Menjual Borobudur dengan Perasaan Membangun Nada Solidaritas melalui Kemanusiaan

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Redaksi Bloger Ruwat Rawat Borobudur

Borobudur seringkali dijuluki sebagai monumen Buddha terbesar di dunia. Namun, jika kita hanya melihatnya dari lensa angka dan skala, kita telah gagal menangkap hakikatnya. Borobudur bukanlah sekadar tumpukan batu andesit yang membisu dalam keheningan sejarah. Ia adalah "Ruh" yang hidup, sebuah napas yang terus berdenyut melintasi sekat-sekat zaman, membawa pesan yang tak pernah usang bagi siapa saja yang mau mendengar dengan hati.

Borobudur: Lebih dari Sekadar Objek Fisik

Dalam diskursus pelestarian, kita sering terjebak pada upaya konservasi fisik—memastikan batu tidak keropos atau lumut tidak menjalar. Tentu itu penting, namun tanpa pemahaman mendalam akan nilai spiritualnya, upaya tersebut hanya akan menghasilkan raga yang tegak namun kehilangan jiwa.

Borobudur harus diposisikan sebagai tiga pilar utama kehidupan:

  1. Wadah Solidaritas: Tempat di mana keberagaman manusia, dari berbagai latar belakang dan keyakinan, bertemu dalam satu harmoni yang sama.
  2. Simbol Kehidupan: Manifestasi nilai-nilai luhur (dharma) yang tetap relevan untuk menjawab tantangan moral generasi masa kini.
  3. Pusat Energi Dunia: Sebuah ruang yang memancarkan getaran kedamaian dan kebijaksanaan universal ke seluruh penjuru bumi.

Metafora Tubuh: Saat Kebudayaan Menjadi Rasa

Kebudayaan mengajarkan kita bahwa "rasa" adalah ruh yang utama. Kita bisa mengibaratkannya seperti tubuh manusia. Apabila satu bagian kecil dari jari kita terluka, maka seluruh tubuh akan merasakan nyeri yang sama. Begitu pulalah seharusnya kita memandang Borobudur.

Ia bukan objek asing di luar diri kita; ia adalah bagian dari identitas dan jiwa kita. Merawat Borobudur berarti merawat kemanusiaan kita sendiri. Ketika kita membiarkan nilai-nilainya luntur, sejatinya kita sedang membiarkan kemanusiaan kita mengalami pengikisan.

"Menyuguhkan Borobudur kepada dunia tanpa melibatkan 'rasa' hanya akan mereduksi keagungan Mandala Suci ini menjadi sekadar transaksi materi yang hambar."

Keamanan yang Lahir dari Kesadaran Batin

Seringkali, ketertiban di sebuah situs bersejarah dipaksakan melalui pagar besi, papan larangan, atau penjagaan ketat petugas. Namun, di Borobudur, keamanan yang hakiki tidak bisa lahir dari paksaan regulasi di atas kertas.

Keamanan sejati akan tercipta jika setiap jiwa yang melangkah masuk ke pelatarannya telah membawa "rasa" penghormatan dalam diri mereka. Saat seseorang menyadari bahwa ia sedang berpijak di atas warisan yang luhur—sebuah Mandala Suci—maka keinginan untuk merusak atau melanggar aturan akan hilang dengan sendirinya. Ketertiban adalah buah dari kesadaran batin, bukan sekadar kepatuhan pada aturan formal.

Menjual Borobudur dengan Nada Solidaritas

"Menjual" Borobudur ke kancah internasional tidak boleh hanya berfokus pada angka kunjungan atau devisa. Kita harus menawarkan pengalaman transendental. Kita mengajak dunia untuk melihat Borobudur sebagai cermin kemanusiaan.

Keagungan sesungguhnya dari Borobudur terletak pada keselarasan antara kemegahan visual yang memanjakan mata dan kedalaman makna yang menyentuh jiwa. Melalui nada solidaritas, kita mengundang dunia bukan sebagai "turis", melainkan sebagai "saudara" yang datang untuk mereguk energi kedamaian yang sama.

Ruwat, Rawat, dan Rasa Mari kita berhenti melihat Borobudur sebagai komoditas semata. Mari kita mulai melihatnya sebagai guru yang mengajarkan tentang kesabaran, cinta kasih, dan solidaritas antarmanusia. Dengan menjaga rasa, kita memastikan bahwa Borobudur tetap menjadi mercusuar kebijaksanaan bagi anak cucu kita, selamanya.

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default