Jamasan Pitutur: Menghidupkan Kembali Nadi Tradisi di Tegalarum Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 02 Agustus 2026

Jamasan Pitutur: Menghidupkan Kembali Nadi Tradisi di Tegalarum Borobudur

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur- Magelang 3 Agustus 2026 : Di seputar Candi Borobudur, tradisi pernah menjadi napas kehidupan masyarakat yang mengalir tanpa putus. Dulu, di Dusun Pasar Kenayan dekat Borobudur, berdiri pohon beringin besar yang menjadi saksi bisu keyakinan dan kebersamaan. Cerita seperti dialami Pak Sarudi, mantan kepala dusun, yang berulang kali merasakan pengalaman tak terlupakan di bawah rindangnya pohon itu, melahirkan tradisi Saparan yang tumbuh murni dari kedaulatan masyarakat. Tanpa paksaan, warga datang sukarela membawa lauk, sesaji, dan doa bersama; kenduri, wayangan sehari semalam, serta rangkaian prosesi ritual yang utuh menjadi bukti bahwa tradisi adalah milik orang-orang yang menghayatinya.

Namun perlahan, semangat pragmatis mulai mengikis nilai-nilai itu. Acara sakral yang dulu penuh makna kini kerap disederhanakan bahkan hilang sama sekali. Definisi Borobudur yang semakin condong sebagai objek pariwisata membuat jati dirinya sebagai tempat spiritual, pusat meditasi, dan akar kehidupan masyarakat perlahan tergeser. Target jumlah pengunjung dan keuntungan ekonomi sering kali menutup mata bahwa warisan budaya bukan hanya batu dan bangunan, melainkan juga kebiasaan, doa, dan kebersamaan yang hidup dalam keseharian warga sekitarnya.

Di tengah tantangan itu, masih ada harapan yang bersemi. Kelompok pecinta budaya yang tergabung di Sanggar Manunggal Roso, Tegalarum Borobudur, yang digagas antara lain oleh Bapak Wahyono dan rekan-rekan, kembali mengangkat tradisi luhur ini. Pada Rabu, 5 Agustus, mereka menyelenggarakan Jamasan Pitutur dan Jamasan bersama Kelompok Pitutur Sri Mudatama , bagian dari gagasan Ruwat Rawat Borobudur. Penyelenggaraan ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan upaya tulus menyelamatkan dan menghidupkan kembali tradisi sebagai penyangga jiwa masyarakat.

Jamasan Pitutur mengingatkan kita bahwa warisan budaya tidak akan bertahan jika hanya disimpan di museum atau dijadikan daya tarik semata. Nilai spiritual Borobudur, yang menyatu dengan kehidupan warga desa, harus tetap tumbuh bersama orang-orang yang mewarisinya. Semoga langkah kecil dari Sanggar Manunggal Roso ini menjadi contoh, mengajak kita semua untuk tidak membiarkan akar tradisi terkikis zaman. Biarlah Borobudur tetap dikenal sebagai tempat wisata, namun tak pernah kehilangan jati dirinya sebagai rumah rohani dan sumber kehidupan budaya masyarakat yang hidup di sampingnya.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar