Di hadapan Mbah Belet, kita berjumpa dengan sebuah
wujud yang seakan menyimpan cerita yang belum selesai. Pada pandangan pertama,
mungkin ada yang merasa masih kurang: bentuk yang tidak utuh, pahatan yang
tidak rampung sebagaimana arca-arca lainnya. Dari sanalah sering muncul
keinginan untuk melengkapi, merapikan, menghias, atau memakaikannya sesuatu
agar tampak lebih pantas.
Kain kuning melingkar di tubuhnya, kain putih
melilit di bagian bawahnya. Di baliknya tentu tersimpan niat baik dan
penghormatan. Namun pertanyaan yang patut direnungkan adalah: apakah
penghormatan harus selalu diwujudkan dengan menambahkan sesuatu pada wujud yang
telah ada?
Dalam tata kehidupan Jawa dikenal ajaran dugo,
prayogo, roso rumongso. Semuanya bermuara pada kepantasan. Namun pantas
tidak selalu berarti seragam, tidak selalu berarti sama dengan yang lain.
Pantas adalah kesesuaian dengan hakikat dan pesan yang dikandungnya.
Mbah Belet hadir dengan pesan yang berbeda. Ia
bukan sekadar arca yang belum selesai dipahat, melainkan pengingat tentang
perjalanan, proses, dan ketidaksempurnaan yang tetap bermakna. Justru pada
ketidakselesaiannya tersimpan pelajaran yang mendalam. Ketika ia diperlakukan
sama dengan arca-arca lain, jangan-jangan kita tanpa sadar sedang menutupi
pesan yang ingin disampaikannya.
Kain yang melilitnya tidaklah salah. Niatnya baik
dan lahir dari rasa hormat. Namun pertanyaannya adalah: sudahkah kita
memahami siapa yang sedang kita hormati? Jika Mbah Belet mengajarkan bahwa
proses adalah bagian dari kehidupan, maka ketidaksempurnaannya itulah yang
menjadi kesaksiannya.
Di sinilah makna wadi kang sinengker
menemukan tempatnya. Ia bukan rahasia yang disembunyikan dalam ruang tertutup,
melainkan kebijaksanaan yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang mampu
melihat dengan rasa.
Wadi kang sinengker
mengajarkan bahwa:
- Yang tampak belum selesai, belum tentu kurang.
- Menghormati tidak selalu berarti mengubah.
- Merawat tidak selalu berarti menyesuaikan
dengan selera kita.
- Mencintai berarti menerima apa adanya, bukan
memaksanya menjadi seperti yang kita inginkan.
Barangkali mereka yang memahami rahasia ini
bukanlah yang sibuk melengkapi segala sesuatu hingga kehilangan maknanya.
Melainkan mereka yang menyadari bahwa ada hal-hal yang harus dibiarkan apa
adanya agar pesannya tetap hidup sepanjang zaman.
Sebagai pewaris Borobudur, tugas kita bukan sekadar
menjaga bentuk fisiknya, melainkan juga merawat makna yang dikandungnya.
Menyempurnakan Mbah Belet bukan berarti melengkapi pahatan yang belum selesai
atau memakaikannya agar tampak sama dengan yang lain. Menyempurnakannya adalah
memahami pesan yang diwariskannya.
Menyempurnakan berarti:
- Membiarkannya tetap menjadi saksi perjalanan
yang belum usai.
- Menghormatinya dengan ketulusan dan kesadaran.
- Mewariskan pemahamannya kepada generasi
berikutnya.
- Menjaga agar makna yang terkandung di dalamnya
tidak hilang oleh tafsir yang tergesa-gesa.
Kain kuning dan putih yang melilitnya hari ini
mungkin lahir dari kasih sayang. Namun kasih sayang yang lebih dalam adalah
memberi ruang bagi Mbah Belet untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Biarkan
wujudnya berbicara. Biarkan orang yang datang bertanya: mengapa ia belum
selesai? Karena dari pertanyaan itulah pengetahuan dan kesadaran dapat
tumbuh.
Mungkin inilah wadi kang sinengker yang
sesungguhnya:
Kesempurnaan bukanlah ketika
semuanya telah selesai. Kesempurnaan adalah ketika kita mampu menghormati yang
belum selesai, memahami yang belum sempurna, dan merawatnya dengan rasa yang
tulus.
Mbah Belet memang belum selesai. Namun justru
karena itulah ia terus mengajarkan bahwa kehidupan adalah proses yang tidak
pernah benar-benar berakhir.
Sucoro,
Setrodiharjo Minggu 27 Sep[tember 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar