Laporan Novita Siswayanti Redaksi Sekolah Kehidupan
Magelang – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kunjungan silaturahmi
tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ke Kelompok Tani Maju Bersama
di Desa Seloprajo, Kecamatan Ngablak, serta Dusun Kukusan, Desa Tirto,
Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk
mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat, sejarah desa, tradisi keagamaan,
serta potensi unggulan berupa kopi yang selama ini menjadi salah satu sumber
penghidupan warga lereng Gunung Merbabu.
Dalam pertemuan
tersebut, warga memperkenalkan berbagai jenis kopi yang dibudidayakan oleh
Kelompok Tani Maju Bersama di wilayah Seloprajo dan Dusun Kukusan. Mulai dari
kopi arabika varietas Ateng Super hingga robusta lokal yang dikenal masyarakat
dengan sebutan kopi soyolan atau kopi lancuran. Warga menjelaskan bahwa tanaman
kopi arabika umumnya memiliki masa produktif sekitar lima tahun sebelum
memerlukan peremajaan untuk menjaga kualitas dan hasil panen.
Para tamu juga
diajak mengenal kebiasaan masyarakat dalam menikmati kopi. Sebagian penikmat
kopi di desa lebih menyukai kopi tubruk yang diseduh bersama ampasnya tanpa
tambahan gula. Tidak sedikit yang mengaku mampu menikmati beberapa cangkir kopi
dalam sehari sebagai bagian dari tradisi keseharian masyarakat pegunungan.
Selain mengenal
budaya minum kopi, peserta kunjungan juga memperoleh penjelasan mengenai proses
budidaya dan pengolahan kopi yang dilakukan petani. Buah kopi dipetik saat
berwarna merah sebagai tanda kematangan optimal. Setelah dipanen, kopi dijemur,
dikupas kulitnya, dipisahkan cangkangnya, kemudian disangrai, ditumbuk, dan
diseduh menjadi minuman siap konsumsi.
Warga
menjelaskan bahwa pemilihan buah kopi yang tepat sangat menentukan kualitas
cita rasa. Buah yang dipetik dalam kondisi merah sempurna akan menghasilkan
karakter rasa yang lebih baik. Sebaliknya, buah yang belum matang atau terlalu
matang dapat memengaruhi mutu hasil akhir. Dalam proses pascapanen, petani juga
menerapkan tahapan pencucian, pemilahan, fermentasi, dan pengeringan untuk
menjaga kualitas biji kopi.
Perhatian
terhadap kualitas juga terlihat pada proses sortir atau handpick yang
dilakukan secara manual. Biji kopi dipilih berdasarkan tingkat kematangan dan
kualitasnya. Biji yang memenuhi standar akan diolah lebih lanjut, sementara
yang kualitasnya lebih rendah dipisahkan untuk grade yang berbeda.
Selain kopi,
masyarakat juga memperkenalkan potensi pohon aren yang tumbuh di wilayah
setempat. Nira aren diolah menjadi gula aren yang kemudian menjadi pasangan
alami bagi produk kopi lokal. Kombinasi kopi dan gula aren kini menjadi salah
satu produk khas yang diperkenalkan kepada para tamu sebagai bagian dari
identitas ekonomi masyarakat desa.
Kunjungan
tersebut juga mengungkap sejarah dan kehidupan sosial masyarakat. Warga
menceritakan keberadaan Masjid Al-Muttaqin yang dibangun secara swadaya
masyarakat pada tahun 1995. Semangat gotong royong masih terpelihara hingga
kini melalui berbagai tradisi masyarakat, seperti ambengan, saparan, selapanan,
serta mujahadahan rutin yang dilaksanakan setiap Selasa Kliwon.
Melalui
kunjungan ini, BRIN tidak hanya melihat potensi ekonomi desa melalui komoditas
kopi, tetapi juga menyaksikan bagaimana pengetahuan lokal, tradisi sosial, dan
semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat. Potensi kopi yang
dikelola secara turun-temurun berpadu dengan kekayaan budaya lokal menjadi
modal penting bagi pengembangan desa sekaligus pelestarian warisan pengetahuan
masyarakat lereng Merbabu.
Silaturahmi
tersebut menjadi pengingat bahwa riset dan inovasi tidak hanya tumbuh di
laboratorium, tetapi juga dapat ditemukan dalam pengalaman hidup masyarakat
yang selama bertahun-tahun menjaga tradisi, mengolah alam, dan merawat
pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kunjungan ini
sekaligus menunjukkan pentingnya membangun jembatan antara pengetahuan ilmiah
dan pengetahuan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan pembangunan pedesaan,
pengalaman para petani kopi, pengolah gula aren, dan pelaku tradisi lokal
menjadi sumber pembelajaran yang berharga untuk memahami hubungan antara
manusia, alam, dan kebudayaan secara lebih utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar