MEMBEDAH AKAR KEGADUHAN: KONFLIK YANG TERSEMBUNYI DI BALIK KEMEGAHAN BOROBUDUR

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Pendahuluan: Kohesi di Atas Pohon Kamuflase

Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Kohesi sosial di seputaran Candi Borobudur sering kali dipuja sebagai potret ideal kebhinekaan Indonesia. Bayangkan saja, di kawasan di mana mayoritas penduduknya adalah Muslim yang taat, kemegahan candi Buddha terbesar di dunia tetap terjaga dan dihormati. Suasana guyub tampak kental di permukaan; warga hidup berdampingan, saling sapa, dan menunjukkan toleransi yang inklusif.

Namun, kita tidak boleh terhenti pada kulit luar. Jika menelisik lebih dalam, di balik tawa ramah para pedagang dan kerumunan wisatawan, tersimpan riak-riak kegaduhan yang tertimbun selama 40 tahun. Fenomena ini adalah "konflik laten"—sebuah bara dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa bertransformasi menjadi konflik manifes. Melalui data kualitatif dan kesaksian para key informants seperti Pak Sucoro, kita akan mengurai mengapa harmoni ini terasa seperti kamuflase bagi ketidakadilan yang sistematis.

Bermula dari Kerukunan: Spiritualitas dan Altruisme

Borobudur didirikan dengan jutaan balok batu vulkanik yang membentuk mandala alam semesta. Namun, nilai sejatinya terletak pada spiritualitas. Menurut Sucoro (2024), spiritualitas ini melahirkan sikap altruisme—tindakan tanpa pamrih yang mengutamakan kesejahteraan orang lain.

Masyarakat Muslim lokal tidak melihat candi sebagai ancaman keyakinan, melainkan sebagai warisan luhur yang selaras dengan nilai Islam tentang akhlak mulia dan lakum dinukum waliyadin. Modal sosial ini kokoh karena sejarah panjang persaudaraan (paseduluran), mulai dari basis perjuangan Pangeran Diponegoro hingga kerukunan lintas iman di Dusun Kerug Batur yang terwariskan lintas generasi.

Gesekan Tersembunyi: Saat "Ruh" Diganti Industri

Kegaduhan mulai muncul sejak 10 Agustus 1973, ketika kawasan ini secara resmi diubah menjadi industri pariwisata. Industri memang mendatangkan uang, namun ia juga secara perlahan mengubah ekosistem sosial budaya.

Dilema antara Perlindungan, Pelestarian, dan Pemanfaatan (3P) sering kali timpang ke arah ekonomi. Dalam pandangan Sucoro (2025), kebijakan pengelolaan saat ini lebih menonjolkan nilai profit daripada nilai spiritualitas yang merupakan "ruh" asli Borobudur. Inilah pemantik api konflik: ketika suara komunitas asli mulai dibungkam oleh wajah baru manajemen yang asing.

Luka Lahan: Intimidasi dan Memori Kekerasan

Salah satu akar kegaduhan paling dalam adalah persoalan penguasaan tanah. Sejarah mencatat praktik pembebasan lahan yang represif sejak era Orde Baru. Ada luka lama yang menyakitkan; seorang informan mengisahkan bagaimana ia difitnah terlibat dalam peristiwa pemboman Borobudur hanya karena menolak melepas tanahnya dengan harga murah.

Pak Sucoro sendiri, di usianya yang ke-74, memikul beban fisik sejarah itu. Ia pernah mengalami kekerasan fisik hingga terkena tembakan di paha saat menolak lahannya dibeli secara paksa. Praktik marginalisasi ini belum usai; kini ia bertransformasi menjadi pembangunan hotel mewah atau tempat rekreasi eksklusif yang mencerabut warga asli dari tanah strategis mereka, digantikan oleh para penguasa modal yang orientasinya kontras dengan budaya lokal.

Paradoks Ekonomi: Antara Tiket Mahal dan Desa "Zona Merah"

Ketimpangan ekonomi adalah manifestasi kegaduhan yang paling nyata. Borobudur menyetor pendapatan miliaran rupiah bagi negara (mencapai Rp96,49 miliar pada 2015), namun ironisnya, desa-desa di sekitarnya seperti Giri Tengah, Ngadiharjo, dan Wringinputih masih berada dalam Zona Merah Kemiskinan.

Di Desa Giri Tengah, jalanan masih berlubang dan gelap. Balkondes yang seharusnya menjadi jendela ekonomi desa, kini justru dialihkan pengelolaannya ke pihak swasta dengan tema "menjual keheningan". Rakyat bertanya dengan getir: Keheningan untuk siapa? Jika perut masyarakat lapar, keheningan itu justru terdengar seperti ancaman.

Kebijakan tiket masuk yang melambung (wacana hingga Rp750.000) semakin memperlebar jurang diskriminasi. Tiket mahal membuat anak-anak Magelang merasa asing di rumah sendiri, sementara turis bermodal besar bebas mendaki stupa. Frustasi kolektif ini mulai tumpah menjadi isu sensitif, mulai dari polemik suara adzan hingga perbandingan biaya wisata dengan biaya Umroh yang viral di media sosial.

Simpulan: Menanti Transformasi Subjek

Masyarakat Muslim di sekitar Borobudur telah membuktikan kesetiaan mereka menjaga candi selama berabad-abad. Namun, ketulusan itu kini diuji oleh manajemen pariwisata yang dianggap abai. Perubahan dari petani menjadi pedagang kecil dengan pendapatan minim telah menimbulkan frustasi kolektif.

Jika pengelolaan Borobudur tidak segera dievaluasi dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek—bukan sekadar objek pelengkap—maka gesekan kepentingan ini akan menjadi bom waktu. Membedah kegaduhan ini berarti menuntut kembalinya semangat gotong royong dan keadilan sosial. Jangan biarkan kemegahan batu-batu itu berdiri di atas penderitaan manusianya.

 



Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default