Kompleksitas Kepentingan Dan Karma , AI Membukan kanal infomasi

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Akar dari konflik kepentingan di Borobudur adalah sebuah "dosa sejarah" yang dilakukan sejak penetapannya sebagai objek wisata (1980–1984). Pembangunan Taman Wisata Candi (TWC) berdiri di atas penggusuran 367 Kepala Keluarga dari lima dusun: Kenayan, Ngaran Krajan, sebagian Gendingan, Sabrangrawa, dan Gopalan. Sejak saat itu, warga lokal tidak hanya kehilangan tanah, tetapi juga hak atas masa depan mereka di tanah sendiri.

Kebijakan operasional yang diskriminatif seperti penyamaan status pedagang korban gusuran dengan pendatang baru, serta penutupan pintu-pintu akses yang mematikan ekonomi warga Medangkamolan adalah benih "sebab" yang buruk. Selama puluhan tahun, luka batin ini ditutup-tutupi oleh narasi tunggal pengelola. Namun, dalam hukum alam, setiap sebab pasti akan melahirkan akibat.

AI: Manifestasi Hukum Karma dalam Data

Dalam filosofi Borobudur, tataran paling bawah (Kamadhatu) mengajarkan kita tentang hukum sebab-akibat atau Karmawibhangga. Di era modern ini, hukum Karma tersebut menemukan jalannya melalui teknologi Artificial Intelligence (AI).

Jika selama ini laporan birokrasi bersifat tertutup dan penuh kompromi parsial, AI datang sebagai pendobrak transparansi. Ia mengumpulkan data mentah, membandingkan janji pembangunan dengan fakta di lapangan, dan menyajikannya secara lugas tanpa filter. AI adalah "mata" yang mampu melihat apa yang selama ini coba disembunyikan di bawah megahnya batu candi.

  1. Hukum Karma Digital: AI bekerja menghitung "akibat" dari kebijakan yang salah di masa lalu. Data mengenai mangkraknya program kemitraan atau marginalisasi ekonomi lokal disajikan sebagai fakta yang tak terbantahkan. Kebijakan yang tidak adil di masa lalu kini menemukan konsekuensi logisnya melalui keterbukaan informasi yang masif.
  2. Fenomena "Dadal": Informasi yang selama ini tersumbat dalam menara gading birokrasi tiba-tiba mengalir deras. Ia ibarat bendungan yang lama retak dan kini "dadal" (jebol). Pintu menara gading itu pecah, dan informasi mengalir dari meja rapat hingga ke warung kopi, dari dosen hingga pengemudi ojek.
  3. Laboratorium Fiskal Rakyat: Media sosial (X, TikTok, dsb) kini berubah menjadi ruang seminar terbuka. Masyarakat tidak lagi menjadi penonton yang pasif, melainkan analis kebijakan yang memegang data. AI memberikan senjata data kepada masyarakat lokal untuk menuntut pertanggungjawaban atas janji-janji sejarah yang diingkari.

Membedah Gegar Budaya: Pemulihan Martabat

Transisi paksa dari petani menjadi pelayan wisatawan meninggalkan luka culture shock (gegar budaya) yang mendalam. Selama 40 tahun, penderitaan sosiologis warga tersimpan rapat dalam memori kolektif yang bisu. Namun, AI bertindak sebagai lensa pembesar yang mengungkap tabir tersebut melalui:

  • Validasi Historis: Menghubungkan pergeseran kepemilikan lahan tahun 1980 dengan data penurunan kesejahteraan hari ini.
  • Penyambung Lidah yang Terabaikan: Mengubah kegelisahan masyarakat kaki Menoreh suara-suara otodidak yang jujur menjadi narasi yang setara dan mampu berdebat dengan bahasa para teknokrat.

Kesimpulan Tantangan pengelolaan Borobudur hari ini bukan lagi soal teknis, melainkan soal hati nurani dan kejujuran. AI telah membuka 'kran' informasi yang lama tersumbat. Kini, bola ada di tangan para pemangku kebijakan. Apakah mereka akan terus bersembunyi di balik narasi lama, atau berani menghadapi kejernihan data ini untuk membangun sistem yang selaras dengan nilai kemanusiaan?

Bagi masyarakat lokal, keterbukaan ini adalah soal pemulihan martabat. Kami tidak lagi menjadi "penonton yang gagap" di halaman rumah sendiri, melainkan pemilik data yang menuntut keadilan berdasarkan hukum sebab-akibat yang nyata.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default