Memulihkan "Napas" Borobudur Lebih dari Sekadar Monumen Batu

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Oleh: Tim Redaksi Ruwat Rawat Borobudur

RUWAT RAWAT BOROBUDUR  Selama lebih dari empat dekade, Candi Borobudur telah berdiri sebagai magnet pariwisata global. Namun, bagi masyarakat yang lahir dan meniti kehidupan di kaki candi, kemegahan fisik itu menyisakan tanya: Di manakah jiwa dan spiritualitas Borobudur yang sesungguhnya?

Sejak UNESCO mendeklarasikannya sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) dengan Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value/OUV) pada 1991, Borobudur seharusnya menjadi pusat identitas budaya bangsa. Ia adalah "perpustakaan batu" yang mengajarkan harmoni, toleransi, dan hukum sebab-akibat (karma). Namun kenyataannya, pengelolaan selama 42 tahun terakhir dinilai lebih banyak mengeksploitasi struktur candi ketimbang melestarikan nilai-nilai spiritualitas yang melekat di dalamnya.

Dilema 40 Tahun: Antara Konservasi dan Komersialisasi

Perjalanan Borobudur pasca-pemugaran (1980–1984) terus menghadapi dilema fundamental yang seolah abadi: keseimbangan antara Pelestarian, Perlindungan, dan Pemanfaatan (3P). Meski regulasi terus berganti, mulai dari Keppres No. 1 Tahun 1992 hingga Perpres No. 101 Tahun 2024, persoalan di lapangan tetap kronis.

"Saya sebagai warga yang telah menyaksikan dinamika candi ini selama 74 tahun, merasakan adanya pergeseran fungsi utama Borobudur," ungkap salah seorang tokoh masyarakat dalam pertemuan dengan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN baru-baru ini.

Pengembangan pariwisata yang terlalu berorientasi pada "menjual keindahan" telah mengurangi keagungan candi. Borobudur ibarat keris yang kehilangan pamornya. Kualitas pengunjung pun bergeser; dari penikmat sejarah dan pemburu kedamaian spiritual, menjadi sekadar pemburu foto demi eksistensi di media sosial.

Ruwat Rawat: Melawan Arus "Monumen Mati"

Di tengah kondisi tersebut, muncul gerakan dari Komunitas Pecinta Seni dan Budaya Borobudur (PPMB) melalui ritual Ruwat Rawat Borobudur. Gerakan ini bukan sekadar seremoni tari atau doa, melainkan upaya memurnikan kembali sang candi dari citra "monumen mati" tanpa makna.

Namun, tantangan yang dihadapi sangat nyata:

  1. Anomali Budaya: Lunturnya nilai luhur karena masyarakat mulai meninggalkan tradisi demi modernitas yang instan.
  2. Kesenjangan Generasi: Partisipasi kaum muda dalam Ruwat Rawat dilaporkan menurun hingga 40% sejak 2015. Generasi muda lebih tertarik pada pengalaman yang digerakkan oleh algoritma Instagram daripada kedalaman spiritual leluhur.
  3. Eksklusi Sosial: Masyarakat yang memiliki ikatan batin kuat dengan candi justru sering kali tidak dilibatkan sebagai mitra utama dalam pengambilan kebijakan. Akibatnya, potensi lokal tidak berkembang, dan ribuan pedagang serta warga terdampak relokasi masih terjebak dalam ketidakpastian ekonomi.

Berbeda dengan situs seperti Angkor Wat di Kamboja atau Bagan di Myanmar yang mempertahankan integrasi monastik sebagai pusat aktivitas, pengelolaan Borobudur awalnya sempat meminggirkan ritual lokal—sebuah celah yang kini coba dijahit kembali oleh komunitas Brayat Panangkaran.

Era Baru: AI sebagai "Pendobrak" Transparansi

Menariknya, di tengah ketidakselarasan pengelolaan ini, hadir teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai instrumen baru bagi publik. Selama bertahun-tahun, narasi pengelolaan didominasi oleh bahasa "kasta atas" para teknokrat dan laporan birokrasi yang tertutup.

Kini, AI hadir mengolah data mentah, membandingkan kinerja program, dan menyajikannya secara lugas kepada publik. Informasi yang dulunya terperangkap dalam laporan eksklusif, kini mengalir deras laksana saluran yang tiba-tiba "dadal" (jebol).

Transparansi digital ini memaksa para pemangku kebijakan untuk lebih jujur. Masyarakat sekarang memiliki basis data untuk menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan yang berdampak pada kehidupan mereka selama bertahun-tahun. Media sosial telah berubah menjadi "laboratorium fiskal rakyat" untuk mengkritisi program-program yang dianggap hanya menguntungkan pihak tertentu.

Masa Depan: Kolaborasi dengan Hati Nurani

Urgensi dari revitalisasi Borobudur melalui Ruwat Rawat terletak pada kemampuannya menyambung kembali tali komunikasi antara alam, budaya, dan manusia. Melestarikannya membutuhkan ingatan, perawatan, dan transmisi lintas generasi agar identitas nasional Indonesia tidak hanyut ditelan globalisasi.

Pada akhirnya, tantangan pengelolaan Borobudur adalah tantangan kolaborasi dan kepemimpinan. Bola kini ada di tangan para pemangku kebijakan: Apakah mereka akan memanfaatkan kejernihan data dan keterbukaan informasi ini untuk membangun sistem yang selaras, berimbang, dan melibatkan hati nurani masyarakat?

Borobudur adalah cermin hukum sebab-akibat. Jika kita merawatnya dengan hati dan menghargai nilai spiritualitasnya, maka ia akan memberikan berkah berkelanjutan. Namun, jika kita hanya melihatnya sebagai komoditas, maka kita sedang bersiap kehilangan identitas budaya yang paling berharga.

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default