Borobudur, 27 Juli 2026 — Gagasan
menghidupkan kembali agenda budaya Jamasan Pitutur terus memperoleh
dukungan dari berbagai kalangan. Setelah sebelumnya Bapak Neno dan Bapak
Wahyoko menyampaikan rencana penyelenggaraan kembali kegiatan tersebut,
dukungan kini datang dari Novita Siswayanti, peneliti dari Badan Riset
dan Inovasi Nasional (BRIN), serta sejumlah seniman yang selama ini aktif dalam
kegiatan pelestarian budaya.
Pada Senin (27/7/2026), Novita Siswayanti mengunjungi Sanggar
Manunggal Rasa Tegalarum, Borobudur, untuk berdiskusi mengenai berbagai
upaya pewarisan nilai budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Dalam kesempatan
tersebut, Novita menyampaikan apresiasinya terhadap gagasan menghidupkan
kembali Jamasan Pitutur sebagai ruang bersama untuk merawat pengetahuan, nilai,
dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Novita, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan
benda cagar budaya atau tradisi yang tampak secara fisik, tetapi juga
menyangkut pewarisan nilai, pandangan hidup, serta pengetahuan yang hidup di
tengah masyarakat.
“Jamasan Pitutur merupakan gagasan yang menarik karena berupaya
merawat nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Upaya seperti ini penting untuk memperkuat hubungan antar generasi sekaligus
menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, Novita juga menilai bahwa ruang-ruang budaya
berbasis masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman ekspresi
budaya sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda. Menurutnya,
kegiatan seperti Jamasan Pitutur dapat menjadi media untuk mendokumentasikan
dan menghidupkan kembali berbagai pitutur yang selama ini tersebar dalam
tradisi lisan masyarakat.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh seorang seniman asal Malang
yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Ia melihat Jamasan Pitutur sebagai
sebuah gerakan budaya yang tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga
tentang bagaimana nilai-nilai budaya dapat menjadi sumber inspirasi dalam
menghadapi berbagai tantangan kehidupan masa kini.
Menurutnya, banyak daerah saat ini menghadapi persoalan yang sama,
yaitu semakin berkurangnya ruang perjumpaan antar generasi. Karena itu,
kegiatan yang memberi ruang untuk mendengar, berbagi pengalaman, dan
merefleksikan pitutur leluhur menjadi sangat penting untuk terus dihidupkan.
Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan bahwa Jamasan Pitutur
direncanakan akan diselenggarakan pada Rabu, 5 Agustus 2026. Kegiatan ini
akan menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari
seniman, budayawan, pegiat komunitas, tokoh masyarakat, hingga generasi muda
dalam satu ruang pembelajaran budaya yang terbuka dan partisipatif.
Panitia penyelenggara telah mulai melakukan berbagai persiapan. Ki
Suryodipo, yang dipercaya sebagai Ketua Panitia, menyampaikan bahwa Jamasan
Pitutur diharapkan tidak hanya menjadi sebuah acara seremonial, melainkan
menjadi ruang bersama untuk menghidupkan kembali tradisi bertutur, berbagi
pengalaman hidup, dan merawat kebijaksanaan lokal yang selama ini menjadi
fondasi kehidupan masyarakat.
Menurut Ki Suryodipo, kegiatan ini sekaligus menjadi ikhtiar untuk
mengingatkan kembali bahwa pembangunan kebudayaan tidak cukup hanya melalui
pelestarian benda dan situs sejarah, tetapi juga melalui pewarisan nilai-nilai
yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Bagi Sanggar Manunggal Rasa Tegalarum, dukungan dari kalangan
peneliti maupun seniman menjadi dorongan moral yang penting dalam proses
penyelenggaraan kembali Jamasan Pitutur. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan
bahwa upaya merawat nilai budaya tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri,
melainkan memerlukan keterlibatan banyak unsur masyarakat.
Bapak Sucoro Setrodiharjo yang turut mengikuti pertemuan tersebut
menyampaikan bahwa dukungan yang terus berdatangan menunjukkan adanya kesadaran
bersama mengenai pentingnya pewarisan nilai budaya. Menurutnya, di tengah
derasnya perubahan sosial, masyarakat membutuhkan ruang untuk kembali mengenali
akar kebudayaannya agar tidak kehilangan arah dalam menghadapi masa depan.
“Borobudur tidak hanya mewariskan bangunan besar yang dikagumi
dunia, tetapi juga mewariskan nilai, cara pandang, dan kebijaksanaan hidup yang
tumbuh di tengah masyarakat. Karena itu, pewarisan nilai harus mendapat
perhatian yang sama pentingnya dengan pelestarian warisan fisik,” ujarnya.
Para penggagas berharap Jamasan Pitutur dapat menjadi ruang
perjumpaan yang memperkuat semangat gotong royong, mempererat hubungan antar
generasi, dan menghadirkan kembali pitutur-pitutur luhur sebagai sumber
inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Jika terus berkembang, kegiatan ini
diharapkan menjadi bagian dari gerakan pewarisan nilai budaya yang
berkelanjutan di kawasan Borobudur.
Redaksi Sekolah Kehidupan
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar