Sedekah di Tengah Kesulitan: Perekat Sosial Masyarakat Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 08 Juli 2026

Sedekah di Tengah Kesulitan: Perekat Sosial Masyarakat Borobudur

 

Redaksi Sekolah Kehidupan ( Novita Siswayanti )
Borobudur, 5 Juli 2026

Borobudur – Magelang :Di tengah berbagai kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini, terdapat satu hal yang tetap bertahan dan terus dipelihara oleh warga Borobudur, yaitu tradisi sedekah. Bagi masyarakat, sedekah bukan sekadar pemberian materi, melainkan wujud keakraban, kepedulian, dan pengikat hubungan sosial antarsesama.

“Saat kondisi ekonomi sulit sekalipun, masyarakat Borobudur tetap mengutamakan sedekah sebagai bentuk kebersamaan dan paguyuban,” tutur Ngadiyo, warga Borobudur, dalam wawancara pada Senin, 5 Juli 2026.

Sedekah hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang diberikan secara pribadi kepada kerabat, tetangga, atau sahabat sebagai ungkapan kasih sayang dan perhatian. Ada pula yang diberikan untuk kepentingan bersama sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan desa, kelompok masyarakat, maupun organisasi sosial dan keagamaan.

Tradisi ini memperkuat silaturahmi, menumbuhkan rasa peduli, serta mendorong keterlibatan warga dalam kehidupan bersama. Nilai tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi masyarakat Borobudur, sedekah merupakan respons positif dan bentuk empati terhadap kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar. Dalam keadaan lapang maupun sempit, warga tetap berusaha memberikan sumbangan, baik berupa uang, bahan makanan, maupun barang lainnya kepada mereka yang memiliki hajat.

Sedekah diberikan dalam berbagai peristiwa kehidupan. Pada saat kebahagiaan seperti pernikahan, kelahiran anak, atau khitanan, warga hadir membawa bantuan sesuai kemampuan. Demikian pula ketika terjadi musibah atau kematian, masyarakat bergotong royong membantu keluarga yang sedang berduka.

Selain dilakukan secara pribadi, sedekah juga diwujudkan dalam bentuk kolektif melalui iuran atau tarikan warga. Sistem ini menjadi mekanisme kebersamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Dalam berbagai kegiatan desa maupun acara kelompok, warga berpartisipasi melalui sumbangan yang telah disepakati bersama.

Masyarakat Borobudur memiliki sejumlah agenda tahunan yang hampir tidak pernah terlewatkan pelaksanaannya, seperti Suroan, Agustusan, Saparan, Muludan, dan Rajaban atau Sadranan. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat dan telah diwariskan secara turun-temurun.

Lebih dari sekadar perayaan tradisi, kegiatan tersebut berfungsi sebagai ruang perjumpaan sosial yang mempererat persaudaraan antarwarga. Pembiayaannya sebagian besar diperoleh melalui swadaya masyarakat. Setiap keluarga ikut memberikan kontribusi sesuai kemampuan, baik dalam bentuk uang, makanan, tenaga, maupun bahan kebutuhan acara.

“Iuran atau tarikan untuk kegiatan desa ada yang ditentukan jumlahnya, ada pula yang berupa barang, misalnya beberapa kotak kue atau sejumlah nasi untuk konsumsi bersama,” jelas Martini, warga Ngadiharjo.

Menurutnya, semangat untuk berpartisipasi tetap tinggi meskipun kondisi ekonomi tidak selalu mudah. Tidak sedikit warga yang harus mencari cara agar tetap dapat memenuhi kewajiban sosialnya. Ada yang memetik hasil kebun untuk dijual, ada pula yang membuat keranjang bambu dan hasil kerajinan lainnya guna memperoleh tambahan penghasilan.

Selain itu, masyarakat juga mengenal tradisi jimpitan, yaitu pengumpulan uang secara rutin dari warga yang kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan bersama. Dana jimpitan dimanfaatkan antara lain untuk membayar listrik lampu jalan, menyediakan konsumsi bagi warga yang ronda malam, serta mendukung berbagai kebutuhan sosial kemasyarakatan lainnya.

Tradisi sedekah, iuran, tarikan, dan jimpitan menunjukkan bahwa masyarakat Borobudur memiliki modal sosial yang kuat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan perubahan sosial yang terjadi, nilai gotong royong masih menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan bersama.

Dalam konteks pewarisan budaya, tradisi-tradisi tersebut bukan hanya persoalan bantuan materi, tetapi juga pewarisan nilai kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab sosial, dan solidaritas antarwarga. Nilai-nilai inilah yang selama berabad-abad menjadi kekuatan masyarakat Borobudur untuk bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman.

Di saat banyak hubungan sosial mulai tergerus oleh kepentingan ekonomi dan individualisme, masyarakat Borobudur masih memperlihatkan bahwa sedekah bukan sekadar memberi, melainkan cara merawat persaudaraan dan menjaga kehidupan bersama agar tetap harmon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar