Redaksi
Bloger Ruwat Rawat Borobudur
Borobudur
seringkali dijuluki sebagai monumen Buddha terbesar di dunia. Namun, jika kita
hanya melihatnya dari lensa angka dan skala, kita telah gagal menangkap
hakikatnya. Borobudur bukanlah sekadar tumpukan batu andesit yang membisu dalam
keheningan sejarah. Ia adalah "Ruh" yang hidup, sebuah napas
yang terus berdenyut melintasi sekat-sekat zaman, membawa pesan yang tak pernah
usang bagi siapa saja yang mau mendengar dengan hati.
Borobudur: Lebih dari Sekadar Objek Fisik
Dalam
diskursus pelestarian, kita sering terjebak pada upaya konservasi
fisik—memastikan batu tidak keropos atau lumut tidak menjalar. Tentu itu
penting, namun tanpa pemahaman mendalam akan nilai spiritualnya, upaya tersebut
hanya akan menghasilkan raga yang tegak namun kehilangan jiwa.
Borobudur
harus diposisikan sebagai tiga pilar utama kehidupan:
- Wadah Solidaritas: Tempat di mana keberagaman
manusia, dari berbagai latar belakang dan keyakinan, bertemu dalam satu
harmoni yang sama.
- Simbol Kehidupan: Manifestasi nilai-nilai
luhur (dharma) yang tetap relevan untuk menjawab tantangan moral generasi
masa kini.
- Pusat Energi Dunia: Sebuah ruang yang memancarkan
getaran kedamaian dan kebijaksanaan universal ke seluruh penjuru bumi.
Metafora Tubuh: Saat Kebudayaan Menjadi Rasa
Kebudayaan
mengajarkan kita bahwa "rasa" adalah ruh yang utama. Kita bisa
mengibaratkannya seperti tubuh manusia. Apabila satu bagian kecil dari jari
kita terluka, maka seluruh tubuh akan merasakan nyeri yang sama. Begitu pulalah
seharusnya kita memandang Borobudur.
Ia bukan
objek asing di luar diri kita; ia adalah bagian dari identitas dan jiwa kita.
Merawat Borobudur berarti merawat kemanusiaan kita sendiri. Ketika kita
membiarkan nilai-nilainya luntur, sejatinya kita sedang membiarkan kemanusiaan
kita mengalami pengikisan.
"Menyuguhkan
Borobudur kepada dunia tanpa melibatkan 'rasa' hanya akan mereduksi keagungan
Mandala Suci ini menjadi sekadar transaksi materi yang hambar."
Keamanan yang Lahir dari Kesadaran Batin
Seringkali,
ketertiban di sebuah situs bersejarah dipaksakan melalui pagar besi, papan
larangan, atau penjagaan ketat petugas. Namun, di Borobudur, keamanan yang
hakiki tidak bisa lahir dari paksaan regulasi di atas kertas.
Keamanan
sejati akan tercipta jika setiap jiwa yang melangkah masuk ke pelatarannya
telah membawa "rasa" penghormatan dalam diri mereka. Saat seseorang
menyadari bahwa ia sedang berpijak di atas warisan yang luhur—sebuah Mandala
Suci—maka keinginan untuk merusak atau melanggar aturan akan hilang dengan
sendirinya. Ketertiban adalah buah dari kesadaran batin, bukan sekadar
kepatuhan pada aturan formal.
Menjual Borobudur dengan Nada Solidaritas
"Menjual"
Borobudur ke kancah internasional tidak boleh hanya berfokus pada angka
kunjungan atau devisa. Kita harus menawarkan pengalaman transendental.
Kita mengajak dunia untuk melihat Borobudur sebagai cermin kemanusiaan.
Keagungan
sesungguhnya dari Borobudur terletak pada keselarasan antara kemegahan visual
yang memanjakan mata dan kedalaman makna yang menyentuh jiwa. Melalui nada
solidaritas, kita mengundang dunia bukan sebagai "turis", melainkan
sebagai "saudara" yang datang untuk mereguk energi kedamaian yang
sama.
Ruwat,
Rawat, dan Rasa Mari
kita berhenti melihat Borobudur sebagai komoditas semata. Mari kita mulai
melihatnya sebagai guru yang mengajarkan tentang kesabaran, cinta kasih, dan
solidaritas antarmanusia. Dengan menjaga rasa, kita memastikan bahwa Borobudur
tetap menjadi mercusuar kebijaksanaan bagi anak cucu kita, selamanya.
