Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur
– Magelang : Setiap bulan Mei, perhatian dunia kembali tertuju pada
Borobudur. Ribuan umat Buddha datang dari berbagai daerah dan negara untuk
merayakan Hari Raya Waisak peristiwa suci yang memperingati tiga momentum agung
dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan
parinibbana atau wafatnya Beliau.
Di tengah lantunan doa, nyala
lilin, serta langkah-langkah hening para biksu dan umat yang melakukan
pradaksina mengelilingi candi, Waisak sesungguhnya menghadirkan pesan yang jauh
melampaui ritual keagamaan. Ia mengingatkan manusia tentang pentingnya welas
asih, kebijaksanaan, pengendalian diri, serta pencarian makna hidup yang tidak
pernah selesai. Waisak bukan semata perayaan keagamaan, melainkan momentum
perenungan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran yang
lebih jernih dan damai.
Dalam konteks inilah,
Borobudur menemukan makna terdalamnya.
Bagi
umat Buddha, Borobudur adalah ruang spiritual tempat laku batin, penghormatan,
dan perjalanan simbolik menuju pencerahan. Relief-reliefnya mengajarkan tentang
perjalanan manusia: dari nafsu duniawi menuju kesadaran, dari keterikatan
menuju kebijaksanaan. Setiap tingkatan candi seolah menjadi metafora kehidupan
manusia yang terus belajar mengenali dirinya sendiri.
Borobudur
Dan makna yang lebih luas.
Ketika
diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Borobudur tidak hanya ditempatkan
sebagai bangunan monumental atau situs sejarah biasa, melainkan sebagai warisan
peradaban yang memiliki nilai spiritual universal. Nilai universal ini penting
dipahami: bahwa pesan kehidupan yang tersimpan di Borobudur melampaui batas
agama, bangsa, dan generasi. Ia berbicara tentang kemanusiaan.
Karena
itu, Borobudur sesungguhnya bukan hanya milik umat Buddha, bukan pula semata
milik negara atau industri pariwisata. Ia adalah ruang pembelajaran bersama tempat
manusia dapat belajar tentang kesadaran, toleransi, kebijaksanaan, dan harmoni
kehidupan.
Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di lingkungan Borobudur sejak 28 September 1951, saya menyaksikan sendiri bagaimana Waisak berkembang dari masa ke masa. Sebagai seorang Muslim, saya tidak menjalani ritual sebagaimana umat Buddha melakukannya. Namun saya melihat, mendengar, dan merasakan denyut suasana yang terus berubah.
Dari
tahun ke tahun, perayaan Waisak semakin besar, semakin ramai, bahkan menjadi
perhatian dunia. Di satu sisi, hal ini membanggakan karena menunjukkan
pengakuan global terhadap Borobudur dan nilai spiritualnya. Namun di sisi lain,
kita juga perlu terus menjaga agar inti makna Waisak tidak tenggelam oleh
hiruk-pikuk keramaian.
Sebab
pada dasarnya, Waisak mengajarkan keheningan di tengah kebisingan dunia. Ia
mengajak manusia untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, mengurangi ego,
serta menumbuhkan welas asih terhadap sesama makhluk.
Borobudur
pada awalnya dibangun sebagai ruang spiritual tempat manusia merenungkan
kehidupan dan hakikat keberadaan. Namun sejak pengelolaan modern berkembang,
Borobudur juga menjadi destinasi pariwisata unggulan yang memiliki dimensi
ekonomi, pelayanan publik, dan tata kelola modern.
Di
satu sisi, ia adalah tempat suci. Di sisi lain, ia menjadi ruang wisata yang
terbuka bagi jutaan pengunjung.
Pertemuan
dua kepentingan besar ini tentu bukan perkara mudah. Berbagai perdebatan,
kegaduhan, hingga perbedaan pandangan sering muncul karena banyak tafsir
bertemu di satu ruang: tafsir keagamaan, sejarah, budaya, ekonomi, konservasi,
hingga kepentingan kebijakan publik.
Namun
bila kita kembali pada semangat Waisak, sesungguhnya ada pelajaran penting yang
bisa diambil: pentingnya jalan tengah.
Jalan
tengah bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan menghadirkan kebijaksanaan
untuk mengelola perbedaan. Bahwa Borobudur dapat tetap menjadi ruang spiritual
yang dihormati, sekaligus ruang budaya dan pendidikan yang memberi manfaat luas
bagi masyarakat. Bahwa pelestarian tidak cukup hanya menjaga batu-batunya,
tetapi juga menjaga makna, etika, dan kesadaran kolektif tentang nilai luhur
yang dikandungnya.
Kesadaran
inilah yang selama 24 tahun terus menjadi napas dari gerakan Ruwat Rawat
Borobudur.
Gerakan ini lahir dari keyakinan bahwa Borobudur bukan sekadar bangunan purbakala, melainkan “buku kehidupan” yang belum selesai dibaca. Sebuah ruang pengetahuan yang terus mengajarkan manusia tentang harmoni, keseimbangan, dan relasi antara kebudayaan dengan kehidupan sehari-hariMelalui riset, kajian budaya, ruang dialog, dan penelitian mendalam yang terus dilakukan, kami berupaya merawat pemahaman tentang Borobudur agar tidak terjebak dalam pandangan yang sempit. Hasil perjalanan panjang tersebut kami tuangkan dalam berbagai buku, publikasi, forum diskusi, hingga ruang pembelajaran bersama yang dapat diakses publik.
Melalui
Bincang Sekolah Kehidupan, ruang dialog dibuka agar masyarakat
dapat menggali kembali nilai-nilai luhur kehidupan. Melalui kompetisi opini dan
forum pemikiran, berbagai perspektif dipertemukan. Hingga melalui gagasan Kongres Borobudur, kami berharap lahir
pemahaman yang lebih utuh tentang masa depan Borobudur sebagai warisan
peradaban..
Dan
mungkin, itulah pula pesan terdalam Borobudur.
Bahwa
kehidupan adalah perjalanan menaiki tangga-tangga pemahaman. Kadang penuh
kebisingan, kadang sunyi. Kadang dipenuhi perbedaan, kadang menghadirkan
perjumpaan. Namun selama manusia masih bersedia belajar memahami makna hidup,
Borobudur akan terus berbicara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar