Borobudur dalam Balutan Kain Putih Manifestasi Doa dan Komitmen Kebangsaan dalam Ruwat Rawat Borobudur

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Oleh: Sucoro

Simfoni Keberagaman di Kaki Candi

Peringatan 1 Suro di kawasan Borobudur bukan sekadar pergantian kalender dalam tradisi penanggalan Jawa, melainkan sebuah simfoni keberagaman yang nyata. Pekan ini, pelataran Candi Borobudur menjadi saksi pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang; mulai dari perbedaan busana adat, strata sosial, hingga identitas agama dan kepercayaan. Mereka hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai peziarah budaya yang mengikuti setiap prosesi dengan penuh khidmat.

Pemandangan paling menyentuh hati terjadi saat doa bersama dipanjatkan. Di bawah naungan kemegahan batu-batu candi, terjadi sebuah dialog spiritual yang sunyi namun kuat. Ada di antara mereka yang duduk bersila dalam meditasi mendalam, ada yang menundukkan kepala dengan penuh kepasrahan, ada yang menyedekapkan tangan di dada, hingga ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi ke arah langit. Di tengah perbedaan gestur doa tersebut, tidak ada satu pun suara celaan atau pandangan sinis. Setiap individu saling menghargai jalan transendental yang dipilih sesamanya. Inilah manifestasi sejati dari toleransi: sebuah keragaman dalam keberagamaan yang menyatu dalam satu napas penghormatan.

Kain Putih 600 Meter: Ruwat dan Harapan

Candi Borobudur sebagai tinggalan sejarah bukan hanya sekadar monumen mati, melainkan pusat spiritual yang memberikan ruang merdeka bagi setiap umat untuk beribadat. Pada peringatan 1 Suro kali ini, seluruh peserta melakukan prosesi Pradaksina, yaitu berjalan memutari candi searah jarum jam.

Momen ini menjadi sangat sakral ketika kain putih sepanjang 600 meter dibentangkan, mengelilingi dan menutupi keseluruhan kaki Candi Borobudur. Secara fisik, kain ini melindungi; namun secara metafisik, ia melambangkan kesucian niat masyarakat untuk "merawat" pusaka dunia mereka. Bagi sebagian masyarakat, kain putih ini bukan sekadar material kain biasa. Mereka meyakini bahwa kain yang telah menyentuh kesucian Borobudur akan membawa pancaran kebaikan dan keberuntungan (ngalap berkah). Tak heran, muncul fenomena menarik di mana warga memohon potongan kecil kain tersebut sebagai jimat keberhasilan usaha—sebuah bukti betapa Borobudur telah mendarah daging dalam sistem kepercayaan dan harapan hidup mereka.

Filosofi Tumpeng: Keselarasan Hidup dan Alam

Spiritualitas Jawa yang diusung dalam Ruwat Rawat Borobudur bersifat sangat akomodatif. Kebersamaan masyarakat terlihat jelas dalam kirab budaya yang penuh kegotong-royongan. Ada yang bertugas memegang kain, memikul tandu, hingga membawa lilin. Kerukunan ini merupakan ajang silaturahmi yang mencerminkan moderasi beragama berbasis kearifan lokal.

Salah satu simbol kuat yang hadir adalah Tumpeng Sayur. Dibentuk menyerupai gunung, tumpeng ini melambangkan hasil bumi Borobudur yang harus dilestarikan. Secara filosofis, tumpeng berarti Tumapaking Panguripan (tata kehidupan), Tumindak Lempeng (berjalan lurus), dan Tumuju Pangeran (menuju Tuhan). Gunungan sayur ini menjadi pengingat bagi manusia bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, sementara alam adalah perantara yang harus dijaga keseimbangannya.

Pusaka dan Warangka: Analogi Pelestarian

Dalam peringatan ini, hadir pula simbol Keris dan Kembang Tujuh Rupa. Keris dalam tradisi Jawa bukan sekadar senjata, melainkan pusaka yang melambangkan kejayaan dan kewibawaan. Agar pamornya tetap kuat, keris harus tersimpan rapi dalam warangka (sarungnya) yang indah.

Analogi ini digunakan untuk memotret kondisi Borobudur saat ini. Jika Borobudur adalah "Keris" (pusaka dunia), maka alam persawahan, penghijauan, dan sistem pengairan di sekitarnya adalah "Warangkanya". Borobudur hanya akan tetap lestari dan berwibawa jika lingkungan sekitarnya tetap terjaga. Pelestarian fisik candi harus berjalan beriringan dengan pelestarian alam demi kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Borobudur akan tetap harum sewangi kembang tujuh rupa jikalau tradisi masyarakatnya tetap berpegang pada prinsip Memayu Hayuning Bawana—memperindah keindahan dunia yang sudah diciptakan Tuhan.

20 Tahun Ruwat Rawat: Konsistensi Tanpa Batas

Sebagai penutup, peringatan 1 Suro di Candi Borobudur adalah perekat kebangsaan. Ia memberi ruang bagi aspirasi dan inspirasi masyarakat untuk terlibat aktif sebagai subjek, bukan sekadar objek pariwisata.

Komunitas Brayat Panangkaran telah membuktikan konsistensi ini selama 20 tahun melalui gerakan Ruwat Rawat Borobudur. Gerakan ini terus mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa menjaga Borobudur bukan hanya soal membersihkan batu atau menjaga arsitektur bangunannya. Lebih dari itu, menjaga Borobudur berarti menjaga tradisi, menghidupkan budaya, dan merawat spiritualitas yang menjadi nyawa bagi keberlanjutan peradaban kita di masa depan.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default