Redaksi
Blog Ruwat Rawat Borobudur
Selama
empat dekade, kita mungkin telah keliru dalam mendefinisikan kata
"merawat". Merawat Borobudur bukan sekadar soal mengamankan struktur
fisik dari gerusan cuaca atau jejak kaki pengunjung yang kian masif. Merawatnya
adalah upaya menjaga denyut solidaritas agar tetap hidup di dalam dada setiap
orang yang memandangnya.
Ketika
kita berbicara tentang "menjual" Borobudur, kita tidak sedang
menawarkan komoditas benda mati demi keuntungan materi semata. Kita sedang
menawarkan sebuah perasaan—sebuah pengalaman transendental yang mengajak
setiap jiwa untuk menemukan kembali kepingan kemanusiaannya yang kian hari kian
hilang di telan zaman.
Menjual Empati, Bukan Transaksi
Menjual
dengan perasaan berarti menempatkan empati di atas transaksi. Ia adalah sebuah
ajakan untuk duduk bersimpuh di hadapan sejarah, mendengarkan bisikan sunyi
dari batu-batu yang bercerita tentang kesabaran, cinta kasih, dan pengorbanan
leluhur. Di sinilah Nada Solidaritas itu bergema. Ia adalah frekuensi
yang menyatukan perbedaan, mengingatkan kita bahwa di bawah langit yang sama,
kita semua adalah musafir yang sedang belajar membaca kitab kehidupan.
Melalui
pendekatan ini, Borobudur tidak lagi dipandang sebagai objek wisata yang
eksploitatif, melainkan sebagai subjek yang memberikan pencerahan. Kita tidak
hanya menjual pemandangan matahari terbit di antara stupa, tetapi kita
menawarkan kesadaran akan hakikat keterhubungan yang suci: harmoni antara diri
kita, sesama manusia, alam lingkungan, dan Sang Pencipta.
"Perjalanan Pulang" ke Dalam Diri
Menjual
Borobudur dengan perasaan berarti kita tidak sedang menjajakan tiket, melainkan
menawarkan "perjalanan pulang" ke dalam diri sendiri. Borobudur
adalah bukti nyata bahwa sebuah karya agung lahir bukan dari persaingan,
melainkan dari kolaborasi rasa yang mendalam antara ciptaan dan Penciptanya.
Oleh
karena itu, setiap orang yang datang ke Borobudur seharusnya tidak pulang hanya
dengan galeri foto yang penuh dengan pose menantang, melainkan dengan hati yang
lebih luas. Perbedaan keyakinan di selasar candi ini seharusnya bukan lagi
menjadi tembok, melainkan warna yang memperkaya pemahaman kita tentang makna
hidup yang selaras dengan alam semesta.
Menembus Kegagalan 40 Tahun dengan Kesadaran
Kolektif
Kita
harus jujur mengakui bahwa selama 40 tahun terakhir, pengelolaan yang kaku
telah menimbulkan kegaduhan. Namun, ketika filosofi "satu tubuh" ini
meresap ke dalam sanubari setiap pengelola, maka pekerjaan bukan lagi dirasakan
sebagai beban instruksi, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang tulus.
- Tanpa Ego Sektoral: Kegagalan di satu sudut
adalah luka bagi seluruh kawasan.
- Keberpihakan pada Rakyat: Jika masyarakat sekitar merasa
terpinggirkan, maka tubuh Borobudur sebenarnya sedang merintih kesakitan.
- Spiritualitas sebagai
Kompas:
Jika ruh spiritualnya meredup, maka seluruh ekosistem di sekitarnya akan
kehilangan arah.
Mengelola
dengan rasa berarti menciptakan simfoni antara batu yang bisu, alunan gamelan
yang menggema, dan tangan-tangan yang merawat. Kanalisasi budaya bagi
masyarakat lokal bukan sekadar "hiburan tambahan" bagi wisatawan,
melainkan napas yang membuat Borobudur tetap hidup dan relevan bagi zamannya.
Pusat Gravitasi Rasa
Pekerjaan
berat yang sempat gagal kini menjadi ringan karena dilakukan dengan kesadaran
kolektif, bukan paksaan. Konflik mereda karena solidaritas mengedepankan dialog
rasa di atas kepentingan pribadi. Keberlanjutan terjaga karena semua pihak merasa
menjadi "pemilik warisan budaya" yang wajib menjaga rumah besar ini
bersama-sama.
Inilah
wujud nyata dari Pusat Gravitasi Rasa. Sebuah pengelolaan yang tidak
hanya mengejar angka kunjungan, tetapi menjaga agar detak jantung Borobudur
tetap selaras dengan detak jantung manusia-manusia di sekelilingnya. Dengan
nada solidaritas ini, kita tidak sedang bekerja untuk benda mati; kita sedang
merawat kehidupan kita itu sendiri.
