SENGKUNI SALAH TAFSIR Webinar Sekolah Kehidupan ke 10 Th 2026 Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 19 April 2026

SENGKUNI SALAH TAFSIR Webinar Sekolah Kehidupan ke 10 Th 2026 Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Di sebuah negeri yang konon bertakhta di atas semboyan gemah ripah loh jinawi, tegaklah sebuah mandala agung bernama Candi Sapto Renggo. Dunia memujanya sebagai episentrum spiritual yang melampaui batas zaman. Ia sejatinya bukan sekadar tumpukan batu mati, melainkan lontar terbuka yang menuntut dibaca dengan mata batin, bukan sebatas pelesir mata.

Namun, layaknya lakon di atas kelir pewayangan, jalan cerita tak pernah benar-benar lurus. Selalu ada tikungan tajam, dan senantiasa hadir tokoh yang tersenyum ramah di muka, sambil cermat merajut siasat di balik layar.

Alkisah pada suatu masa, Sang Wira Bumi bersabda dengan wibawa yang menggetarkan: "Sudah empat puluh tahun lamanya raga ini tak sowan ke Sapto Rengga. Nyai Kendhit, saya, Wira Bumi, akan datang berziarah. Jangan biarkan Candi Sapto Rengga sekadar menjadi monumen beku akibat tafsir-tafsir yang sempit. Ia adalah warisan peradaban dunia, bukan semata tambang harta karun."

Titah itu menggema, disambut anggukan takzim para punggawa. Meski, entah mengapa, anggukan itu sering kali lebih seirama dengan ketukan jari mereka di atas layar gawai yang menyala mengiyakan tanpa benar-benar mencerna makna. "Semua sudah kula lampahi sejak bulan kapisan. Byawara sampun kawartosaken dhateng para demang lan pangarsa Budhi Luhur," lapor mereka, berlindung di balik susunan kata yang terdengar paripurna.

Di sudut remang, berdirilah sosok licin bertutur lembut, Sengkuni. Ia berbisik pelan kepada Nyai Kendhit bisikan yang sejuk di telinga, namun entah ke mana arah anginnya membawa niat. Maka, disusunlah laporan yang begitu rapi, atau setidaknya tampak rapi. Lengkap dengan tumpukan pustaka tebal yang isinya… kosong, namun disajikan dengan penuh keyakinan.

Menyaksikan sandiwara ini, Resi Tunggul Wulung yang dalam kisah ini mewujud sebagai Begawan Kapi Mendha hanya bisa tersenyum simpul. Bersama cantrik Kreti Seto, ia menggumam lirih:

"Wah, yen kosong kok iso kebak, iki ilmu anyar jenenge: ngisi tanpa isi." Malam pun turun, menyelimuti perhelatan yang dikemas serba megah. Kirab pusaka diarak, tumpeng sayur dan ingkung gajah tersaji mewah, udik-udik ditebar bahkan kabarnya melibatkan lembaran bernominal dua ratus ribuan hingga mahkota pun diusung penuh jemawa. Doa lintas iman dilangitkan, asap dupa mengepul, bunga-bunga ditaburkan. Panggung ini seolah menjadi pisungsung agung yang tiada tara.

Namun, di balik kemegahan artifisial itu, terdengar suara lirih dari semesta yang lebih sunyi: "Sengkuni, kowe salah tafsir..." "Titahku dudu rame-rame, nanging eling lan nglestarekake kanthi niat suci."

Lakon pewayangan sejatinya adalah tontonan sekaligus tuntunan. Namun, zaman seolah telah bergeser. Dunia terasa semakin sempit tatkala keserakahan dilegitimasi lewat tafsir-tafsir baru yang bermuara pada akumulasi laba semata. Padahal, mandala suci ini hanya memanggil ketulusan; sebuah sarana melepaskan beban penderitaan.

Kini, kita sering terbuai. Apa yang diklaim sebagai 'pelestarian', acap kali tak lebih dari perayaan di permukaan. Frasa luhur "nguri-uri budaya" sering kali menjebak kita pada kesibukan mengemas kulit luar, tanpa sempat memahami isinya. Nilai sakral pun perlahan turun takhta menjadi sekadar tontonan cantik untuk dipotret, riuh untuk diperbincangkan, namun sunyi dari pemaknaan.

