Rencana pemasangan chattra atau payung
bertingkat di puncak stupa induk Candi Borobudur kembali menjadi perbincangan
hangat. Ide ini memunculkan beragam pandangan yang saling berhadapan,
melibatkan aspek sejarah, keagamaan, hingga ekonomi masyarakat.
Alhamdulillah, penulis pernah berkesempatan turut
serta membahas perencanaan tersebut. Berikut adalah catatan penting mengenai
pro dan kontra dari rencana ini:
Pengusung:
Nilai Spiritual dan Harapan Ekonomi
Pihak yang mengusung pemasangan chattra
umumnya melihat dari sudut pandang keagamaan dan pengembangan pariwisata.
Alasan utama mereka meliputi:
- Penyempurnaan Makna Spiritual:
Bagi umat Buddha, chattra memiliki makna filosofis yang dalam
sebagai simbol kemuliaan, perlindungan, dan keagungan Dharma. Pemasangan
ini dianggap sebagai upaya mengembalikan bentuk candi agar lebih utuh
secara makna dan simbolis.
- Konsep Living Heritage (Warisan Hidup):
Pendukung berargumen bahwa warisan budaya tidak harus statis. Borobudur
harus tetap "hidup" dan relevan dengan zaman. Penggunaan bahan
modern seperti perunggu dianggap sebagai bentuk adaptasi yang tidak
merusak struktur asli batu andesit.
- Dampak Ekonomi Positif: Ini
adalah alasan terkuat dari sisi pariwisata. Ada harapan besar bahwa
kehadiran chattra akan menjadi daya tarik baru (new attraction)
yang mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Meningkatnya
pengunjung secara otomatis akan berdampak pada peningkatan pendapatan
masyarakat sekitar, mulai dari pedagang, jasa pemandu, hingga pengusaha
akomodasi.
- Simbol Kemegahan:
Penyatuan ornamen megah ini juga dipandang sebagai simbol kembalinya
kemegahan Candi Borobudur yang selama ini dianggap redup, sekaligus
menjadi kebanggaan bangsa.
Pandangan
yang Menolak: Prinsip Ilmiah dan Keaslian
Di sisi lain, banyak kalangan ahli sejarah,
arkeolog, dan pemerhati budaya menyuarakan penolakan dengan alasan fundamental:
- Minim Bukti Arkeologis:
Argumen utama penolakan adalah belum adanya bukti fisik atau data sejarah
yang kuat yang menyatakan bahwa stupa induk Borobudur memang pernah
memiliki chattra pada masa lalu. Menambahkan elemen baru yang tidak
pasti keberadaannya dianggap melanggar kaidah pelestarian cagar budaya
yang menekankan pada aspek keaslian (authenticity).
- Risiko Struktur dan Keselamatan:
Borobudur dibangun dengan sistem saling kunci (interlocking) di
atas tanah yang rawan pergerakan. Menambah beban di titik tertinggi
membutuhkan kajian teknis yang sangat mendalam, mengingat tingginya risiko
gempa bumi dan sambaran petir di kawasan tersebut.
- Ancaman Status UNESCO:
Kekhawatiran juga muncul terkait status Borobudur sebagai Warisan Dunia.
Perubahan bentuk fisik yang tidak berdasarkan data sejarah dikhawatirkan
dapat mengganggu integritas nilai yang selama ini diakui secara internasional.
Aspek
Penting: Universalitas dan Sifat Lintas Agama
Satu poin krusial yang sering menjadi perhatian
publik adalah identitas Borobudur itu sendiri.
Borobudur telah diakui oleh UNESCO memiliki Nilai
Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value). Artinya, candi ini
dianggap sebagai milik seluruh umat manusia dan ikon peradaban bangsa, bukan
hanya milik satu kelompok agama tertentu.
Selama puluhan tahun, Borobudur telah menjadi
destinasi yang inklusif dan lintas agama. Pengunjung dari berbagai latar
belakang keyakinan datang bukan semata-mata untuk tujuan ritual, melainkan
untuk mengagumi keindahan arsitektur, kedalaman filosofi, dan kekayaan sejarah
Nusantara. Borobudur berhasil menjadi simbol persatuan dan kekaguman bersama.
Kekhawatiran yang muncul adalah, dengan pemasangan chattra
yang sangat identik dengan simbol agama Buddha, ada risiko pergeseran persepsi.
Dari yang sebelumnya dipandang sebagai "Aset Budaya Nasional yang terbuka
untuk semua", bisa berubah persepsinya menjadi lebih spesifik sebagai
"Simbol Keagamaan Tertentu". Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan
tingkat kunjungan wisata, yang pada gilirannya akan berdampak langsung pada
perekonomian masyarakat. Selain itu, bagi masyarakat sekitar yang memiliki
ikatan batin kuat dengan Borobudur, pergeseran persepsi ini berpotensi mengikis
rasa memiliki (sense of belonging) mereka yang selama ini sudah merasa
sangat dekat dan bangga dengan candi tersebut.
Kesimpulan
Perdebatan pemasangan chattra di Borobudur
pada dasarnya adalah tarik-ulur antara dua kepentingan besar:
- Keinginan untuk menghidupkan kembali
nilai-nilai spiritual dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi
masyarakat sekitar.
- Kewajiban untuk menjaga keaslian sejarah dan
mempertahankan sifat universal Borobudur sebagai ikon budaya yang
merangkul semua kalangan.
Apapun keputusan yang pada akhirnya diambil,
kepastian data ilmiah, kehati-hatian teknis, dan pemahaman bahwa Borobudur
adalah harta bersama yang harus tetap bisa dinikmati dan dibanggakan oleh
seluruh elemen bangsa, menjadi hal yang paling utama untuk diprioritaskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar