Menyisir Jejak Tradisi, Membaca Kitab
Kehidupan, dan Merajut Kedaulatan di Kaki Mandala
Prolog: Borobudur dan Buku Kehidupan Sang Penjaga
(Oleh:
M. Baiquni)
Borobudur
bukanlah sekadar tumpukan batu andesit yang bisu; ia adalah buku yang tak
pernah habis dibaca. Halaman demi halamannya memuat pesan kehidupan dalam
simbol relief batu yang mampu menembus batas seribu tahun. Jutaan manusia telah
melintasi waktu untuk melakukan ziarah batin maupun kunjungan wisata, mencoba
menangkap apa yang tersurat dan tersirat dari struktur bangunan yang penuh
makna multidimensi ini.
Jika
dipandang dari sudut mata elang, Borobudur nampak seperti bunga teratai yang
mekar di atas danau purba. Jejak perairan itu masih bisa kita lacak melalui
endapan lumpur dan toponimi desa di sekitarnya—seperti Sabrang Rowo, Segaran,
hingga Banyu Mudal. Namun kini, ekosistem itu telah berubah. Permukiman
dan modernitas perlahan menenggelamkan lanskap alami tersebut. Di sinilah
pentingnya imajinasi: kita diajak berkelana melalui time tunnel (lorong
waktu) untuk melihat Borobudur bukan hanya sebagai objek masa lalu, tapi
sebagai subjek yang terus mengirimkan pesan bagi masa depan.
Namun,
di tengah gegap gempita proyek-proyek besar—mulai dari penelitian mahasiswa
hingga rencana infrastruktur The World Bank—muncul sebuah pertanyaan
fundamental: Atas kepentingan siapa proyek itu dilaksanakan? Apakah
menyentuh kedaulatan warga lokal atau justru menciptakan ketergantungan baru
pada birokrasi? Di sudut luar pagar candi, berdiri Warung Info Jagad Cleguk.
Sebuah tempat sederhana yang menjadi pusat dokumentasi rakyat. Di sana, sosok Sucoro—seorang
budayawan pinggiran yang pernah tergusur proyek pemugaran—dengan tekun merajut
informasi, menjaga kedaulatan berpikir warga agar tidak tergerus oleh arus
global yang "meratakan" dunia (The World is Flat).
Bagian I: Pergulatan Nilai dan Ideologi Memberi
(Oleh:
Sucoro)
Borobudur
adalah situs sejarah peradaban bangsa sekaligus catatan reflektif bagi siapa saja
yang mau bercermin padanya. Namun, kenyataan hari ini cukup memprihatinkan.
Borobudur telah menjadi komoditi pariwisata yang sangat maju, namun di saat
yang sama, ia meninggalkan budaya masyarakat sekitarnya dalam kesunyian. Kita
menyaksikan sebuah proses sekularisasi, di mana candi hanya dipandang sebagai
"sumber daya ekonomi" dan memutus generasi dari kohesi spiritual
serta makna historisnya.
Masyarakat
lokal kini seolah menjadi "anak ayam yang mati di lumbung padi."
Kita memiliki warisan dunia yang megah, namun kesenian rakyat di sekitarnya
banyak yang mati atau hidup dalam kondisi compang-camping tanpa alat musik yang
layak.
Buku
keempat saya ini, "Imajinasi Peradaban Borobudur dari Masa Ke
Masa", lahir sebagai ajakan untuk melakukan reset ingatan. Kita
perlu kembali melihat relief Kamadhatu—khususnya 160 panel Karmawibhangga
di dasar candi. Ia menceritakan hukum sebab-akibat. Karma adalah buah dari
perbuatan. Melalui gerakan Ruwat Rawat Borobudur, kami menawarkan "Ideologi
Memberi." Selama ini Borobudur telah banyak memberi kepada kita,
sekarang saatnya kita memberi kembali melalui kasih sayang, kepedulian, dan
pengorbanan. Perubahan nasib tidak akan datang dari kebijakan luar, melainkan
dari keberanian kita mengubah diri sendiri, dengan Borobudur sebagai kompas
inspirasinya.
Bagian II: Pariwisata Berbasis Budaya dan Efek
Berganda
Pariwisata
berbasis budaya kini menjadi perhatian dunia karena perannya yang besar
terhadap pengentasan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja. Namun,
pembangunan pariwisata memiliki dua wajah: Tonic (obat) dan Toxic
(racun). Manfaat positifnya nampak pada tumbuhnya sanggar seni, galeri,
industri kerajinan, hingga lokomotif bagi sektor pertanian dan usaha riil di
desa-desa.
Namun,
agar manfaat ini berkelanjutan, diperlukan strategi kemitraan yang kuat antara
pengusaha besar dan pelaku UKM di desa. Kita membutuhkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang tidak hanya paham cara melayani wisatawan, tapi juga mengerti arti
penting warisan budaya (heritage). Dengan menjadikan masyarakat lokal
sebagai "Tuan Rumah" yang berdaulat, maka akan muncul kebanggaan.
Wisatawan tidak lagi sekadar datang untuk melihat batu, tapi untuk berbagi
kebahagiaan. Inilah kunci pariwisata berkelanjutan: ketika pengunjung
merasakan kemakmuran dan turut serta memakmurkan masyarakat setempat.
Bagian III: Penutup – Teropong Masa Depan dan
Kemandirian
(Oleh:
Dedi Supriadi Adhuri, Ph.D. – LIPI)
Buku
ini merupakan kado untuk merayakan Dwi Windhu (16 Tahun) Ruwat Rawat
Borobudur. Sebagai penutup, saya memberikan catatan bertajuk
"Teropong"—sebuah pandangan ke depan tentang bagaimana gerakan ini
harus bertahan.
Gerakan
Ruwat Rawat yang dikomandoi Mas Coro adalah bukti konsistensi rakyat dalam
mengawal revitalisasi budaya. Gerakan ini adalah antitesis dari pengelolaan top-down
yang sering kali menihilkan aspirasi komunitas. Ruwat Rawat berhasil
menunjukkan bahwa Borobudur memiliki nilai edukasi, akademik, estetika, dan
spiritual yang tak ternilai harganya bagi keberagaman Indonesia (Bhinneka
Tunggal Ika).
Kunci
keberlanjutan Ruwat Rawat ke depan terletak pada tiga hal:
- Penguatan
Ideologi Inklusif: Terus memberi ruang bagi lintas agama
(Islam, Kristen, Hindu, Kejawen) untuk memberi makna pada Borobudur.
- Penguatan
Jaringan: Sudah saatnya tanggung jawab ini tidak hanya bertumpu
pada sosok personal Mas Coro, melainkan beralih ke kekuatan jaringan
komunitas agar gerakan ini tetap hidup meski tokohnya telah berganti.
- Mobilisasi Dana
Dasar: Diperlukan usaha bersama untuk memastikan
adanya "dana abadi" agar organisasi Warung Info tidak lagi
pontang-panting setiap tahun dalam memfasilitasi "saweran"
budaya ini.
Kesimpulan
Borobudur
adalah magnet yang memiliki kekuatan sentripetal dan sentrifugal. Jika dikelola
dengan sinergi antara ilmu pengetahuan, ketulusan masyarakat, dan kebijakan
yang adil, maka energi ini akan bertransformasi menjadi cahaya peradaban baru.
Mari kita rawat harmoni ini, bukan karena kita ingin populer, tapi karena kita
ingin mewariskan catatan yang layak bagi anak cucu kita kelak.
Salam
Budaya, Borobudurku, Borobudurmu, Borobudur Kita.
