Borobudur,
Magelang, 31 Juli 2026 — Borobudur merupakan mahakarya peradaban yang
tidak hanya menyimpan keagungan arsitektur dan nilai sejarah, tetapi juga
mengandung berbagai ajaran, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang
diwariskan lintas generasi. Selama puluhan tahun, perhatian publik lebih banyak
tertuju pada upaya pelestarian fisik candi sebagai warisan budaya dunia.
Padahal, Borobudur juga merupakan sumber inspirasi bagi kehidupan masyarakat
yang tumbuh dan berkembang di sekitarnya.
Dalam
beberapa waktu terakhir, Menteri Kebudayaan kembali menegaskan pentingnya
menghidupkan Borobudur sebagai Living Monument atau monumen yang
hidup. Gagasan ini menempatkan Borobudur bukan semata-mata sebagai benda cagar
budaya yang dijaga dan dikunjungi, tetapi sebagai ruang kebudayaan yang terus memberi
makna, menginspirasi kehidupan, serta menjadi sumber pembelajaran bagi
masyarakat dan generasi penerus.
Sebagai
monumen yang hidup, Borobudur tidak hanya membutuhkan pelestarian batu-batu
candi, tetapi juga pelestarian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai
kebijaksanaan, harmoni, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, hubungan
manusia dengan alam, serta berbagai pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat
merupakan bagian penting dari ekosistem budaya Borobudur yang perlu terus
diwariskan.
Di tengah
perubahan sosial yang berlangsung cepat, proses pewarisan nilai tersebut
menghadapi berbagai tantangan. Tradisi lisan, pitutur para sesepuh, dan
pengetahuan lokal yang dahulu menjadi pedoman hidup masyarakat semakin jarang
menjadi ruang pembelajaran bersama. Sementara generasi muda tumbuh dalam
lingkungan yang berbeda, dengan akses informasi yang semakin luas, namun sering
kali semakin jauh dari akar kebudayaannya.
Dalam
konteks itulah kegiatan Jamasan Pitutur kembali dihadirkan
Rabu 5 Agustus Pkl 13.00 di Sanggar Manunggal Tegalarum . Gagasan ini muncul
dari kepedulian para pelaku budaya Borobudur untuk menghidupkan kembali ruang
belajar kebudayaan yang pernah tumbuh di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh budaya
seperti Bapak Wahyoko, Ki Suryodipo (Pak Dipo),
dan Ki Reno bersama para pegiat seni dan budaya berupaya
menghidupkan kembali tradisi ini sebagai media pewarisan nilai kepada generasi
muda.
Jamasan
Pitutur bukan sekadar upaya mengenang masa lalu, melainkan ikhtiar untuk
membersihkan, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan
para leluhur. Jamasan tidak hanya dimaknai sebagai membersihkan pusaka secara
fisik, tetapi juga merawat ingatan kolektif, menyegarkan kembali pitutur
kehidupan, serta memperkuat kesadaran akan pentingnya pewarisan nilai budaya.
Melalui
kegiatan Sarasehan Budaya Inspirasi Borobudur Sekolah Kehidupan dengan tema “Borobudur dan Pewarisan
Nilai: Menghidupkan Kembali Ruang Belajar Kebudayaan”, masyarakat diajak
mendiskusikan bagaimana Borobudur dapat terus hidup sebagai ruang belajar
kebudayaan. Bukan hanya melalui kunjungan wisata atau pelestarian bangunan,
tetapi juga melalui pewarisan nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang dapat
menjadi bekal menghadapi tantangan zaman.
Sarasehan
ini menjadi ruang perjumpaan antara peneliti, pengelola kebudayaan, komunitas
budaya, tokoh masyarakat, seniman, dan generasi muda untuk bersama-sama
merumuskan langkah-langkah pewarisan nilai yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Novita Siswayanti,
peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menilai upaya
menghidupkan kembali ruang-ruang belajar kebudayaan masyarakat memiliki arti
penting dalam memperkuat proses pewarisan nilai Borobudur kepada generasi
penerus.
Kehadiran
narasumber dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan serta Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) diharapkan dapat memperkaya perspektif mengenai hubungan antara
pelestarian warisan budaya, penguatan masyarakat, dan pembangunan kebudayaan
nasional.
Melalui semangat Jamasan
Pitutur, kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali
Borobudur sebagai Living Monument yang tidak hanya lestari secara
fisik, tetapi juga hidup dalam ingatan, nilai, pengetahuan, dan praktik budaya
masyarakat. Dengan demikian, Borobudur tidak sekadar menjadi peninggalan masa
lalu, melainkan terus menjadi sumber inspirasi dan ruang belajar kebudayaan
bagi generasi masa kini dan masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar