Oleh:
Sucoro
Kegelisahan di Balik Kemajuan Zaman
Kehidupan
di era globalisasi saat ini, dengan kecanggihan teknologi dan penetrasi
industri yang masif, telah mengubah wajah peradaban manusia secara fundamental.
Kita hidup di zaman di mana eksistensi sering kali diukur dari apa yang tampak
di permukaan. Pola hidup masyarakat cenderung bergeser menjadi hedonistik,
konsumeristik, dan materialistik. Lewat media sosial, manusia terjebak dalam
perlombaan pamer keberadaan; berpikir keras tentang cara agar terlihat trendy,
gaul, dan kekinian di mata dunia.
Namun,
di balik gemerlap layar gawai, tersimpan sebuah ironi besar. Manusia seakan
lupa cara untuk benar-benar bertahan hidup (survive) di tengah tuntutan
kebutuhan yang kian membubung dan biaya pemenuhan hidup yang kian mahal.
Kemajuan teknologi, jika tidak dibarengi dengan kedalaman batin, justru
mengasingkan manusia dari nilai spiritual sebagai sumber kebahagiaan sejati.
Kita menjadi kaya akan materi, namun miskin akan kedamaian jiwa.
Spiritualisme: Penawar Dahaga Jiwa
Spiritualisme
sesungguhnya bukanlah sekadar persoalan agama formal, melainkan respon terhadap
kegersangan dunia akibat perubahan sosial. Rutinitas hidup yang mekanis sering
kali memunculkan ketegangan, baik secara pribadi maupun sosial. Ketegangan
inilah yang melahirkan "penyakit spiritual": kegelisahan kronis,
kehampaan makna, rasa tidak aman, hingga ketidakbahagiaan yang mendalam.
Dalam
kondisi kehilangan pijakan ini, manusia modern mulai mencari jalan pulang.
Banyak yang berusaha mengatasi kecemasan melalui meditasi dan yoga. Sebagian
lainnya memilih "mengasingkan diri" sejenak dari kegaduhan dunia
dengan mengikuti praktik tarekat atau laku batin. Inilah upaya manusia untuk
mendengarkan kembali hati nurani dan intuisi kreatifnya—sebuah ekspresi bahwa
ada kekuatan dahsyat yang datang dari kedalaman diri kita sendiri.
Borobudur sebagai Mandala Energi Semesta
Jika
agama sering kali dipahami sebagai institusi formal dengan ritus lahiriah,
spiritualitas melampaui itu semua. Ia adalah perjalanan batin menuju kesadaran
universal. Borobudur, dalam konteks ini, berdiri sebagai sebuah Mandala
Raksasa. Ia bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan manifestasi
bentangan alam yang menyatukan kekuatan energi dari lima gunung yang
mengepungnya dan dua sungai purba yang mengalirinya.
Masyarakat
Borobudur meyakini bahwa Candi ini adalah titik temu antara mikrokosmos (diri
manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Di sinilah ketenangan dan kedamaian
dihadirkan. Saat gundah atau ditimpa musibah, mereka datang ke Borobudur untuk
bermunajat. Bermeditasi di lorong-lorong candi dipercaya sebagai cara
menyatukan pikiran dengan energi alam yang terus bergerak dan berputar,
memberikan daya hidup bagi siapa saja yang melakukan kontemplasi di sana.
Ritual, Tradisi, dan Harapan
Bagi
masyarakat sekitar, bangunan punden berundak ini adalah tempat pemujaan
universal. Tidak peduli apa agama atau kepercayaannya, Borobudur terbuka bagi
siapa saja yang ingin mencari kesejukan batin. Ritual Pradaksina—berjalan
mengitari candi searah jarum jam—sering kali diikuti dengan meditasi khusyuk.
Fenomena
spiritual di Borobudur sangatlah beragam dan menyentuh sisi kemanusiaan yang
paling dasar:
- Ada yang datang
secara rutin setiap malam Purnama untuk menyerap energi bulan.
- Ada yang datang
saat kalut jiwa untuk mencari ketenangan.
- Bahkan ada
pasangan suami-istri yang belum dikaruniai buah hati, datang bermeditasi
dengan keyakinan spiritual bahwa tempat ini memberikan berkah kesuburan.
Borobudur
menjadi representasi nilai luhur Jawa: Memayu Hayuning Bawana.
Sebuah komitmen untuk menjaga keseimbangan, keindahan, dan keharmonisan hidup
agar tercapai kondisi tata-titi-tentrem.
Harmoni Ajaran: Dari Brahma Vihara hingga Hukum
Karma
Nilai-nilai
spiritualitas di Borobudur juga beririsan kuat dengan ajaran Buddha, khususnya Brahma
Vihara (Empat Kediaman Luhur). Ajaran ini meliputi Metta (cinta
kasih), Karuna (kasih sayang), Mudita (simpati), dan Upeksha
(keseimbangan batin). Ini adalah cara mengendalikan diri agar tidak
terombang-ambing oleh keglamoran dunia yang merusak batin.
Selaras
dengan itu, filosofi Jawa tentang Karma—Sapa nandur, bakalan ngunduh—mengingatkan
bahwa setiap perkataan dan perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Borobudur
mengajarkan kita untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam
kebaikan. Kesadaran ini memuncak pada ajaran Suwung: sebuah kondisi di
mana diri yang egois telah hilang, meninggalkan kekosongan yang berisi
kehadiran Tuhan semata. Inilah transformasi energi murni menuju kebahagiaan
sejati.
Borobudur sebagai Perekat Sosial dan Kemanusiaan
Spiritualitas
Borobudur juga memiliki dimensi sosial yang kental. Setiap tahun, saat Idulfitri,
Borobudur menjadi saksi indahnya silaturahmi. Masyarakat Muslim dari berbagai
daerah berbondong-bondong datang, membentang tikar, dan makan bersama di area
candi. Ada ungkapan, "Belum lebaran jika belum ke Borobudur." Di
sini, Borobudur menjadi ruang keluarga raksasa yang menyatukan persaudaraan.
Bahkan
dalam masa sulit seperti pandemi, spiritualitas Borobudur hadir sebagai
kekuatan kolektif. Gerakan Ruwat Rawat Borobudur memimpin ritual Tolak
Bala untuk memohon kepada Tuhan agar wabah segera diangkat. Melalui sesaji,
air suci, dan mantera dari para pemuka spiritual yang telah membersihkan diri
di sungai empat penjuru mata angin, masyarakat bersatu dalam doa.
Warisan Spiritual yang Hidup
Masyarakat
Borobudur memandang candi ini bukan sebagai fosil sejarah, melainkan warisan
spiritual yang hidup dan menyatu dalam tarikan napas mereka. Borobudur adalah
bukti nyata moderasi beragama; sebuah tempat di mana semua orang bebas
beribadah menurut keyakinannya dalam suasana saling menghormati, tanpa paksaan
maupun kebencian.
Borobudur
adalah pusat spiritualitas yang menebarkan energi kebaikan. Ia merawat
keseimbangan alam mikrokosmos dan makrokosmos, mengingatkan kita bahwa di
tengah kemajuan zaman yang hingar-bingar, kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan
saat kita kembali ke batin yang jernih dan hubungan yang damai dengan Sang
Pencipta.
