Dua Dekade Meruwat Pustaka Kehidupan: Membaca
Zaman, Menjaga Pusaka, dan Meniti Tatanan Baru
Bagian I: Filosofi Sinau Maca Kahanan
Candi
Borobudur bukan sekadar onggokan batu andesit yang membeku dalam waktu. Ia
adalah Cagar Budaya, Pusaka Bangsa, dan yang paling utama: Pustaka
Kehidupan. Setiap relief yang terpahat di dindingnya adalah lembaran buku
yang takkan pernah habis dibaca sepanjang masa. Ia memuat pesan-pesan universal
tentang hakikat eksistensi dan pencerahan batin.
Namun,
dalam meniti jalan menuju kesempurnaan, manusia selalu diuji oleh
"gelombang" perjalanan hidup, sebagaimana yang terekam dalam relief Karmawibhangga
di kaki candi. Karma adalah perbuatan, dan Wibhangga adalah alur
atau gelombang. Judul "Sinau Maca Kahanan" (Belajar Membaca
Situasi/Zaman) dipilih sebagai refleksi atas gelombang persoalan pengelolaan
Borobudur yang kian kompleks.
Saat
ini, Borobudur sering kali dipandang hanya sebagai "kue" ekonomi yang
diperebutkan. Jutaan pengunjung datang hanya untuk berswafoto tanpa menyelami
nilai luhurnya, sementara konflik kepentingan antarpemangku kebijakan membuat
upaya pelestarian spiritual berjalan di tempat. Di tengah kemegahan
internasional, masyarakat lokal justru sering kali merasa seperti "ayam mati
di lumbung padi"—terasing di tanah kelahirannya sendiri.
Bagian II: Prolog – Borobudur dalam Pusaran Global
dan Lokal
(Oleh:
Akiko Tashiro, Universitas Hokkaido)
Borobudur
merupakan monumen pertama di Asia Tenggara yang menjadi objek kampanye
pelestarian internasional UNESCO sejak tahun 1972. Namun, di balik keberhasilan
teknis pemugarannya, terdapat sejarah kelam tentang pemisahan antara monumen
dan penduduknya. Kebijakan zonasi (JICA Master Plan 1979) di era Orde
Baru telah menyebabkan penggusuran besar-besaran, termasuk keluarga Bapak
Sucoro.
Momen
penggusuran itu adalah titik mula dari sebuah sejarah perlawanan panjang yang
kemudian bertransformasi menjadi laku budaya. Saya melihat gerakan Ruwat
Rawat Borobudur sebagai upaya luar biasa untuk memulihkan hubungan yang
sempat terputus oleh "pagar" birokrasi. Gerakan ini membuktikan bahwa
Borobudur bukan hanya milik dunia sebagai World Heritage, tetapi
merupakan "Pusaka Kita"—milik rakyat yang tinggal di
sekelilingnya. Pengalaman di Borobudur ini menjadi pelajaran berharga bagi
pelestarian peninggalan budaya di negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti
Thailand dan Kamboja, tentang pentingnya menempatkan penduduk lokal sebagai
aktor utama, bukan sekadar objek.
Bagian III: Catatan Pengantar – 20 Tahun Menghidupkan
"Ruh Borobudur"
(Oleh:
Dedi Supriadi Adhuri, LIPI)
Bapak
Sucoro (Mas Coro) adalah sosok yang namanya telah menyatu dengan dinamika
Borobudur. Gerakan Ruwat Rawat yang ia inisiasi pada tahun 2003 lahir dari
sebuah resistensi terhadap proyek Jagad Jawa—sebuah rencana pembangunan
mal modern di kawasan sakral sebelah barat candi yang dianggap melanggar nilai
luhur Borobudur.
Gerakan
ini unik karena perlawanannya tidak dilakukan dengan kekerasan, melainkan
dengan doa, ritual, dan pertunjukan seni tradisional. Tujuannya adalah untuk
mengirimkan pesan kuat kepada pemegang kekuasaan bahwa pengelolaan Borobudur
harus didasari pada upaya menghidupkan kembali "Ruh" atau jiwa candi
tersebut.
Kini,
setelah 20 tahun berjalan (2003–2022), Ruwat Rawat telah berkembang menjadi
forum komunikasi raksasa yang menghubungkan komunitas lintas agama, akademisi,
dan pemerintah. Melalui sekolah lapang dan sarasehan, Mas Coro berhasil
membuktikan bahwa pelestarian sejati lahir dari kemandirian dan keguyuban
rakyat. Buku kelima ini adalah catatan sejarah yang sangat penting bagi siapa
pun yang ingin memahami bagaimana seharusnya sebuah warisan dunia dikelola
secara kolaboratif.
Bagian IV: Apresiasi – Membangun Ekosistem di
Tengah Tantangan
(Oleh:
Wiwit Kasiyati, Balai Konservasi Borobudur)
Pelestarian
Candi Borobudur memiliki konsekuensi besar untuk mempertahankan Outstanding
Universal Value (OUV). Hal ini tidak hanya mencakup aspek bendawi (tangible),
tetapi juga aspek non-bendawi (intangible) sebagaimana amanat UU No. 5
Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Gerakan
Ruwat Rawat Borobudur di bawah kepemimpinan Bapak Sucoro selama 19 tahun
terakhir adalah manifestasi nyata dari pelestarian ekosistem budaya tersebut.
Meski dua tahun terakhir kita diuji oleh pandemi COVID-19, Mas Coro terus
bergerak dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pendokumentasian yang
baik. Kreativitas para pecinta seni tradisi dalam wadah Brayat Panangkaran
membuktikan bahwa kearifan lokal adalah benteng pertahanan terakhir kita dalam
menghadapi perubahan zaman. Kami berharap Ruwat Rawat terus menjadi pionir
dalam menggandeng berbagai pihak untuk menjaga keagungan Borobudur.
Bagian V: Penutup – Harapan Menuju Tatanan Baru
Kata
"Ruwat" berarti membersihkan diri dari kekeruhan batin, dan "Rawat"
berarti melestarikan apa yang telah diwariskan leluhur. Di tengah tatanan dunia
yang berubah drastis pasca-pandemi, kita semua dituntut untuk "Sinau
Maca Kahanan".
Buku
ini disusun bukan sekadar sebagai laporan kegiatan 20 tahun, melainkan sebagai
kompas bagi para penggiat seni tradisi dan Sedhulur Brayat Panangkaran
untuk tetap tegar. Kita harus belajar menyikapi kenyataan baru tanpa
meninggalkan identitas. Semoga melalui buku ini, pembaca dapat memahami bahwa
Borobudur adalah sumber inspirasi yang tak terbatas untuk membangun karakter
bangsa yang selaras dengan keagungan alam dan penciptanya.
Salam
Budaya, Borobudurku, Borobudurmu, Borobudur Kita. Lestarikan
Borobudur!
