24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur
menjadi momentum penting untuk kembali bertanya: apa sebenarnya yang kita rawat
dari Borobudur? Apakah sekadar batu, atau juga jiwa yang terkandung di
dalamnya?
Borobudur bukan hanya
susunan batu yang megah. Di setiap relief dan stupa tersimpan logika kosmis,
perhitungan metafisika, dan tujuan luhur sebagai ruang perjalanan spiritual
tertinggi umat Buddha. Namun, perjalanan panjang pengelolaannya hingga hari ini
menyimpan sebuah ironi yang tak bisa diabaikan.
Dari
Rumah Tuhan Menjadi Aset Negara
Sejak berdirinya PT Taman Wisata Candi pada tahun 1980, mandatnya
jelas: mengelola, melestarikan, dan mengembangkan.
Secara fisik, tugas
ini dapat dikatakan berhasil. Struktur dijaga, taman ditata, dan bangunan tetap
berdiri kokoh. Namun, ada satu dimensi yang perlahan terabaikan dimensi yang tidak
kasat mata.
Menjaga fisik tidak selalu berarti menjaga
spiritual.
Menjaga fisik adalah
kerja teknis hasilnya keindahan visual.
Namun menjaga spiritual adalah kerja batin—hasilnya adalah rasa hormat,
keagungan, kesakralan, hingga kedamaian.
Selama ini, kita
tampak berhasil merawat “wadahnya”, tetapi “nyawanya” perlahan memudar.
Ketika
Kuantitas Mengalahkan Kualitas
Salah satu tantangan
terbesar adalah lonjakan jumlah pengunjung.
Ironisnya,
keberhasilan pariwisata justru menjadi ancaman bagi kelestarian. Jutaan langkah
kaki, gesekan alas, dan beban manusia perlahan mengikis batu-batu peninggalan
leluhur. Aturan pembatasan pun akhirnya diterapkan: kuota pengunjung, sandal
khusus, hingga pembatasan akses ke bagian tertentu.
Ini menjadi cermin
bahwa orientasi kuantitas dan ekonomi
sempat mengalahkan kualitas dan
konservasi.
Dalam diam, kita
pernah melanggar komitmen awal: melestarikan, bukan sekadar memanfaatkan.
Belajar
dari Arca di Desa
Untuk memahami makna
pelestarian yang sesungguhnya, kita tidak perlu jauh-jauh. Cukup melihat ke
desa.
Di tengah sawah atau
hutan, sering kita temukan arca tanpa pagar megah, tanpa papan informasi. Namun
pada malam-malam tertentu Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon warga datang membawa
bunga, dupa, dan sesaji.
Apakah itu bentuk
pelestarian?
Justru di situlah pelestarian yang paling hidup.
Arca tidak
diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sebagai entitas yang dihormati.
Karena rasa itulah, kesakralannya tetap terjaga.
Pelestarian sejati
bukan hanya menjaga benda, tetapi menjaga hubungan.
Cuan
atau Tanggung Jawab?
Pengelolaan
profesional dan tiket masuk tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan dalam
konteks desa, biaya perawatan juga bisa diterima.
Yang menjadi pembeda
adalah cara pandang:
- Salah, ketika uang
diposisikan sebagai keuntungan dagang semata.
- Benar, ketika uang
dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga nilai luhur.
Di sinilah letak
persoalan mendasarnya bukan pada sistemnya, tetapi pada niatnya.
Mengembalikan
“Rasa” yang Hilang
Gagasan pemasangan
pagar (catra) di area tertentu bukan sekadar kebijakan teknis. Ia adalah simbol
perubahan cara pandang.
Sebuah pesan yang
ingin disampaikan:
“Ini bukan ruang biasa. Ini ruang suci. Masuklah
dengan rasa.”
Tujuannya bukan
membatasi, tetapi mengingatkan.
Mengembalikan rasa agung, rasa takzim, dan rasa hening.
Menggeser fungsi dari
sekadar tempat berfoto menjadi ruang untuk berziarah, merenung, dan menemukan
diri.
Menjaga
Batu, Menjaga Jiwa
Borobudur tidak hanya
membutuhkan perawat batu. Ia membutuhkan penjaga rasa.
Kelestarian sejati
bukan hanya tentang struktur yang tetap utuh, tetapi tentang nilai yang tetap
hidup dalam hati setiap orang yang datang.
Fisik boleh dikelola
oleh sistem dan institusi.
Namun spiritualitas harus dikembalikan pada Tuhan dan pada kesadaran manusia
itu sendiri.
Karena pada akhirnya,
Borobudur bukan hanya warisan sejarah.
Ia adalah cermin peradaban tentang bagaimana manusia memperlakukan yang sakral
di tengah godaan duniawi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar