Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur
Akar
Kegaduhan: Jebakan Identity Thinking Selama empat dekade,
"kegaduhan" di sekitar Borobudur seringkali bukan disebabkan oleh kurangnya
perhatian, melainkan oleh cara kita memandang identitas. Kita terperangkap
dalam apa yang disebut sebagai Identity Thinking. Candi Borobudur telah
diklasifikasikan, dikategorikan, dan direifikasi oleh birokrasi sedemikian
rupa, hingga seringkali kita lupa pada manusia-manusia yang hidup di napas
sekitarnya.
Kegaduhan yang tertimbun selama 40 tahun ini
berakar pada kecenderungan untuk memaksakan "kemiripan di permukaan"
(superficial similarities) demi kepentingan administratif, sembari mengabaikan
dinamika lifeworld (ruang kehidupan) masyarakat lokal yang sesungguhnya.
Refleksi Dua Dekade: Upaya yang
Belum Usai Dua puluh tahun yang lalu, melalui Sacred Bridge Foundation dan
dukungan UNESCO, sebuah upaya dekonstruksi telah dimulai. Melalui cultural
mapping dan action research, kita mencoba menyatukan warga ke dalam
warisan budayanya secara rasional.
Slogan "Use Cultural Currencies"
yang diusung almarhum Serrano Sianturi sebenarnya adalah kritik halus terhadap
cara kita mengelola budaya. Budaya bukanlah sekadar objek pajangan, melainkan
penggerak pembangunan yang hidup. Namun, mengapa setelah dua dekade berlalu,
"tujuan" itu terasa masih jauh? Mengapa kegaduhan masih kerap muncul
ke permukaan?
Guru sebagai Jangkar yang
Terlupakan Salah satu temuan krusial yang "tertimbun" dalam pemetaan
budaya tersebut adalah peran sentral Guru. Di tengah hiruk-pikuk
pedagang asongan, aktivis, dan peneliti, guru adalah pihak yang memegang kunci
hubungan jangka panjang antara masyarakat dengan candi. Namun, hingga hari ini,
peran strategis guru sebagai jembatan rasionalitas dan edukasi budaya nampaknya
belum ditindaklanjuti secara serius. Inilah salah satu "akar" yang
masih tertimbun: kita lebih sibuk mengurus fisik bebatuan daripada membangun
mentalitas manusia yang menjaganya.
Strategi Membedah Kegaduhan Untuk
mengakhiri kegaduhan yang telah menumpuk selama 40 tahun ini, kita perlu
mengadopsi dua strategi antropologis yang ditawarkan Michael Jackson:
- Berhenti Mencari Siapa yang Salah:
Kita harus melawan kecenderungan untuk merumuskan masalah eksistensial
Borobudur sebagai cerminan identitas kelompok tertentu. Fokus pada
"siapa yang benar" hanya akan menutupi problem yang
sesungguhnya.
- Mencari Titik Temu (Common Ground):
Menghindari fokus pada apa yang membedakan kita (etnis, kelas, atau
kepentingan politik) dan mulai memusatkan perhatian pada apa yang
sama-sama kita miliki: Planet bumi, ruang hidup Borobudur, dan martabat
kemanusiaan.
Penutup: Mengembalikan
Kemanusiaan Membedah akar kegaduhan berarti berani mengkritik
cara pemerintah dan swasta mengelola kawasan ini. Kita harus berhenti
mengesensialkan Borobudur hanya sebagai deretan angka kunjungan atau nilai
ekonomi semata.
Mari kita gunakan "mata uang budaya" (cultural
currencies) untuk mendanai pemahaman, bukan sekadar mendanai proyek fisik.
Jika kita ingin Borobudur tetap "berwibawa dan jujur", maka tugas
kita adalah mengembalikan kemanusiaan ke dalam setiap jengkal relief dan
tanahnya.
Belajar secara rasional adalah tentang menghargai
perbedaan tanpa harus mencerabutnya dari akar kemanusiaan yang universal. Hanya
dengan cara itulah, kegaduhan yang tertimbun selama 40 tahun dapat kita urai
satu per satu.
