasaan masyarakat dalam menikmati kopi. Sebagian penikmat kopi di desa lebih menyukai kopi tubruk yang diseduh bersama ampasnya tanpa tambahan gula. Tidak sedikit yang mengaku mampu menikmati beberapa cangkir kopi dalam sehari sebagai bagian dari tradisi keseharian masyarakat pegunungan.

Selain mengenal budaya minum kopi, peserta kunjungan juga memperoleh penjelasan mengenai proses budidaya dan pengolahan kopi yang dilakukan petani. Buah kopi dipetik saat berwarna merah sebagai tanda kematangan optimal. Setelah dipanen, kopi dijemur, dikupas kulitnya, dipisahkan cangkangnya, kemudian disangrai, ditumbuk, dan diseduh menjadi minuman siap konsumsi.

Warga menjelaskan bahwa pemilihan buah kopi yang tepat sangat menentukan kualitas cita rasa. Buah yang dipetik dalam kondisi merah sempurna akan menghasilkan karakter rasa yang lebih baik. Sebaliknya, buah yang belum matang atau terlalu matang dapat memengaruhi mutu hasil akhir. Dalam proses pascapanen, petani juga menerapkan tahapan pencucian, pemilahan, fermentasi, dan pengeringan untuk menjaga kualitas biji kopi.

Perhatian terhadap kualitas juga terlihat pada proses sortir atau handpick yang dilakukan secara manual. Biji kopi dipilih berdasarkan tingkat kematangan dan kualitasnya. Biji yang memenuhi standar akan diolah lebih lanjut, sementara yang kualitasnya lebih rendah dipisahkan untuk grade yang berbeda.

Selain kopi, masyarakat juga memperkenalkan potensi pohon aren yang tumbuh di wilayah setempat. Nira aren diolah menjadi gula aren yang kemudian menjadi pasangan alami bagi produk kopi lokal. Kombinasi kopi dan gula aren kini menjadi salah satu produk khas yang diperkenalkan kepada para tamu sebagai bagian dari identitas ekonomi masyarakat desa.

Kunjungan tersebut juga mengungkap sejarah dan kehidupan sosial masyarakat. Warga menceritakan keberadaan Masjid Al-Muttaqin yang dibangun secara swadaya masyarakat pada tahun 1995. Semangat gotong royong masih terpelihara hingga kini melalui berbagai tradisi masyarakat, seperti ambengan, saparan, selapanan, serta mujahadahan rutin yang dilaksanakan setiap Selasa Kliwon.

Melalui kunjungan ini, BRIN tidak hanya melihat potensi ekonomi desa melalui komoditas kopi, tetapi juga menyaksikan bagaimana pengetahuan lokal, tradisi sosial, dan semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat. Potensi kopi yang dikelola secara turun-temurun berpadu dengan kekayaan budaya lokal menjadi modal penting bagi pengembangan desa sekaligus pelestarian warisan pengetahuan masyarakat lereng Merbabu.

Silaturahmi tersebut menjadi pengingat bahwa riset dan inovasi tidak hanya tumbuh di laboratorium, tetapi juga dapat ditemukan dalam pengalaman hidup masyarakat yang selama bertahun-tahun menjaga tradisi, mengolah alam, dan merawat pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kunjungan ini sekaligus menunjukkan pentingnya membangun jembatan antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan pembangunan pedesaan, pengalaman para petani kopi, pengolah gula aren, dan pelaku tradisi lokal menjadi sumber pembelajaran yang berharga untuk memahami hubungan antara manusia, alam, dan kebudayaan secara lebih utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar