Di sebuah negeri yang konon bertakhta di atas semboyan gemah ripah
loh jinawi, tegaklah sebuah mandala agung bernama Candi Sapto Renggo. Dunia
memujanya sebagai episentrum spiritual yang melampaui batas zaman. Ia sejatinya
bukan sekadar tumpukan batu mati, melainkan lontar terbuka yang menuntut dibaca
dengan mata batin, bukan sebatas pelesir mata.
Namun, layaknya lakon di atas kelir pewayangan, jalan cerita tak pernah
benar-benar lurus. Selalu ada tikungan tajam, dan senantiasa hadir tokoh yang
tersenyum ramah di muka, sambil cermat merajut siasat di balik layar.
Alkisah pada suatu masa, Sang Wira Bumi bersabda dengan wibawa yang
menggetarkan: "Sudah empat puluh tahun lamanya raga ini tak sowan ke
Sapto Rengga. Nyai Kendhit, saya, Wira Bumi, akan datang berziarah. Jangan
biarkan Candi Sapto Rengga sekadar menjadi monumen beku akibat tafsir-tafsir
yang sempit. Ia adalah warisan peradaban dunia, bukan semata tambang harta
karun."
Titah itu menggema, disambut anggukan takzim para punggawa. Meski, entah
mengapa, anggukan itu sering kali lebih seirama dengan ketukan jari mereka di
atas layar gawai yang menyala mengiyakan tanpa benar-benar mencerna makna. "Semua
sudah kula lampahi sejak bulan kapisan. Byawara sampun kawartosaken dhateng
para demang lan pangarsa Budhi Luhur," lapor mereka, berlindung di
balik susunan kata yang terdengar paripurna.
Di sudut remang, berdirilah sosok licin bertutur lembut, Sengkuni. Ia
berbisik pelan kepada Nyai Kendhit bisikan yang sejuk di telinga, namun entah
ke mana arah anginnya membawa niat. Maka, disusunlah laporan yang begitu rapi,
atau setidaknya tampak rapi. Lengkap dengan tumpukan pustaka tebal yang isinya…
kosong, namun disajikan dengan penuh keyakinan.
Menyaksikan sandiwara ini, Resi Tunggul Wulung yang dalam kisah ini
mewujud sebagai Begawan Kapi Mendha hanya bisa tersenyum simpul. Bersama
cantrik Kreti Seto, ia menggumam lirih:
"Wah, yen kosong kok iso kebak, iki ilmu anyar jenenge: ngisi tanpa
isi." Malam pun turun, menyelimuti perhelatan yang dikemas serba megah. Kirab
pusaka diarak, tumpeng sayur dan ingkung gajah tersaji mewah, udik-udik ditebar
bahkan kabarnya melibatkan lembaran bernominal dua ratus ribuan hingga mahkota
pun diusung penuh jemawa. Doa lintas iman dilangitkan, asap dupa mengepul,
bunga-bunga ditaburkan. Panggung ini seolah menjadi pisungsung agung
yang tiada tara.
Namun, di balik kemegahan artifisial itu, terdengar suara lirih dari
semesta yang lebih sunyi: "Sengkuni, kowe salah tafsir..." "Titahku
dudu rame-rame, nanging eling lan nglestarekake kanthi niat suci."
Lakon pewayangan sejatinya adalah tontonan sekaligus tuntunan. Namun,
zaman seolah telah bergeser. Dunia terasa semakin sempit tatkala keserakahan
dilegitimasi lewat tafsir-tafsir baru yang bermuara pada akumulasi laba semata.
Padahal, mandala suci ini hanya memanggil ketulusan; sebuah sarana melepaskan
beban penderitaan.
Kini, kita sering terbuai. Apa yang diklaim sebagai 'pelestarian', acap
kali tak lebih dari perayaan di permukaan. Frasa luhur "nguri-uri
budaya" sering kali menjebak kita pada kesibukan mengemas kulit luar,
tanpa sempat memahami isinya. Nilai sakral pun perlahan turun takhta menjadi
sekadar tontonan cantik untuk dipotret, riuh untuk diperbincangkan, namun sunyi
dari pemaknaan.
Menggeser lakon ini ke realitas kekinian, dinamika di kawasan Borobudur
menghadirkan peluang sekaligus paradoks. Di satu sisi, geliat budaya membuka
ruang edukasi publik dan etalase tradisi. Namun di sisi lain, kita dihadapkan
pada ancaman reduksi makna; ketika praktik budaya lebih menitikberatkan pada
glorifikasi visual dan seremoni, menepikan esensinya.
Masyarakat lokal, sang ahli waris sah dari ruh kebudayaan ini, kerap
kali hanya menjadi figuran di tepian panggung. Kehadiran mereka dicatat, namun
suaranya jarang didengar. Mereka dilibatkan, tapi tak pernah benar-benar
menentukan. Padahal, tanpa napas mereka, mandala ini pada akhirnya hanya akan
menjadi teater batu tanpa jiwa.
Belum lagi bila kita menyoroti kue ekonomi yang mengembang dari
festivalisasi budaya ini. Jika tidak dikelola dengan asas keadilan dan
transparansi, ia hanya akan memutar ulang lakon klasik yang ironis: siapa
yang berpeluh, siapa yang berteduh.
Ditambah lagi dengan riuhnya diskursus strategis kekinian, seperti
polemik rencana pemasangan chattra di puncak Borobudur. Sebuah isu yang
memantik perdebatan lintas perspektif. Sebagian memujanya sebagai
penyempurnaan, sebagian lain menggugatnya sebagai intervensi yang mengganggu.
Semuanya bersikeras merasa benar, persis seperti para lakon wayang yang selalu
yakin bahwa pedangnya tengah mengayunkan kebenaran dharma.
Maka amatlah terang, Borobudur hari ini bukan lagi sekadar artefak bisu
warisan masa lalu, melainkan arena pergulatan makna antara yang idealis dan
yang pragmatis, antara yang sakral dan yang profan, antara keikhlasan hati dan
titipan kepentingan.
Dalam situasi yang riuh ini, kita membutuhkan jeda. Sebuah ruang untuk
tidak sekadar saling bersahut kata, tetapi merendahkan hati untuk mendengarkan.
Tidak sekadar sibuk merayakan, tetapi berani merenungkan.
Oleh karena itu, Webinar Sekolah Kehidupan ke-10 Tahun 2026 kami
hadirkan sebagai ruang dialog reflektif. Sebuah upaya membaca ulang naskah
lakon yang tengah berlangsung, agar kita tidak terdegradasi menjadi penonton
pasif, melainkan sadar akan amanah kita dalam menjaga kemurnian makna warisan
ini.
Besuk
Hari : RABU 29 April 2026
Waktu : Pkl 19.00 WIB
Narahubung
: Sucoro 085600566885
- Membangun
pemahaman bersama mengenai posisi Borobudur sebagai warisan
universal yang kini berada dalam pusaran tarik-menarik berbagai
kepentingan—antara nilai luhur dharma dan hasrat duniawi.
- Menggali
kembali makna dan nilai otentik budaya, agar praktik tradisi tidak
berhenti dan dangkal sebagai tontonan, melainkan kembali membumi sebagai
tuntunan.
- Mendorong
penguatan peran masyarakat lokal sebagai subjek dan napas
utama, bukan sekadar figuran pelengkap di panggung kebudayaan mereka
sendiri.
- Membahas
isu-isu strategis dan aktual, termasuk diskursus dan
polemik pemasangan chattra, sebagai bagian tak terpisahkan dari
dinamika tafsir warisan budaya masa kini.
- Merumuskan
pendekatan pengelolaan berbasis dampak yang adil—yang
tidak hanya menggemukkan sebagian "tokoh utama", tetapi juga
menyejahterakan seluruh "lakon pendukung".
- Membuka
ruang dialog lintas perspektif guna menetaskan pemikiran
dan rekomendasi konstruktif bagi masa depan Borobudur sebagai ruang hidup
bersama yang harmoni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar