Kemegahan Warisan , Diatas Kegaduhan yang terkubur

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Sebuah Ironi di Balik Bayang-Bayang Syailendra

 Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Indonesia sering dijuluki "Surga Dunia" karena kekayaan alamnya yang luar biasa. Salah satu mahakarya paling tersohor adalah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Bangunan megah abad ke-8 peninggalan Dinasti Syailendra ini bukan sekadar tumpukan batu andesit setinggi 35 meter; ia adalah magnet dunia yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia sejak 1991. Secara geografis, ia dikelilingi pemandangan eksotik: Merapi dan Merbabu di timur, Sumbing dan Sindoro di barat, serta pegunungan Menoreh yang tampak seperti orang tidur di selatan.

Namun, di balik keindahan matahari terbit (sunrise) yang mahal dan kemegahannya, tersimpan kegaduhan sistemik yang telah tertimbun selama puluhan tahun.

Secara teori, Borobudur yang menarik jutaan wisatawan (4,7 juta pada 2019) seharusnya membawa kemakmuran bagi warga sekitar. Namun, realitasnya berbicara lain. Terjadi ketimpangan antara pendapatan daerah dengan pendapatan masyarakat.Dan eroninya realitas pengelolaan yang telah menancapkan akar pada pohon kamuflase tersebut selama 40 tahun tanpa tersentuh evaluasi . Amat sangat wajar apabila kaum muda merasa tergugah dan untuk bangkit dan merajut masa depan . Borobudur milik bersama sayang kepemilikan tersebut tanpa sertifikat

Kegaduhan ini mencapai puncaknya belakangan ini, menguraikan dilema kompleks seputar pengelolaan Candi Borobudur yang terjepit di antara pelestarian budaya dan denyut ekonomi lokal. Ketegangan kian nyata saat spanduk bertuliskan 'Borobudur Ora Didol' (Borobudur Tidak Dijual) mulai menghiasi pinggir jalan.

Protes keras yang digelorakan oleh Forum Masyarakat Borobudur Bangkit (FMBB) ini lahir dari kebijakan pembatasan 1.200 pengunjung per hari. Bagi pengelola (PT TWC dan Balai Konservasi), langkah tersebut adalah keharusan demi konservasi. Namun bagi rakyat, kebijakan itu adalah 'voncet mati' ekonomi yang melumpuhkan pendapatan mereka hingga 83%. Realitas ini menegaskan kebutuhan mendesak untuk mencari titik keseimbangan antara perlindungan situs warisan dunia UNESCO dengan keberlangsungan hidup masyarakat di sekitarnya."

Narasi  ini memotret kontradiksi tajam antara Borobudur sebagai aset negara yang mendunia dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat lokal. Memasuki tahun 2026, ketegangan ini menjadi simbol dari tantangan pengelolaan wisata berbasis konservasi di Indonesia. 

Akar Masalah: Ego Sektoral dan Ancaman Oligarki

Inilah inti dari "kegaduhan yang tertimbun":

  1. Benturan Kepentingan: Ada indikasi ketidakakuran antara pengelola bidang konservasi dan pariwisata. Ego sektoral ini membuat kepentingan rakyat terabaikan.
  2. Marginalisasi Pedagang Kecil: Ribuan pedagang dipindahkan ke Pasar Kujon dengan alasan penataan, namun secara ironis muncul usaha-usaha besar di Zona 2 yang menjual komoditas serupa. Warga melihat ini sebagai pengkhianatan dan praktik oligarki.
  3. Hilangnya Identitas: Borobudur seolah menjadi korban "monopoli manajemen tunggal". Warga merasa dijauhkan, dipisahkan, bahkan dihilangkan identitas budayanya dari candi yang mereka jaga secara turun-temurun.

Tanah yang Meroket dan Suara yang Terbungkam

Selama 40 tahun terakhir, harga tanah di sekitar candi memang melonjak, namun kepemilikannya mulai berpindah ke tangan asing atau pemodal besar. Sementara itu, warga lokal yang ingin bersuara selama ini seringkali terbungkam oleh intimidasi atau tekanan.

Interaksi ekonomi antara sektor tradisional dan modern yang seharusnya harmonis justru berubah menjadi konflik kepentingan. Penataan yang dilakukan pemerintah seringkali mengabaikan esensi pariwisata yang dikehendaki rakyat yakni pariwisata yang "menetes ke bawah", bukan yang hanya berputar di lingkaran elit pengelola.

Penutup: Menggali Solusi di Balik Batu

Kegaduhan yang meletus belakangan ini adalah akumulasi dari rasa tidak adil yang telah lama terpendam. Jika pembangunan kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Borobudur tetap mengabaikan komunitas asli, maka kemegahan candi ini hanya akan menjadi monumen kesenjangan.

Membedah akar kegaduhan Borobudur berarti memaksa kita melihat bahwa pelestarian batu tidak boleh lebih penting daripada pelestarian martabat dan ekonomi manusianya. Harmoni antara alam, warisan budaya, dan kesejahteraan rakyat adalah satu-satunya jalan agar Borobudur tidak kembali "terkubur" bukan oleh abu vulkanik, melainkan oleh amarah rakyat yang merasa terasing di tanah sendiri.

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default