Oleh Sucoro Setrodiharjo
Dalam diskursus kebudayaan kontemporer, nilai
(value) bukan sekadar label harga atau angka statistik. Nilai adalah
sesuatu yang mengandung kebermaknaan mendalam dan kebermanfaatan luas; ia
adalah kompas yang menjunjung tinggi martabat manusia, memberikan arah tujuan,
serta menjadi acuan bagi keberlangsungan hidup. Nilai bertindak sebagai
jembatan bagi manusia untuk mengenal, beradaptasi, dan bersosialisasi dengan
lingkungannya. Melalui nilailah, identitas dan karakter sebuah bangsa dibentuk,
dievaluasi, dan diinterpretasikan.
Candi Borobudur hadir sebagai manifestasi dari hasil
karya, cipta, rasa, dan karsa manusia yang paling luhur. Di balik kemegahan
arsitektur batunya, Borobudur menyimpan nilai-nilai tak benda (intangible)
yang menjadi simbol kualitas, kejayaan, dan kemajuan peradaban masa lalu yang
tetap relevan bagi masa depan.
Borobudur: Pusaka, Pustaka, dan
Pujangga
Borobudur tidak bisa hanya dipandang sebagai
monumen mati. Ia adalah Pusaka (warisan suci), Pustaka (sumber
ilmu pengetahuan), dan Pujangga (penyampai pesan moral dan keindahan).
Nilai spiritualitas Borobudur berakar pada pandangan hidup Memayu
Hayuning Bawana—sebuah filosofi untuk mempercantik dunia yang sudah
indah melalui keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan
sesamanya, dan manusia dengan alam semesta.
Spiritualitas ini bukan sekadar konsep abstrak,
melainkan cerminan dari peradaban yang matang. Ia merupakan objek pemajuan
kebudayaan yang hidup, yang mencakup:
- Adat
Istiadat dan Ritus: Upacara keagamaan dan kepercayaan yang
menyatukan masyarakat.
- Tradisi
Lisan:
Siklus kehidupan, merti desa, hingga sedekah bumi yang menjadi
memori kolektif.
- Pengetahuan
Tradisional: Tata
busana, sistem pertanian, kuliner (tata boga), hingga pengobatan
tradisional yang terekam secara turun-temurun.
- Kesenian: Seni pertunjukan, seni
lukis, dan seni musik yang menjadi bahasa universal keindahan.
Relief Borobudur: Ensiklopedia
Kebudayaan Jawa
Borobudur adalah warisan tak benda yang mengandung
sepuluh objek kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Keunikan Borobudur terletak pada
kemampuan reliefnya dalam "bercerita". Pada panel-panel relief Karmawibangga,
Lalita Wistara, Jataka-Awadana, hingga Gandawyuda, kita tidak hanya
menemukan sejarah perjalanan sang Buddha, tetapi juga potret dinamika kehidupan
masyarakat Jawa kuno.
Pahatan tersebut menampilkan alat musik, jenis
tanaman, teknik bertani, hingga arsitektur rumah pada masa itu. Karena
Borobudur berdiri di Tanah Jawa, maka budaya dan peradaban yang tumbuh di
sekelilingnya adalah nafas budaya Jawa. Inilah yang kita sebut sebagai Living
Tradition—sebuah tradisi yang terus hidup dan menjadi identitas serta
karakter bangsa yang beradab, berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila.
Asas Pemajuan Kebudayaan dalam
Pengelolaan Kawasan
Sesuai dengan Pasal 2 UU Nomor 5 Tahun 2017,
pemajuan kebudayaan harus berasaskan religiusitas, toleransi, keberagaman,
kelokalan, partisipatif, dan gotong royong. Nilai estetika dan etika yang
terpancar dari Borobudur harus menjadi instrumen untuk menata perubahan sosial
di era globalisasi.
Spiritualitas di sini bertindak sebagai
"pembungkus" sekaligus motor penggerak. Dalam memajukan pariwisata
Borobudur, pemerintah dan pemangku kepentingan tidak boleh hanya mengejar angka
kunjungan, melainkan harus mengutamakan pelestarian dan pengembangan nilai
objek kebudayaan tersebut. Kebudayaan harus menjadi ujung tombak pariwisata
yang berkelanjutan, bukan sekadar pelengkap dekorasi.
Menuju Spiritual Tourism:
Paradigma Baru Pariwisata Berkualitas
Objek pemajuan kebudayaan Borobudur adalah sumber
inspirasi, aspirasi, dan inovasi yang tidak pernah kering. Ia adalah cetak biru
(blue print) nasional untuk menata peradaban bangsa yang berkelanjutan.
Maka, pemanfaatan Borobudur harus bergeser menuju konsep Spiritual
Tourism.
Pariwisata berbasis spiritualitas berarti:
- Pariwisata
Berkualitas:
Mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual yang inheren dalam diri rakyat,
bukan sekadar tontonan komersial.
- Pelestarian
Budaya Lokal:
Menghargai tradisi sekitar sebagai bagian tak terpisahkan dari candi.
- Kolaborasi
Lintas Budaya:
Mendorong dialog dan kerja sama antarbudaya yang saling menghormati.
- Kemandirian
dan Harkat:
Memberdayakan potensi tanah air secara mandiri sehingga masyarakat lokal
tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama yang bermartabat.
Warisan untuk Masa Depan
Pemanfaatan Borobudur secara bijaksana akan meningkatkan
harkat umat manusia. Dengan merawat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,
kita sedang membangun peradaban yang berkemajuan tanpa kehilangan jati diri.
Borobudur adalah saksi bisu bahwa kekuatan spiritualitas mampu membungkus dan
menata perubahan, membawa kita menuju masa depan yang tetap harmonis dengan
akar tradisi.