Menggeser lakon ini ke realitas kekinian, dinamika di kawasan Borobudur menghadirkan peluang sekaligus paradoks. Di satu sisi, geliat budaya membuka ruang edukasi publik dan etalase tradisi. Namun di sisi lain, kita dihadapkan pada ancaman reduksi makna; ketika praktik budaya lebih menitikberatkan pada glorifikasi visual dan seremoni, menepikan esensinya.

Masyarakat lokal, sang ahli waris sah dari ruh kebudayaan ini, kerap kali hanya menjadi figuran di tepian panggung. Kehadiran mereka dicatat, namun suaranya jarang didengar. Mereka dilibatkan, tapi tak pernah benar-benar menentukan. Padahal, tanpa napas mereka, mandala ini pada akhirnya hanya akan menjadi teater batu tanpa jiwa.

Belum lagi bila kita menyoroti kue ekonomi yang mengembang dari festivalisasi budaya ini. Jika tidak dikelola dengan asas keadilan dan transparansi, ia hanya akan memutar ulang lakon klasik yang ironis: siapa yang berpeluh, siapa yang berteduh.

Ditambah lagi dengan riuhnya diskursus strategis kekinian, seperti polemik rencana pemasangan chattra di puncak Borobudur. Sebuah isu yang memantik perdebatan lintas perspektif. Sebagian memujanya sebagai penyempurnaan, sebagian lain menggugatnya sebagai intervensi yang mengganggu. Semuanya bersikeras merasa benar, persis seperti para lakon wayang yang selalu yakin bahwa pedangnya tengah mengayunkan kebenaran dharma.

Maka amatlah terang, Borobudur hari ini bukan lagi sekadar artefak bisu warisan masa lalu, melainkan arena pergulatan makna antara yang idealis dan yang pragmatis, antara yang sakral dan yang profan, antara keikhlasan hati dan titipan kepentingan.

Dalam situasi yang riuh ini, kita membutuhkan jeda. Sebuah ruang untuk tidak sekadar saling bersahut kata, tetapi merendahkan hati untuk mendengarkan. Tidak sekadar sibuk merayakan, tetapi berani merenungkan.

Oleh karena itu, Webinar Sekolah Kehidupan ke-10 Tahun 2026 kami hadirkan sebagai ruang dialog reflektif. Sebuah upaya membaca ulang naskah lakon yang tengah berlangsung, agar kita tidak terdegradasi menjadi penonton pasif, melainkan sadar akan amanah kita dalam menjaga kemurnian makna warisan ini.

Besuk Hari        : RABU  29 April 2026

Waktu      : Pkl 19.00 WIB

Narahubung     : Sucoro 085600566885

 Tujuan Webinar:

  • Membangun pemahaman bersama mengenai posisi Borobudur sebagai warisan universal yang kini berada dalam pusaran tarik-menarik berbagai kepentingan—antara nilai luhur dharma dan hasrat duniawi.
  • Menggali kembali makna dan nilai otentik budaya, agar praktik tradisi tidak berhenti dan dangkal sebagai tontonan, melainkan kembali membumi sebagai tuntunan.
  • Mendorong penguatan peran masyarakat lokal sebagai subjek dan napas utama, bukan sekadar figuran pelengkap di panggung kebudayaan mereka sendiri.
  • Membahas isu-isu strategis dan aktual, termasuk diskursus dan polemik pemasangan chattra, sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika tafsir warisan budaya masa kini.
  • Merumuskan pendekatan pengelolaan berbasis dampak yang adil—yang tidak hanya menggemukkan sebagian "tokoh utama", tetapi juga menyejahterakan seluruh "lakon pendukung".
  • Membuka ruang dialog lintas perspektif guna menetaskan pemikiran dan rekomendasi konstruktif bagi masa depan Borobudur sebagai ruang hidup bersama yang harmoni.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar