Meneguh Kedaulatan, Melangitkan Doa, dan Membumikan
Ideologi Memberi
Oleh:
Dedi Supriadi Adhuri, Ph.D. (Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Kebudayaan-LIPI)
Berbicara
tentang revitalisasi dan pemeliharaan budaya Borobudur tanpa menyebut nama Pak
Sucoro dan Warung Info Jagad Cleguk adalah sebuah kekeliruan
sejarah. Mas Coro adalah motor penggerak dari sebuah gerakan "aneh"
namun cerdas: gerakan memvisualisasikan nilai-nilai intangible (tidak
tampak) dari Candi Borobudur menjadi laku hidup yang kasat mata. Gerakan ini
tidak hanya menyentuh warga dusun, tetapi juga menarik simpati komunitas dari
Bali hingga mahasiswa mancanegara yang sedang melakukan riset atau sekadar
berwisata.
Melalui
riset LIPI sejak 2012, kami menemukan sebuah pergeseran paradigma yang
mengkhawatirkan. Sejak Borobudur berubah status dari Taman Cagar Budaya menjadi
Taman Wisata pada 1980-an, pengelolaan candi didominasi oleh Ideologi
Pemanfaatan. Borobudur hanya dipandang sebagai objek eksploitasi ekonomi.
Dampaknya nyata: nilai candi dikerdilkan, komunitas terpecah belah, dan konflik
kepentingan meruncing.
Di
tengah kegersangan spiritual itulah, Ruwat Rawat lahir dengan Ideologi
Memberi. Mas Coro mengajarkan bahwa eksploitasi harus dibarengi dengan
gerakan memberi kembali. Ruwat Rawat adalah cara masyarakat "berterima
kasih" kepada Candi atas segala kucuran rezeki dan inspirasi yang telah
diberikan selama ribuan tahun. Dalam dunia yang serba uang, gerakan ini
menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran yang dilakukan dengan sukacita.
Inilah pendekatan integratif dan kolaboratif yang sesungguhnya; sebuah koreksi
strategis terhadap pendekatan top-down pemerintah dan BUMN yang sering
kali gagal karena terlalu fokus pada optimalisasi nilai ekonomi semata.
Pengantar: Panggilan Jiwa dan Gerakan "Anak
Ayam di Lumbung Padi"
Oleh:
Sucoro (Warung Info Jagad Cleguk)
Assalamu’alaikum
Wr. Wb. Puji syukur ke hadirat Allah SWT, sejak tahun 2003
hingga kini, api semangat Ruwat Rawat Borobudur tidak pernah padam. Warung
Info Jagad Cleguk atau Brayat Penangkaran bukan sekadar tempat
informasi; ia adalah ruang publik, sebuah public sphere tempat
bertemunya berbagai jaringan lintas dusun, lintas agama, dan lintas
kepentingan.
Kami
bergerak dengan kegelisahan yang dalam. Sungguh ironis melihat Candi Borobudur
begitu mendunia, namun kebudayaan masyarakat di sekitarnya justru
memprihatinkan. Kami merasa seperti "anak ayam yang mati di lumbung
padi." Gamelan kami tidak punya, kostum kesenian compang-camping, dan
beberapa tradisi lokal hampir punah ditelan zaman. Oleh karena itu, kami
bersepakat mengikat diri dalam Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya
Magelang.
Visi
kami jelas: Mewujudkan budaya lokal yang mendukung kelestarian destinasi
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui Ruwat Rawat yang
digelar berbulan-bulan, kami menghadirkan Safari Budaya, Bhakti Sosial dengan
pembagian sayuran gratis, hingga puncak acara Sendratari Kidung
Karmawibhangga. Kami ingin membuktikan bahwa modal sosial dan keikhlasan
jauh lebih sakti daripada sekadar modal finansial. Kami mengundang Bapak/Ibu
untuk memberikan saran dan evaluasi, agar buku "Harmoni Kehidupan"
yang kami terbitkan setiap tahun ini menjadi cermin perbaikan bagi kita semua.
Epilog: Membaca Kitab Kehidupan di Lembah Mandala
Oleh:
M. Baiquni
Fajar
di puncak Punthuk Setumbu adalah momen di mana jiwa dan raga bersatu
dengan alam. Saat cahaya ungu jingga merekah dan embun menetes dari ilalang,
Borobudur nampak begitu nyata di bawah bayangan kokoh Merapi dan Merbabu.
Borobudur tidak berdiri sendiri; ia adalah jantung dari sebuah lembah subur (inter-mountain
basin) yang dialiri dua sungai suci, Progo dan Elo. Sejarah mencatat bahwa
peradaban besar selalu lahir di tepian sungai, dan Borobudur adalah puncak dari
pengorganisasian manusia yang luar biasa pada abad VIII hingga XI.
Namun
hari ini, Borobudur sedang menghadapi beban yang berat. Pertumbuhan ekonomi
yang cepat, konversi lahan ke investor luar, dan pariwisata masal telah
menyebabkan dekadensi budaya. Borobudur cenderung disekularisasi—hanya dianggap
sebagai komoditas pariwisata yang memutus generasi dari makna historis dan
kohesi spiritual. Masyarakat lokal mulai kehilangan adat istiadatnya karena
terkontaminasi gaya hidup materialistik.
Ruwat
Rawat adalah upaya "nguri-uri" untuk mencegah kehancuran tersebut.
Gerakan ini berorientasi pada pencerahan batin dan pelestarian harmoni.
Pariwisata yang kita butuhkan adalah Pariwisata Holistik Berbasis
Pengetahuan, bukan sekadar mengejar statistik kunjungan. Borobudur harus
diletakkan kembali pada posisinya sebagai pusat tatanan Mandala. Buku
ini adalah dokumentasi dari perjuangan para seniman dan budayawan yang
"turun gunung" secara gotong-royong demi menjaga marwah leluhur.
Melalui refleksi ini, kita berharap dapat menemukan kembali intisari kehidupan
yang membahagiakan di bawah naungan agung Candi Borobudur.
Borobudurku,
Borobudurmu, Borobudur Kita. Lestarikan Borobudur!
