Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur
-Magelang Sabtu 18 Juli 2026— Di tengah berbagai kebijakan penataan kawasan
wisata Borobudur, ada kisah-kisah kecil yang jarang muncul dalam laporan resmi.
Kisah itu dialami Pak Ardi, Mas Sutris, dan Pak Nanto, warga Desa Candirejo,
Kecamatan Borobudur, yang dahulu menggantungkan hidup dari berdagang asongan di
kawasan wisata Borobudur.
Ketika ruang
usaha mereka semakin menyempit dan pendapatan dari berdagang tidak lagi dapat
diandalkan, ketiganya memilih jalan yang tersedia: menjadi buruh bangunan.
Bukan karena pekerjaan itu lebih menjanjikan, melainkan karena keluarga mereka
harus tetap makan dan kehidupan harus terus berjalan.
Sebagai
buruh bangunan, mereka menerima upah sekitar Rp100.000 per hari. Upah tersebut
harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang tidak kecil. Di
rumah mereka menanggung keluarga dengan jumlah anggota antara enam hingga
delapan jiwa. Dari uang itulah kebutuhan beras, lauk-pauk, biaya sekolah anak,
listrik, kesehatan, hingga kebutuhan sosial kemasyarakatan harus dipenuhi.
Bagi
sebagian orang, angka Rp100.000 mungkin terlihat cukup. Namun bagi keluarga
besar yang hidup di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, jumlah itu sering
kali hanya cukup untuk bertahan dari hari ke hari. Apalagi pekerjaan buruh
bangunan tidak selalu tersedia setiap hari. Ketika proyek berhenti atau
pekerjaan sepi, penghasilan pun ikut terhenti.
Ironisnya,
ketiga warga tersebut pernah menjadi bagian dari denyut ekonomi pariwisata
Borobudur. Mereka melayani wisatawan, menjual berbagai kebutuhan dan
cenderamata, serta ikut merasakan ramainya kunjungan wisata. Kini, ketika
pariwisata mengalami perubahan dan berbagai kebijakan baru diterapkan, mereka
harus mencari cara lain untuk menyambung hidup.
Kisah Pak
Ardi, Mas Sutris, dan Pak Nanto menunjukkan bahwa adaptasi bukan sekadar
slogan. Bagi masyarakat kecil, adaptasi berarti menerima kenyataan pahit
kehilangan pekerjaan, berganti profesi di usia yang tidak lagi muda, dan
bekerja keras dengan penghasilan terbatas demi mempertahankan kehidupan
keluarga.
Mereka tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya berharap perubahan yang terjadi di Borobudur juga memberi ruang
bagi warga sekitar untuk hidup layak. Sebab di balik megahnya Borobudur sebagai
destinasi wisata dunia, masih ada keluarga-keluarga yang setiap hari berjuang
menghitung apakah penghasilan seratus ribu rupiah cukup untuk menghidupi enam
hingga delapan anggota keluarga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar