Dua puluh empat tahun yang lalu, kita memandang
Candi Borobudur layaknya sebuah keris pusaka. Secara fisik, ia tampak
sempurna: bilahnya kokoh, ukirannya terjaga, bahkan "gagang" dan
kemasannya kian mewah tersentuh modernisasi. Namun, di balik kemegahan yang
kian kinclong itu, ada sesuatu yang tak kasat mata yang perlahan memudar: Pamornya.
Pamor adalah roh, energi, dan kedalaman spiritual
yang seharusnya memancar dari setiap pori batu andesitnya. Ironisnya, di tengah
gegap gempita industri pariwisata dan pragmatisme ekonomi, Borobudur terancam
menjadi bangunan yang "dingin". Ia berisiko kehilangan jiwanya jika
hanya dikelola sebagai komoditas, bukan sebagai warisan kemanusiaan yang agung.
Melawan
Arus Pragmatisme dengan Nurani Kolektif
Di tengah kepungan kepentingan yang seringkali
hanya bicara soal angka dan keuntungan, muncul sebuah kekuatan yang tidak
didorong oleh modal besar maupun kekuatan politik. Kekuatan itu adalah Gotong
Royong.
Selama lebih dari dua dekade, gerakan Ruwat
Rawat Borobudur berdiri sebagai benteng nurani. Gerakan ini bukan sekadar
"lipstik" atau formalitas di dalam proposal proyek. Ia adalah sebuah
panggilan jiwa yang bersifat kolektif.
- Ruwat: Adalah niat bersama untuk
menyucikan diri dan mengembalikan energi spiritual sang candi.
- Rawat: Adalah kerja keras
bahu-membahu menjaga fisik warisan leluhur agar tetap berdiri kokoh.
"Gerakan yang lahir dari nurani dan gotong
royong mungkin tidak menggelegar seperti guntur atau berkilau seperti emas,
namun ia memiliki daya hidup yang abadi."
Gotong
Royong: Modal Sosial yang Tak Terbeli
Borobudur tidak dibangun oleh satu orang, melainkan
oleh ribuan tangan yang bergerak dalam harmoni. Begitu pula cara kita menjaga
pamornya hari ini. Di era di mana narasi "apa untungnya buat saya?"
kian mendominasi, nilai gotong royong warga dan para penggerak budaya menjadi
modal sosial yang tak ternilai harganya.
Inilah perlawanan terhadap "Bola Liar"
tafsir. Tanpa kebersamaan dan benang merah nurani, Borobudur hanya akan
direduksi menjadi objek foto, ruang edukasi formal, atau sekadar tempat wudu.
Namun, melalui sentuhan hati dan kerja kolektif, kita sedang berusaha
mengembalikan karakter asli Borobudur sebagai representasi alam semesta.
Harapan
untuk Masa Depan
Mengembalikan roh Borobudur memang bukan perkara
mudah. Pertarungan antara panggilan jiwa dan kepentingan ekonomi akan selalu
ada. Namun, perjalanan 24 tahun Ruwat Rawat Borobudur membuktikan satu hal: masih
ada manusia yang mau berbicara dari hati ke hati dengan batu.
Kita tidak sedang merawat benda mati. Kita sedang
memuliakan ruang suci. Dengan gotong royong sebagai pengikatnya, kita percaya
bahwa suatu hari nanti, "keris pusaka" ini akan kembali memancarkan
pamor sejati yang terang, hidup, dan menerangi dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar