Jamasan Pitutur Akan Dihidupkan Kembali, Menyambung Jejak Pewarisan Nilai Budaya - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 26 Juli 2026

Jamasan Pitutur Akan Dihidupkan Kembali, Menyambung Jejak Pewarisan Nilai Budaya

Borobudur, 26 Juli 2026 — Upaya menghidupkan kembali ruang pewarisan nilai budaya melalui kegiatan Jamasan Pitutur mulai mendapat perhatian para pegiat seni dan budaya. Pada Minggu (26/7/2026), Bapak Neno dan Bapak Wahyoko mendatangi kediaman Bapak Sucoro Setrodiharjo di Borobudur untuk menyampaikan gagasan penyelenggaraan kembali agenda budaya tersebut yang pernah berlangsung secara rutin setiap tahun sebelum pandemi Covid-19.

Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, dibahas berbagai kemungkinan untuk menghidupkan kembali Jamasan Pitutur sebagai ruang bersama untuk merawat, membersihkan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur melalui pitutur atau petuah kehidupan.

Menurut Bapak Neno, Jamasan Pitutur bukan sekadar kegiatan seni dan budaya, melainkan ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan pewarisan nilai di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Selama ini, banyak pitutur yang menjadi pedoman hidup masyarakat perlahan mulai terlupakan karena semakin sempitnya ruang dialog antar generasi.

Sementara itu, Bapak Wahyoko menyampaikan bahwa kegiatan tersebut pernah menjadi agenda tahunan yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari seniman, budayawan, tokoh masyarakat, hingga generasi muda. Melalui berbagai bentuk kegiatan budaya, masyarakat diajak untuk kembali mengenali nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Bapak Sucoro Setrodiharjo menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, di tengah berbagai perubahan yang terjadi di kawasan Borobudur, upaya merawat nilai dan pengetahuan lokal menjadi semakin penting. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan benda-benda warisan atau penyelenggaraan event semata, tetapi juga menyangkut pewarisan cara pandang, etika, dan kebijaksanaan hidup yang hidup di tengah masyarakat.

"Jika candi dan berbagai peninggalan budaya terus dirawat, maka nilai-nilai yang hidup di masyarakat juga perlu dirawat. Jamasan Pitutur dapat menjadi salah satu ruang untuk mengingat kembali sumber-sumber kebijaksanaan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat," ujarnya.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk menjajaki kemungkinan penyelenggaraan kembali Jamasan Pitutur dengan melibatkan berbagai komunitas seni dan budaya. Selain sebagai ruang ekspresi budaya, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antar generasi serta memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya pewarisan nilai sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Bagi para penggagasnya, menghidupkan kembali Jamasan Pitutur bukan semata mengulang kegiatan yang pernah ada, melainkan menghadirkan kembali semangat untuk merawat kearifan lokal agar tetap relevan dan memberi arah bagi kehidupan masyarakat masa kini maupun masa depan.

Redaksi Sekolah Kehidupan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar