NASIP PEDAGANG YANG DITUNTUT BERADAPTASI UNTUK BERTAHAN HIDUP Kisah Pak Ardi, Mas Sutris, dan Pak Nanto - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Jumat, 17 Juli 2026

NASIP PEDAGANG YANG DITUNTUT BERADAPTASI UNTUK BERTAHAN HIDUP Kisah Pak Ardi, Mas Sutris, dan Pak Nanto

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur -Magelang Sabtu 18 Juli 2026— Di tengah berbagai kebijakan penataan kawasan wisata Borobudur, ada kisah-kisah kecil yang jarang muncul dalam laporan resmi. Kisah itu dialami Pak Ardi, Mas Sutris, dan Pak Nanto, warga Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, yang dahulu menggantungkan hidup dari berdagang asongan di kawasan wisata Borobudur.

Ketika ruang usaha mereka semakin menyempit dan pendapatan dari berdagang tidak lagi dapat diandalkan, ketiganya memilih jalan yang tersedia: menjadi buruh bangunan. Bukan karena pekerjaan itu lebih menjanjikan, melainkan karena keluarga mereka harus tetap makan dan kehidupan harus terus berjalan.

Sebagai buruh bangunan, mereka menerima upah sekitar Rp100.000 per hari. Upah tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang tidak kecil. Di rumah mereka menanggung keluarga dengan jumlah anggota antara enam hingga delapan jiwa. Dari uang itulah kebutuhan beras, lauk-pauk, biaya sekolah anak, listrik, kesehatan, hingga kebutuhan sosial kemasyarakatan harus dipenuhi.

Bagi sebagian orang, angka Rp100.000 mungkin terlihat cukup. Namun bagi keluarga besar yang hidup di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, jumlah itu sering kali hanya cukup untuk bertahan dari hari ke hari. Apalagi pekerjaan buruh bangunan tidak selalu tersedia setiap hari. Ketika proyek berhenti atau pekerjaan sepi, penghasilan pun ikut terhenti.

Ironisnya, ketiga warga tersebut pernah menjadi bagian dari denyut ekonomi pariwisata Borobudur. Mereka melayani wisatawan, menjual berbagai kebutuhan dan cenderamata, serta ikut merasakan ramainya kunjungan wisata. Kini, ketika pariwisata mengalami perubahan dan berbagai kebijakan baru diterapkan, mereka harus mencari cara lain untuk menyambung hidup.

Kisah Pak Ardi, Mas Sutris, dan Pak Nanto menunjukkan bahwa adaptasi bukan sekadar slogan. Bagi masyarakat kecil, adaptasi berarti menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, berganti profesi di usia yang tidak lagi muda, dan bekerja keras dengan penghasilan terbatas demi mempertahankan kehidupan keluarga.

Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap perubahan yang terjadi di Borobudur juga memberi ruang bagi warga sekitar untuk hidup layak. Sebab di balik megahnya Borobudur sebagai destinasi wisata dunia, masih ada keluarga-keluarga yang setiap hari berjuang menghitung apakah penghasilan seratus ribu rupiah cukup untuk menghidupi enam hingga delapan anggota keluarga.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar