Nilai/ Value Borobudur Dalam Pelestaraian , Perlindungan Pemanfaatan

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Oleh Sucoro Setrodiharjo

Dalam diskursus kebudayaan kontemporer, nilai (value) bukan sekadar label harga atau angka statistik. Nilai adalah sesuatu yang mengandung kebermaknaan mendalam dan kebermanfaatan luas; ia adalah kompas yang menjunjung tinggi martabat manusia, memberikan arah tujuan, serta menjadi acuan bagi keberlangsungan hidup. Nilai bertindak sebagai jembatan bagi manusia untuk mengenal, beradaptasi, dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Melalui nilailah, identitas dan karakter sebuah bangsa dibentuk, dievaluasi, dan diinterpretasikan.

Candi Borobudur hadir sebagai manifestasi dari hasil karya, cipta, rasa, dan karsa manusia yang paling luhur. Di balik kemegahan arsitektur batunya, Borobudur menyimpan nilai-nilai tak benda (intangible) yang menjadi simbol kualitas, kejayaan, dan kemajuan peradaban masa lalu yang tetap relevan bagi masa depan.

Borobudur: Pusaka, Pustaka, dan Pujangga

Borobudur tidak bisa hanya dipandang sebagai monumen mati. Ia adalah Pusaka (warisan suci), Pustaka (sumber ilmu pengetahuan), dan Pujangga (penyampai pesan moral dan keindahan). Nilai spiritualitas Borobudur berakar pada pandangan hidup Memayu Hayuning Bawana—sebuah filosofi untuk mempercantik dunia yang sudah indah melalui keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam semesta.

Spiritualitas ini bukan sekadar konsep abstrak, melainkan cerminan dari peradaban yang matang. Ia merupakan objek pemajuan kebudayaan yang hidup, yang mencakup:

  • Adat Istiadat dan Ritus: Upacara keagamaan dan kepercayaan yang menyatukan masyarakat.
  • Tradisi Lisan: Siklus kehidupan, merti desa, hingga sedekah bumi yang menjadi memori kolektif.
  • Pengetahuan Tradisional: Tata busana, sistem pertanian, kuliner (tata boga), hingga pengobatan tradisional yang terekam secara turun-temurun.
  • Kesenian: Seni pertunjukan, seni lukis, dan seni musik yang menjadi bahasa universal keindahan.

Relief Borobudur: Ensiklopedia Kebudayaan Jawa

Borobudur adalah warisan tak benda yang mengandung sepuluh objek kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Keunikan Borobudur terletak pada kemampuan reliefnya dalam "bercerita". Pada panel-panel relief Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka-Awadana, hingga Gandawyuda, kita tidak hanya menemukan sejarah perjalanan sang Buddha, tetapi juga potret dinamika kehidupan masyarakat Jawa kuno.

Pahatan tersebut menampilkan alat musik, jenis tanaman, teknik bertani, hingga arsitektur rumah pada masa itu. Karena Borobudur berdiri di Tanah Jawa, maka budaya dan peradaban yang tumbuh di sekelilingnya adalah nafas budaya Jawa. Inilah yang kita sebut sebagai Living Tradition—sebuah tradisi yang terus hidup dan menjadi identitas serta karakter bangsa yang beradab, berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila.

Asas Pemajuan Kebudayaan dalam Pengelolaan Kawasan

Sesuai dengan Pasal 2 UU Nomor 5 Tahun 2017, pemajuan kebudayaan harus berasaskan religiusitas, toleransi, keberagaman, kelokalan, partisipatif, dan gotong royong. Nilai estetika dan etika yang terpancar dari Borobudur harus menjadi instrumen untuk menata perubahan sosial di era globalisasi.

Spiritualitas di sini bertindak sebagai "pembungkus" sekaligus motor penggerak. Dalam memajukan pariwisata Borobudur, pemerintah dan pemangku kepentingan tidak boleh hanya mengejar angka kunjungan, melainkan harus mengutamakan pelestarian dan pengembangan nilai objek kebudayaan tersebut. Kebudayaan harus menjadi ujung tombak pariwisata yang berkelanjutan, bukan sekadar pelengkap dekorasi.

Menuju Spiritual Tourism: Paradigma Baru Pariwisata Berkualitas

Objek pemajuan kebudayaan Borobudur adalah sumber inspirasi, aspirasi, dan inovasi yang tidak pernah kering. Ia adalah cetak biru (blue print) nasional untuk menata peradaban bangsa yang berkelanjutan. Maka, pemanfaatan Borobudur harus bergeser menuju konsep Spiritual Tourism.

Pariwisata berbasis spiritualitas berarti:

  1. Pariwisata Berkualitas: Mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual yang inheren dalam diri rakyat, bukan sekadar tontonan komersial.
  2. Pelestarian Budaya Lokal: Menghargai tradisi sekitar sebagai bagian tak terpisahkan dari candi.
  3. Kolaborasi Lintas Budaya: Mendorong dialog dan kerja sama antarbudaya yang saling menghormati.
  4. Kemandirian dan Harkat: Memberdayakan potensi tanah air secara mandiri sehingga masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama yang bermartabat.

Warisan untuk Masa Depan

Pemanfaatan Borobudur secara bijaksana akan meningkatkan harkat umat manusia. Dengan merawat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kita sedang membangun peradaban yang berkemajuan tanpa kehilangan jati diri. Borobudur adalah saksi bisu bahwa kekuatan spiritualitas mampu membungkus dan menata perubahan, membawa kita menuju masa depan yang tetap harmonis dengan akar tradisi.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default