“Menimbang Chattra Borobudur: Antara Spiritualitas, Keaslian dan Harapan “ - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Senin, 20 April 2026

“Menimbang Chattra Borobudur: Antara Spiritualitas, Keaslian dan Harapan “

Rencana pemasangan chattra atau payung bertingkat di puncak stupa induk Candi Borobudur kembali menjadi perbincangan hangat. Ide ini memunculkan beragam pandangan yang saling berhadapan, melibatkan aspek sejarah, keagamaan, hingga ekonomi masyarakat.

Alhamdulillah, penulis pernah berkesempatan turut serta membahas perencanaan tersebut. Berikut adalah catatan penting mengenai pro dan kontra dari rencana ini:

Pengusung: Nilai Spiritual dan Harapan Ekonomi

Pihak yang mengusung pemasangan chattra umumnya melihat dari sudut pandang keagamaan dan pengembangan pariwisata. Alasan utama mereka meliputi:

  • Penyempurnaan Makna Spiritual: Bagi umat Buddha, chattra memiliki makna filosofis yang dalam sebagai simbol kemuliaan, perlindungan, dan keagungan Dharma. Pemasangan ini dianggap sebagai upaya mengembalikan bentuk candi agar lebih utuh secara makna dan simbolis.
  • Konsep Living Heritage (Warisan Hidup): Pendukung berargumen bahwa warisan budaya tidak harus statis. Borobudur harus tetap "hidup" dan relevan dengan zaman. Penggunaan bahan modern seperti perunggu dianggap sebagai bentuk adaptasi yang tidak merusak struktur asli batu andesit.
  • Dampak Ekonomi Positif: Ini adalah alasan terkuat dari sisi pariwisata. Ada harapan besar bahwa kehadiran chattra akan menjadi daya tarik baru (new attraction) yang mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Meningkatnya pengunjung secara otomatis akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat sekitar, mulai dari pedagang, jasa pemandu, hingga pengusaha akomodasi.
  • Simbol Kemegahan: Penyatuan ornamen megah ini juga dipandang sebagai simbol kembalinya kemegahan Candi Borobudur yang selama ini dianggap redup, sekaligus menjadi kebanggaan bangsa.

Pandangan yang Menolak: Prinsip Ilmiah dan Keaslian

Di sisi lain, banyak kalangan ahli sejarah, arkeolog, dan pemerhati budaya menyuarakan penolakan dengan alasan fundamental:

  • Minim Bukti Arkeologis: Argumen utama penolakan adalah belum adanya bukti fisik atau data sejarah yang kuat yang menyatakan bahwa stupa induk Borobudur memang pernah memiliki chattra pada masa lalu. Menambahkan elemen baru yang tidak pasti keberadaannya dianggap melanggar kaidah pelestarian cagar budaya yang menekankan pada aspek keaslian (authenticity).
  • Risiko Struktur dan Keselamatan: Borobudur dibangun dengan sistem saling kunci (interlocking) di atas tanah yang rawan pergerakan. Menambah beban di titik tertinggi membutuhkan kajian teknis yang sangat mendalam, mengingat tingginya risiko gempa bumi dan sambaran petir di kawasan tersebut.
  • Ancaman Status UNESCO: Kekhawatiran juga muncul terkait status Borobudur sebagai Warisan Dunia. Perubahan bentuk fisik yang tidak berdasarkan data sejarah dikhawatirkan dapat mengganggu integritas nilai yang selama ini diakui secara internasional.

Aspek Penting: Universalitas dan Sifat Lintas Agama

Satu poin krusial yang sering menjadi perhatian publik adalah identitas Borobudur itu sendiri.

Borobudur telah diakui oleh UNESCO memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value). Artinya, candi ini dianggap sebagai milik seluruh umat manusia dan ikon peradaban bangsa, bukan hanya milik satu kelompok agama tertentu.

Selama puluhan tahun, Borobudur telah menjadi destinasi yang inklusif dan lintas agama. Pengunjung dari berbagai latar belakang keyakinan datang bukan semata-mata untuk tujuan ritual, melainkan untuk mengagumi keindahan arsitektur, kedalaman filosofi, dan kekayaan sejarah Nusantara. Borobudur berhasil menjadi simbol persatuan dan kekaguman bersama.

Kekhawatiran yang muncul adalah, dengan pemasangan chattra yang sangat identik dengan simbol agama Buddha, ada risiko pergeseran persepsi. Dari yang sebelumnya dipandang sebagai "Aset Budaya Nasional yang terbuka untuk semua", bisa berubah persepsinya menjadi lebih spesifik sebagai "Simbol Keagamaan Tertentu". Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat kunjungan wisata, yang pada gilirannya akan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Selain itu, bagi masyarakat sekitar yang memiliki ikatan batin kuat dengan Borobudur, pergeseran persepsi ini berpotensi mengikis rasa memiliki (sense of belonging) mereka yang selama ini sudah merasa sangat dekat dan bangga dengan candi tersebut.

Kesimpulan

Perdebatan pemasangan chattra di Borobudur pada dasarnya adalah tarik-ulur antara dua kepentingan besar:

  1. Keinginan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.
  2. Kewajiban untuk menjaga keaslian sejarah dan mempertahankan sifat universal Borobudur sebagai ikon budaya yang merangkul semua kalangan.

Apapun keputusan yang pada akhirnya diambil, kepastian data ilmiah, kehati-hatian teknis, dan pemahaman bahwa Borobudur adalah harta bersama yang harus tetap bisa dinikmati dan dibanggakan oleh seluruh elemen bangsa, menjadi hal yang paling utama untuk diprioritaskan.

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar