Borobudur sebagai Pusat Spiritual: Menemukan Bahagia di Tengah Rimba Modernitas

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Oleh: Sucoro

Kegelisahan di Balik Kemajuan Zaman

Kehidupan di era globalisasi saat ini, dengan kecanggihan teknologi dan penetrasi industri yang masif, telah mengubah wajah peradaban manusia secara fundamental. Kita hidup di zaman di mana eksistensi sering kali diukur dari apa yang tampak di permukaan. Pola hidup masyarakat cenderung bergeser menjadi hedonistik, konsumeristik, dan materialistik. Lewat media sosial, manusia terjebak dalam perlombaan pamer keberadaan; berpikir keras tentang cara agar terlihat trendy, gaul, dan kekinian di mata dunia.

Namun, di balik gemerlap layar gawai, tersimpan sebuah ironi besar. Manusia seakan lupa cara untuk benar-benar bertahan hidup (survive) di tengah tuntutan kebutuhan yang kian membubung dan biaya pemenuhan hidup yang kian mahal. Kemajuan teknologi, jika tidak dibarengi dengan kedalaman batin, justru mengasingkan manusia dari nilai spiritual sebagai sumber kebahagiaan sejati. Kita menjadi kaya akan materi, namun miskin akan kedamaian jiwa.

Spiritualisme: Penawar Dahaga Jiwa

Spiritualisme sesungguhnya bukanlah sekadar persoalan agama formal, melainkan respon terhadap kegersangan dunia akibat perubahan sosial. Rutinitas hidup yang mekanis sering kali memunculkan ketegangan, baik secara pribadi maupun sosial. Ketegangan inilah yang melahirkan "penyakit spiritual": kegelisahan kronis, kehampaan makna, rasa tidak aman, hingga ketidakbahagiaan yang mendalam.

Dalam kondisi kehilangan pijakan ini, manusia modern mulai mencari jalan pulang. Banyak yang berusaha mengatasi kecemasan melalui meditasi dan yoga. Sebagian lainnya memilih "mengasingkan diri" sejenak dari kegaduhan dunia dengan mengikuti praktik tarekat atau laku batin. Inilah upaya manusia untuk mendengarkan kembali hati nurani dan intuisi kreatifnya—sebuah ekspresi bahwa ada kekuatan dahsyat yang datang dari kedalaman diri kita sendiri.

Borobudur sebagai Mandala Energi Semesta

Jika agama sering kali dipahami sebagai institusi formal dengan ritus lahiriah, spiritualitas melampaui itu semua. Ia adalah perjalanan batin menuju kesadaran universal. Borobudur, dalam konteks ini, berdiri sebagai sebuah Mandala Raksasa. Ia bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan manifestasi bentangan alam yang menyatukan kekuatan energi dari lima gunung yang mengepungnya dan dua sungai purba yang mengalirinya.

Masyarakat Borobudur meyakini bahwa Candi ini adalah titik temu antara mikrokosmos (diri manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Di sinilah ketenangan dan kedamaian dihadirkan. Saat gundah atau ditimpa musibah, mereka datang ke Borobudur untuk bermunajat. Bermeditasi di lorong-lorong candi dipercaya sebagai cara menyatukan pikiran dengan energi alam yang terus bergerak dan berputar, memberikan daya hidup bagi siapa saja yang melakukan kontemplasi di sana.

Ritual, Tradisi, dan Harapan

Bagi masyarakat sekitar, bangunan punden berundak ini adalah tempat pemujaan universal. Tidak peduli apa agama atau kepercayaannya, Borobudur terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari kesejukan batin. Ritual Pradaksina—berjalan mengitari candi searah jarum jam—sering kali diikuti dengan meditasi khusyuk.

Fenomena spiritual di Borobudur sangatlah beragam dan menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dasar:

  • Ada yang datang secara rutin setiap malam Purnama untuk menyerap energi bulan.
  • Ada yang datang saat kalut jiwa untuk mencari ketenangan.
  • Bahkan ada pasangan suami-istri yang belum dikaruniai buah hati, datang bermeditasi dengan keyakinan spiritual bahwa tempat ini memberikan berkah kesuburan.

Borobudur menjadi representasi nilai luhur Jawa: Memayu Hayuning Bawana. Sebuah komitmen untuk menjaga keseimbangan, keindahan, dan keharmonisan hidup agar tercapai kondisi tata-titi-tentrem.

Harmoni Ajaran: Dari Brahma Vihara hingga Hukum Karma

Nilai-nilai spiritualitas di Borobudur juga beririsan kuat dengan ajaran Buddha, khususnya Brahma Vihara (Empat Kediaman Luhur). Ajaran ini meliputi Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), Mudita (simpati), dan Upeksha (keseimbangan batin). Ini adalah cara mengendalikan diri agar tidak terombang-ambing oleh keglamoran dunia yang merusak batin.

Selaras dengan itu, filosofi Jawa tentang KarmaSapa nandur, bakalan ngunduh—mengingatkan bahwa setiap perkataan dan perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Borobudur mengajarkan kita untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kesadaran ini memuncak pada ajaran Suwung: sebuah kondisi di mana diri yang egois telah hilang, meninggalkan kekosongan yang berisi kehadiran Tuhan semata. Inilah transformasi energi murni menuju kebahagiaan sejati.

Borobudur sebagai Perekat Sosial dan Kemanusiaan

Spiritualitas Borobudur juga memiliki dimensi sosial yang kental. Setiap tahun, saat Idulfitri, Borobudur menjadi saksi indahnya silaturahmi. Masyarakat Muslim dari berbagai daerah berbondong-bondong datang, membentang tikar, dan makan bersama di area candi. Ada ungkapan, "Belum lebaran jika belum ke Borobudur." Di sini, Borobudur menjadi ruang keluarga raksasa yang menyatukan persaudaraan.

Bahkan dalam masa sulit seperti pandemi, spiritualitas Borobudur hadir sebagai kekuatan kolektif. Gerakan Ruwat Rawat Borobudur memimpin ritual Tolak Bala untuk memohon kepada Tuhan agar wabah segera diangkat. Melalui sesaji, air suci, dan mantera dari para pemuka spiritual yang telah membersihkan diri di sungai empat penjuru mata angin, masyarakat bersatu dalam doa.

Warisan Spiritual yang Hidup

Masyarakat Borobudur memandang candi ini bukan sebagai fosil sejarah, melainkan warisan spiritual yang hidup dan menyatu dalam tarikan napas mereka. Borobudur adalah bukti nyata moderasi beragama; sebuah tempat di mana semua orang bebas beribadah menurut keyakinannya dalam suasana saling menghormati, tanpa paksaan maupun kebencian.

Borobudur adalah pusat spiritualitas yang menebarkan energi kebaikan. Ia merawat keseimbangan alam mikrokosmos dan makrokosmos, mengingatkan kita bahwa di tengah kemajuan zaman yang hingar-bingar, kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan saat kita kembali ke batin yang jernih dan hubungan yang damai dengan Sang Pencipta.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default