Redaksi Sekolah Kehidupan ( Novita
Siswayanti )
Borobudur, 5 Juli 2026
Borobudur – Magelang :Di
tengah berbagai kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini, terdapat
satu hal yang tetap bertahan dan terus dipelihara oleh warga Borobudur, yaitu
tradisi sedekah. Bagi masyarakat, sedekah bukan sekadar pemberian materi,
melainkan wujud keakraban, kepedulian, dan pengikat hubungan sosial
antarsesama.
“Saat kondisi ekonomi
sulit sekalipun, masyarakat Borobudur tetap mengutamakan sedekah sebagai bentuk
kebersamaan dan paguyuban,” tutur Ngadiyo, warga Borobudur, dalam wawancara
pada Senin, 5 Juli 2026.
Sedekah hadir dalam
berbagai bentuk. Ada yang diberikan secara pribadi kepada kerabat, tetangga,
atau sahabat sebagai ungkapan kasih sayang dan perhatian. Ada pula yang
diberikan untuk kepentingan bersama sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan
desa, kelompok masyarakat, maupun organisasi sosial dan keagamaan.
Tradisi ini memperkuat
silaturahmi, menumbuhkan rasa peduli, serta mendorong keterlibatan warga dalam
kehidupan bersama. Nilai tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang ingin
dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung
tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Bagi masyarakat
Borobudur, sedekah merupakan respons positif dan bentuk empati terhadap kondisi
yang terjadi di lingkungan sekitar. Dalam keadaan lapang maupun sempit, warga
tetap berusaha memberikan sumbangan, baik berupa uang, bahan makanan, maupun
barang lainnya kepada mereka yang memiliki hajat.
Sedekah diberikan dalam
berbagai peristiwa kehidupan. Pada saat kebahagiaan seperti pernikahan,
kelahiran anak, atau khitanan, warga hadir membawa bantuan sesuai kemampuan.
Demikian pula ketika terjadi musibah atau kematian, masyarakat bergotong royong
membantu keluarga yang sedang berduka.
Selain dilakukan secara
pribadi, sedekah juga diwujudkan dalam bentuk kolektif melalui iuran atau
tarikan warga. Sistem ini menjadi mekanisme kebersamaan yang telah lama hidup
di tengah masyarakat. Dalam berbagai kegiatan desa maupun acara kelompok, warga
berpartisipasi melalui sumbangan yang telah disepakati bersama.
Masyarakat Borobudur
memiliki sejumlah agenda tahunan yang hampir tidak pernah terlewatkan
pelaksanaannya, seperti Suroan, Agustusan, Saparan, Muludan, dan Rajaban atau
Sadranan. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan partisipasi seluruh lapisan
masyarakat dan telah diwariskan secara turun-temurun.
Lebih dari sekadar
perayaan tradisi, kegiatan tersebut berfungsi sebagai ruang perjumpaan sosial
yang mempererat persaudaraan antarwarga. Pembiayaannya sebagian besar diperoleh
melalui swadaya masyarakat. Setiap keluarga ikut memberikan kontribusi sesuai
kemampuan, baik dalam bentuk uang, makanan, tenaga, maupun bahan kebutuhan
acara.
“Iuran atau tarikan
untuk kegiatan desa ada yang ditentukan jumlahnya, ada pula yang berupa barang,
misalnya beberapa kotak kue atau sejumlah nasi untuk konsumsi bersama,” jelas
Martini, warga Ngadiharjo.
Menurutnya, semangat
untuk berpartisipasi tetap tinggi meskipun kondisi ekonomi tidak selalu mudah.
Tidak sedikit warga yang harus mencari cara agar tetap dapat memenuhi kewajiban
sosialnya. Ada yang memetik hasil kebun untuk dijual, ada pula yang membuat
keranjang bambu dan hasil kerajinan lainnya guna memperoleh tambahan
penghasilan.
Selain itu, masyarakat
juga mengenal tradisi jimpitan, yaitu pengumpulan uang secara rutin dari warga
yang kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan bersama. Dana jimpitan
dimanfaatkan antara lain untuk membayar listrik lampu jalan, menyediakan
konsumsi bagi warga yang ronda malam, serta mendukung berbagai kebutuhan sosial
kemasyarakatan lainnya.
Tradisi sedekah, iuran,
tarikan, dan jimpitan menunjukkan bahwa masyarakat Borobudur memiliki modal
sosial yang kuat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan perubahan sosial
yang terjadi, nilai gotong royong masih menjadi fondasi penting dalam menjaga
keharmonisan kehidupan bersama.
Dalam konteks pewarisan
budaya, tradisi-tradisi tersebut bukan hanya persoalan bantuan materi, tetapi
juga pewarisan nilai kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab sosial, dan
solidaritas antarwarga. Nilai-nilai inilah yang selama berabad-abad menjadi
kekuatan masyarakat Borobudur untuk bertahan menghadapi berbagai perubahan
zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar