Sepinya Pariwisata Borobudur Menjalar hingga Mata Rantai Ekonomi Masyarakat - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 11 Juni 2026

Sepinya Pariwisata Borobudur Menjalar hingga Mata Rantai Ekonomi Masyarakat

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur, Magelang, 11 Juni 2026 – Sepinya kunjungan wisatawan ke kawasan Borobudur kini tidak hanya terlihat dari berkurangnya keramaian di sekitar candi, tetapi juga mulai dirasakan hingga ke lapisan paling bawah mata rantai ekonomi masyarakat yang selama puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada pariwisata Borobudur.

Kondisi tersebut mengemuka dalam perbincangan warga Borobudur, di antaranya Pak Sucoro, Pak Sentot Prawirodirjo yang berprofesi sebagai tukang las, serta Pak Sugeng, seorang pedagang batik dan cenderamata yang telah lama mencari nafkah dari aktivitas wisata di kawasan Borobudur.

Pak Sugeng menceritakan bahwa dirinya pernah memperoleh kios di Blok N kawasan wisata Borobudur. Namun karena lokasi tersebut sangat sepi pengunjung, kios itu tidak pernah benar-benar beroperasi. Ia akhirnya memilih berjualan secara keliling menggunakan kendaraan Tosa, menawarkan kain batik dan berbagai cenderamata khas kepada wisatawan yang ditemuinya di berbagai tempat.

Menurutnya, kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan masa ketika lokasi parkir kendaraan pengunjung masih berada di sisi timur candi dan sepanjang Jalan Medangkamolan. Pada masa itu, wisatawan tidak hanya datang mengunjungi candi, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, berbelanja, dan menikmati berbagai layanan yang disediakan warga sekitar. Kini jumlah pengunjung dinilai terus menurun, sementara wisatawan yang datang cenderung hanya beraktivitas di kawasan inti candi.

Dampaknya dirasakan secara luas. Tidak hanya pedagang cenderamata, tetapi juga pemilik warung makan, penyedia jasa, perajin, hingga pekerja informal yang beraktivitas di sepanjang Jalan Medangkamolan dan kawasan penyangga Borobudur lainnya. Berkurangnya jumlah wisatawan menyebabkan perputaran ekonomi masyarakat ikut melemah.

“Sepi sekali. Penghasilan turun jauh. Kadang rasanya benar-benar sedih melihat keadaan sekarang,” ungkap salah satu warga saat menggambarkan kondisi usaha yang semakin sulit.

Fenomena ini menghadirkan ironi tersendiri. Di satu sisi, kawasan Borobudur terus mengalami penataan dan pembangunan yang menjadikan wajah kawasan semakin tertata dan megah. Aktivitas wisata masih terlihat di zona inti atau kawasan utama candi. Namun di sisi lain, manfaat ekonomi yang dahulu mengalir hingga ke masyarakat sekitar kini semakin terbatas.

Pak Sentot Prawirodirjo, seorang tukang las yang kerap mengerjakan berbagai kebutuhan perbaikan dan pembangunan fasilitas, juga merasakan dampak tersebut. Menurutnya, ketika aktivitas ekonomi wisata menurun, permintaan jasa dari masyarakat maupun pelaku usaha ikut berkurang.

Padahal, Borobudur selama ini menjadi salah satu penopang utama kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Keberadaan candi tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menghidupkan jaringan ekonomi yang panjang, mulai dari pedagang kecil, perajin, pengemudi, penyedia jasa, hingga pekerja harian.

Ketika arus kunjungan menurun, dampaknya menjalar ke berbagai sektor yang selama ini saling terhubung. Mata rantai ekonomi yang sebelumnya bergerak karena kehadiran wisatawan perlahan melemah, bahkan terputus di sejumlah titik.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengelolaan destinasi wisata tidak cukup diukur dari megahnya infrastruktur atau tertatanya kawasan inti semata. Keberhasilan juga perlu dilihat dari sejauh mana manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat yang hidup dan tumbuh bersama Borobudur.

Warga berharap pengembangan Borobudur ke depan tidak hanya berfokus pada kawasan pusat candi, tetapi juga mampu mendorong penyebaran aktivitas wisata ke desa-desa dan kawasan penyangga. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat candi, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, menikmati produk lokal, serta menggerakkan ekonomi warga secara lebih merata.

Apa yang terjadi hari ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemegahan kawasan inti Borobudur dan realitas ekonomi masyarakat di sekitarnya. Padahal, pariwisata Borobudur selama ini menjadi sumber penghidupan bagi puluhan ribu warga yang terhubung dalam mata rantai ekonomi yang panjang dan saling bergantung.

Jika Borobudur ingin benar-benar menjadi warisan hidup yang memberi manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang, maka kesejahteraan masyarakat pewarisnya harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kebijakan pengelolaan dan pengembangannya.

Sebab pada akhirnya, Borobudur bukan hanya tentang batu-batu yang megah, melainkan juga tentang manusia-manusia yang selama ini hidup berdampingan, menjaga, merawat, dan menggantungkan harapan masa depannya pada keberadaan warisan dunia tersebut.

Di sinilah pentingnya melihat Borobudur bukan semata sebagai destinasi wisata atau monumen budaya, melainkan sebagai ruang hidup bersama. Ketika manfaat ekonomi tidak lagi mengalir hingga ke masyarakat akar rumput, maka yang terancam bukan hanya kesejahteraan warga, tetapi juga keberlanjutan pewarisan Borobudur itu sendiri. Sebab pewarisan Borobudur pada akhirnya bukanlah pewarisan batu, melainkan pewarisan kesadaran dan kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar