BOROBUDUR DAN PEWARISAN NILAI: MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG BELAJAR KEBUDAYAAN - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 30 Juli 2026

BOROBUDUR DAN PEWARISAN NILAI: MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG BELAJAR KEBUDAYAAN

 Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur, Magelang, 31 Juli 2026 — Borobudur merupakan mahakarya peradaban yang tidak hanya menyimpan keagungan arsitektur dan nilai sejarah, tetapi juga mengandung berbagai ajaran, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan lintas generasi. Selama puluhan tahun, perhatian publik lebih banyak tertuju pada upaya pelestarian fisik candi sebagai warisan budaya dunia. Padahal, Borobudur juga merupakan sumber inspirasi bagi kehidupan masyarakat yang tumbuh dan berkembang di sekitarnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, Menteri Kebudayaan kembali menegaskan pentingnya menghidupkan Borobudur sebagai Living Monument atau monumen yang hidup. Gagasan ini menempatkan Borobudur bukan semata-mata sebagai benda cagar budaya yang dijaga dan dikunjungi, tetapi sebagai ruang kebudayaan yang terus memberi makna, menginspirasi kehidupan, serta menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat dan generasi penerus.

Sebagai monumen yang hidup, Borobudur tidak hanya membutuhkan pelestarian batu-batu candi, tetapi juga pelestarian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai kebijaksanaan, harmoni, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, hubungan manusia dengan alam, serta berbagai pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat merupakan bagian penting dari ekosistem budaya Borobudur yang perlu terus diwariskan.

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, proses pewarisan nilai tersebut menghadapi berbagai tantangan. Tradisi lisan, pitutur para sesepuh, dan pengetahuan lokal yang dahulu menjadi pedoman hidup masyarakat semakin jarang menjadi ruang pembelajaran bersama. Sementara generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, dengan akses informasi yang semakin luas, namun sering kali semakin jauh dari akar kebudayaannya.

Dalam konteks itulah kegiatan Jamasan Pitutur kembali dihadirkan Rabu 5 Agustus Pkl 13.00 di Sanggar Manunggal Tegalarum . Gagasan ini muncul dari kepedulian para pelaku budaya Borobudur untuk menghidupkan kembali ruang belajar kebudayaan yang pernah tumbuh di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh budaya seperti Bapak Wahyoko, Ki Suryodipo (Pak Dipo), dan Ki Reno bersama para pegiat seni dan budaya berupaya menghidupkan kembali tradisi ini sebagai media pewarisan nilai kepada generasi muda.

Jamasan Pitutur bukan sekadar upaya mengenang masa lalu, melainkan ikhtiar untuk membersihkan, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Jamasan tidak hanya dimaknai sebagai membersihkan pusaka secara fisik, tetapi juga merawat ingatan kolektif, menyegarkan kembali pitutur kehidupan, serta memperkuat kesadaran akan pentingnya pewarisan nilai budaya.

Melalui kegiatan Sarasehan Budaya Inspirasi Borobudur Sekolah Kehidupan  dengan tema “Borobudur dan Pewarisan Nilai: Menghidupkan Kembali Ruang Belajar Kebudayaan”, masyarakat diajak mendiskusikan bagaimana Borobudur dapat terus hidup sebagai ruang belajar kebudayaan. Bukan hanya melalui kunjungan wisata atau pelestarian bangunan, tetapi juga melalui pewarisan nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang dapat menjadi bekal menghadapi tantangan zaman.

Sarasehan ini menjadi ruang perjumpaan antara peneliti, pengelola kebudayaan, komunitas budaya, tokoh masyarakat, seniman, dan generasi muda untuk bersama-sama merumuskan langkah-langkah pewarisan nilai yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Novita Siswayanti, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menilai upaya menghidupkan kembali ruang-ruang belajar kebudayaan masyarakat memiliki arti penting dalam memperkuat proses pewarisan nilai Borobudur kepada generasi penerus.

Kehadiran narasumber dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diharapkan dapat memperkaya perspektif mengenai hubungan antara pelestarian warisan budaya, penguatan masyarakat, dan pembangunan kebudayaan nasional.

Melalui semangat Jamasan Pitutur, kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali Borobudur sebagai Living Monument yang tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga hidup dalam ingatan, nilai, pengetahuan, dan praktik budaya masyarakat. Dengan demikian, Borobudur tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, melainkan terus menjadi sumber inspirasi dan ruang belajar kebudayaan bagi generasi masa kini dan masa depan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar