Memulihkan Modal Sosial: Merajut Kembali Harapan di Tanah Borobudur

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Menyembuhkan Luka Empat Dekade

Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Setelah membedah akar kegaduhan, fragmentasi sosial, hingga krisis perwakilan, kita sampai pada satu titik kesadaran: Borobudur tidak akan pernah benar-benar damai hanya dengan perbaikan infrastruktur atau penambahan aturan keamanan. Yang paling mendesak untuk diperbaiki adalah Modal Sosial yang telah hancur.

Memulihkan modal sosial berarti menyembuhkan luka kepercayaan (distrust) yang telah mengendap selama 40 tahun. Ini bukan pekerjaan instan, melainkan sebuah proses restorasi kemanusiaan untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan masyarakat yang sempat terbelah oleh kepentingan ekonomi dan kebijakan yang tidak adil.

Membangun Kembali Pilar Kepercayaan

Langkah pertama dalam pemulihan ini adalah membangun kembali Kepercayaan (Trust). Pengelola harus mulai menunjukkan itikad baik melalui tindakan nyata, bukan sekadar janji-janji manis dalam sosialisasi. Kepercayaan hanya bisa tumbuh jika:

  1. Dialog Murni: Membuka ruang komunikasi yang setara, di mana kritik tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai masukan berharga.
  2. Transparansi Radikal: Menghilangkan praktik "kompromi di bawah meja" dan memastikan setiap kebijakan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat.
  3. Konsistensi: Antara apa yang diucapkan di ruang publik dengan apa yang dilaksanakan di lapangan haruslah sejalan.

Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

Sinergi multi-stakeholder hanya bisa terjadi jika semangat gotong royong dihidupkan kembali. Namun, gotong royong di abad ke-21 tidak bisa lagi hanya dimaknai sebagai kerja bakti fisik. Ia harus bertransformasi menjadi Gotong Royong Kebijakan.

Artinya, setiap elemen masyarakat merasa memikul tanggung jawab yang sama karena mereka merasa memiliki hak yang sama. Ketika masyarakat kembali merasa "akur" dan kompak dalam satu visi, maka kegaduhan yang dipicu oleh konflik antar-kelompok akan mereda dengan sendirinya. Modal sosial yang kuat akan menjadi benteng pertahanan terbaik bagi kelestarian Borobudur, jauh lebih kuat daripada pagar kawat berduri atau pasukan pengamanan mana pun.

Penutup: Mengembalikan Borobudur kepada Hakikatnya

Membangun kembali Borobudur menjadi ruang yang damai adalah sebuah kerja besar peradaban. Kita harus berani melihat fakta pahit dari rapot merah selama 40 tahun terakhir agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Borobudur sejatinya adalah manifestasi fisik dari perjalanan menuju pencerahan. Maka, sudah sepatutnya pengelolaan kawasan ini juga mencerminkan nilai-nilai pencerahan tersebut: keadilan, kejujuran, dan kebersamaan. Perubahan dari charity-based menjadi policy-based partnership adalah harga mati untuk mewujudkan harmoni.

Biarkan batu-batu Borobudur tetap membisu, namun biarkan masyarakat di sekelilingnya bersuara dalam harmoni. Ketika "ruh" spiritualitas kembali berpadu dengan keadilan sosial, maka Borobudur tidak hanya akan menjadi monumen masa lalu yang megah, tetapi akan menjadi sumber kedamaian yang hidup bagi generasi masa depan. Kegaduhan akan berganti dengan sinergi, dan Mandala yang terluka itu akhirnya akan menemukan kesembuhannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default