Borobudur: Antara Cuan dan Kesakralan Mengembalikan “Rasa” di Balik Megahnya Batu Sejarah - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 15 April 2026

Borobudur: Antara Cuan dan Kesakralan Mengembalikan “Rasa” di Balik Megahnya Batu Sejarah

24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur menjadi momentum penting untuk kembali bertanya: apa sebenarnya yang kita rawat dari Borobudur? Apakah sekadar batu, atau juga jiwa yang terkandung di dalamnya?

Borobudur bukan hanya susunan batu yang megah. Di setiap relief dan stupa tersimpan logika kosmis, perhitungan metafisika, dan tujuan luhur sebagai ruang perjalanan spiritual tertinggi umat Buddha. Namun, perjalanan panjang pengelolaannya hingga hari ini menyimpan sebuah ironi yang tak bisa diabaikan.

Dari Rumah Tuhan Menjadi Aset Negara

Sejak berdirinya PT Taman Wisata Candi pada tahun 1980, mandatnya jelas: mengelola, melestarikan, dan mengembangkan.

Secara fisik, tugas ini dapat dikatakan berhasil. Struktur dijaga, taman ditata, dan bangunan tetap berdiri kokoh. Namun, ada satu dimensi yang perlahan terabaikan dimensi yang tidak kasat mata.

Menjaga fisik tidak selalu berarti menjaga spiritual.

Menjaga fisik adalah kerja teknis hasilnya keindahan visual.
Namun menjaga spiritual adalah kerja batin—hasilnya adalah rasa hormat, keagungan, kesakralan, hingga kedamaian.

Selama ini, kita tampak berhasil merawat “wadahnya”, tetapi “nyawanya” perlahan memudar.

Ketika Kuantitas Mengalahkan Kualitas

Salah satu tantangan terbesar adalah lonjakan jumlah pengunjung.

Ironisnya, keberhasilan pariwisata justru menjadi ancaman bagi kelestarian. Jutaan langkah kaki, gesekan alas, dan beban manusia perlahan mengikis batu-batu peninggalan leluhur. Aturan pembatasan pun akhirnya diterapkan: kuota pengunjung, sandal khusus, hingga pembatasan akses ke bagian tertentu.

Ini menjadi cermin bahwa orientasi kuantitas dan ekonomi sempat mengalahkan kualitas dan konservasi.

Dalam diam, kita pernah melanggar komitmen awal: melestarikan, bukan sekadar memanfaatkan.

Belajar dari Arca di Desa

Untuk memahami makna pelestarian yang sesungguhnya, kita tidak perlu jauh-jauh. Cukup melihat ke desa.

Di tengah sawah atau hutan, sering kita temukan arca tanpa pagar megah, tanpa papan informasi. Namun pada malam-malam tertentu Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon warga datang membawa bunga, dupa, dan sesaji.

Apakah itu bentuk pelestarian?

Justru di situlah pelestarian yang paling hidup.

Arca tidak diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sebagai entitas yang dihormati. Karena rasa itulah, kesakralannya tetap terjaga.

Pelestarian sejati bukan hanya menjaga benda, tetapi menjaga hubungan.

Cuan atau Tanggung Jawab?

Pengelolaan profesional dan tiket masuk tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan dalam konteks desa, biaya perawatan juga bisa diterima.

Yang menjadi pembeda adalah cara pandang:

  • Salah, ketika uang diposisikan sebagai keuntungan dagang semata.
  • Benar, ketika uang dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga nilai luhur.

Di sinilah letak persoalan mendasarnya bukan pada sistemnya, tetapi pada niatnya.

Mengembalikan “Rasa” yang Hilang

Gagasan pemasangan pagar (catra) di area tertentu bukan sekadar kebijakan teknis. Ia adalah simbol perubahan cara pandang.

Sebuah pesan yang ingin disampaikan:

“Ini bukan ruang biasa. Ini ruang suci. Masuklah dengan rasa.”

Tujuannya bukan membatasi, tetapi mengingatkan.
Mengembalikan rasa agung, rasa takzim, dan rasa hening.

Menggeser fungsi dari sekadar tempat berfoto menjadi ruang untuk berziarah, merenung, dan menemukan diri.

Menjaga Batu, Menjaga Jiwa

Borobudur tidak hanya membutuhkan perawat batu. Ia membutuhkan penjaga rasa.

Kelestarian sejati bukan hanya tentang struktur yang tetap utuh, tetapi tentang nilai yang tetap hidup dalam hati setiap orang yang datang.

Fisik boleh dikelola oleh sistem dan institusi.
Namun spiritualitas harus dikembalikan pada Tuhan dan pada kesadaran manusia itu sendiri.

Karena pada akhirnya, Borobudur bukan hanya warisan sejarah.
Ia adalah cermin peradaban tentang bagaimana manusia memperlakukan yang sakral di tengah godaan duniawi.

 

 

 

 

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar