MEMBACA KEMBALI KESEIMBANGAN PELESTARIAN, PERLINDUNGAN DAN PEMANFAATAN BOROBUDUR - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 16 April 2026

MEMBACA KEMBALI KESEIMBANGAN PELESTARIAN, PERLINDUNGAN DAN PEMANFAATAN BOROBUDUR

Belajar dengan nurani dan program proyek dan anggaran

Candi Borobudur. Sebuah nama yang tak hanya merujuk pada tumpukan batu andesit terbesar di dunia, melainkan simbol peradaban agung yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Secara historis, candi megah ini lahir dari kepiawaian Wangsa Syailendra, penganut ajaran Buddha Mahayana. Namun, seiring perjalanan waktu dan kedalaman nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya, Borobudur telah melampaui batas sebagai bangunan religi semata. Ia menjadi milik bersama—milik bangsa, bahkan milik dunia.

Namun, di balik kemegahan itu, tersimpan sebuah ironi besar yang kini melingkupi kawasan ini. Dalam empat dekade terakhir, kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan: Borobudur perlahan kehilangan “pamor”-nya. Ia kian sering diperlakukan bukan sebagai warisan budaya yang luhur, melainkan bergeser menjadi sekadar “aset ekonomi” atau mesin penghasil uang. Orientasi pengelolaan yang terlalu condong pada pariwisata komersial telah menenggelamkan esensi spiritual serta kearifan lokal yang seharusnya menjadi napas utamanya.

Kesenjangan Pelestarian, Perlindungan, dan Pemanfaatan

Prinsip pengelolaan warisan budaya sejatinya bertumpu pada tiga pilar utama: perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan yang mencolok. Pemerintah dan para pengelola seolah berlomba mengejar angka kunjungan, pendapatan tiket, serta penyelenggaraan event-event besar. Sementara itu, aspek perlindungan dan pelestarian justru terpinggirkan dengan porsi yang sangat minim.

Padahal, filosofi asli Borobudur adalah sebuah Mandala Agung sebuah tatanan kosmis yang utuh. Di dalamnya, Borobudur menjadi pusat cahaya, sementara desa-desa di sekitarnya (sekitar 20 desa di Kecamatan Borobudur) berperan sebagai “lilin-lilin kecil” atau prasasti sosial yang menopang keberlangsungan makna. Seharusnya, keduanya saling mengisi, saling menerangi, dan membentuk satu ekosistem budaya yang hidup dan harmonis.

Namun kenyataannya, hubungan ini mulai retak. Banyak program pemberdayaan digulirkan dengan dalih meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi dalam praktiknya justru terkesan memisahkan. Perputaran uang memang besar, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal. Sebagian besar justru terserap dalam sistem birokrasi dan korporasi.

Program “Seumur Jagung” dan Ketergantungan

Sebagai upaya menjembatani kesenjangan tersebut, berbagai program pun diluncurkan. Salah satunya adalah pembangunan Balkondes (Balai Ekonomi Desa) di hampir 20 desa penyangga. Secara konsep, gagasan ini sangat baik memberikan ruang bagi desa untuk mempromosikan budaya sekaligus menyambut wisatawan.

Namun, realitas berkata lain. Dari sekian banyak Balkondes yang dibangun, hanya segelintir kurang dari lima yang benar-benar berjalan optimal. Sisanya mengalami “mati suri”, terbengkalai, bahkan ada yang belum pernah beroperasi sama sekali.

Hal serupa terjadi pada program Eksotika Desa. Dahulu program ini bergema, dengan tujuan mengangkat potensi tradisi desa-desa sekitar Borobudur. Namun kini, gaungnya nyaris tak terdengar. Ia menjadi bagian dari daftar panjang program yang “hidup sehari, mati setahun”.

Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya sederhana, namun menyakitkan: terlalu bergantung pada anggaran pemerintah dan logika proyek.

Padahal, tradisi dan budaya pada hakikatnya adalah milik masyarakat. Mereka memiliki kebanggaan, kedaulatan, dan hak penuh dalam mengelola serta merawat warisan budayanya sendiri. Tradisi, budaya, dan spiritualitas bukanlah milik pejabat atau birokrasi. Ketika sebuah kegiatan hanya dapat berjalan karena adanya anggaran, maka saat dana habis, kegiatan pun ikut berhenti.

Sebaliknya, jika Borobudur dipandang sebagai warisan budaya yang hidup, maka kekuatan besarnya justru terletak pada kemampuannya melindungi “lilin-lilin budaya” di sekitarnya prasasti sosial yang menjadi penopang makna. Ketika ikatan ini terjalin kuat dan tertata harmonis, akan tercipta daya tarik alami yang membuat orang datang, tidak hanya ke pusat, tetapi juga ke desa-desa di sekelilingnya. Keduanya menjadi simpul kehidupan yang saling menghidupi.

Ruwat Rawat Borobudur: Bukti bahwa Nurani Lebih Kuat dari Anggaran

Di tengah gugurnya berbagai program formal tersebut, muncul sebuah cahaya harapan sebuah bukti nyata bahwa budaya sejati tidak lahir dari proyek, melainkan dari nurani.

Itulah Ruwat Rawat Borobudur (RRB).

Gerakan ini digerakkan oleh komunitas Brayat Panangkaran Borobudur di bawah naungan Yayasan Brayat Panangkaran, dipelopori oleh sosok-sosok peduli seperti Sucoro Setrodiharjo bersama para sesepuh budaya. Kegiatan ini telah berlangsung konsisten selama lebih dari 24 tahun.

Bayangkan 24 tahun. Sebuah rentang waktu yang melampaui masa jabatan politik mana pun. Apa rahasianya?

  • Berasal dari Hati
    Ruwat Rawat Borobudur tidak lahir untuk mengejar target angka atau laporan administratif, melainkan dari rasa cinta, rasa memiliki, dan tanggung jawab menjaga “nyawa” Borobudur.
  • Mandiri dan Gotong Royong
    Gerakan ini tidak menunggu instruksi atau aliran dana dari atas. Dengan sumber daya yang ada, sekecil apa pun, kegiatan tetap berjalan melalui semangat gotong royong.
  • Berakar Kuat dalam Masyarakat
    Karena tumbuh dari masyarakat sendiri, tradisi ini memiliki akar yang dalam. Ia hidup karena menjadi kebutuhan batin masyarakat untuk tetap terhubung dengan leluhur, alam, dan nilai-nilai spiritual.  Contoh nyata sedekah Punthuk Setumbu tahun 2006 , sekarang menjadi destinasi yang ramai dan banyak dikunjungi wisatawan

Inilah bukti nyata bahwa budaya dapat berkelanjutan (sustainable) jika dikelola dengan hati. Berbeda dengan event besar yang bergantung pada sponsor, Ruwat Rawat Borobudur bertahan karena keyakinan dan semangat persaudaraan.

Menutup mata ?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa para pengelola, birokrat, dan pembuat kebijakan kerap menutup mata atau enggan bersinergi dengan gerakan seperti Ruwat Rawat Borobudur yang telah terbukti kuat dan berkelanjutan?

Jawabannya mungkin kembali pada soal niat dan cara pandang.

Selama yang dikejar adalah kemegahan visual, keuntungan ekonomi cepat, serta kepentingan administratif dan pencitraan, maka gerakan masyarakat yang sederhana namun mendalam sering kali dianggap tidak penting. Padahal, justru di sanalah “soko guru” berada tiang penyangga utama yang menjaga agar Borobudur tidak kehilangan jati dirinya.

Borobudur tidak boleh sekadar menjadi batu. Ia harus tetap hidup.

Sudah saatnya pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mengubah cara pandang. Jangan lagi melihat Borobudur semata sebagai komoditas ekonomi, tetapi kembalikan ia sebagai warisan budaya yang hidup. Dukung dan kuatkan apa yang telah tumbuh di masyarakat akar-akar tradisi yang telah terbukti tangguh, seperti Ruwat Rawat Borobudur.

Sebab, memuliakan Borobudur sejatinya adalah memuliakan masyarakat di sekitarnya. Menyalakan kembali “lilin-lilin” di sekeliling Mandala Agung, agar cahaya peradaban ini tidak pernah padam bukan hanya untuk kita hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar