DIBALIK KEMEGAHAN BOROBUDUR MAKAM LELUHUR TERLUPAKAN - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 30 Juli 2026

DIBALIK KEMEGAHAN BOROBUDUR MAKAM LELUHUR TERLUPAKAN

Catatan tentang Dirigen yang Bijak

Oleh Sucoro Setrodiharjo

Borobudur-=Magelang 31 Juli 2026 : Lebih dari empat puluh tahun telah berlalu sejak Borobudur bertransformasi dari kawasan yang tenang menjadi salah satu warisan budaya paling dikenal di dunia. Miliaran rupiah telah digelontorkan untuk pemugaran, ribuan pejabat, peneliti, dan wisatawan datang silih berganti, sementara berbagai kesepakatan dan kemitraan dibangun atas nama pelestarian.

Namun di tengah kemegahan itu, terdapat sebuah cermin yang memantulkan kenyataan yang jarang diperbincangkan. Di sebelah utara kawasan Taman Wisata Borobudur, makam leluhur warga Ngaran, Kerajan, dan Kenayan berada dalam kondisi memprihatinkan. Gapura makam retak, bangunan penyimpanan perlengkapan pemakaman rusak, dan untuk melakukan perbaikan sederhana pun para ahli waris harus berjuang keras mencari kepedulian berbagai pihak.

Padahal merekalah bagian dari masyarakat yang dahulu dengan lapang dada, meski tidak tanpa kesedihan, merelakan tanah, rumah, dan ruang hidupnya demi pembangunan Taman Purbakala dan Taman Wisata Borobudur. Tanpa pengorbanan warga dari Kenayan, Ngaran, sebagian Bokowan, Gendingan, Seberang Rowo, hingga Gupalan, mungkin tidak akan berdiri kawasan Borobudur seperti yang kita kenal dan banggakan hari ini.

Selama ini sering dikatakan bahwa mengelola Borobudur ibarat memimpin sebuah orkestra besar. Dibutuhkan seorang dirigen yang mampu menyatukan berbagai kepentingan, menjaga harmoni, dan memastikan tidak ada satu pun instrumen yang terabaikan. Dirigen yang dimaksud bukan sekadar pemberi aba-aba administratif, melainkan sosok yang memahami nada dasar pelestarian secara utuh dan mampu melihat hubungan antara candi, lingkungan, budaya, serta masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Namun setelah lebih dari empat dekade, dirigen seperti itu terasa belum benar-benar hadir. Yang terlihat justru harmoni yang sering terpecah oleh kepentingan yang berbeda-beda. Suara yang paling lantang kerap datang dari mereka yang memiliki kewenangan, akses, atau legitimasi formal, sementara suara warga yang menyimpan ingatan sejarah dan pernah berkorban demi Borobudur sering kali berada di pinggir percakapan.

Terjadi pemisahan yang menyakitkan antara “masyarakat yang diwakili secara administratif” dan masyarakat pewaris sejarah yang sesungguhnya. Dalam berbagai forum resmi, kelompok tertentu diundang dan didengar. Sementara itu, warga yang menyimpan memori kolektif tentang perubahan Borobudur dari masa ke masa tidak selalu memperoleh ruang yang sama. Pengetahuan akademis dihargai, tetapi pengalaman hidup yang diwariskan turun-temurun sering kali dianggap tidak cukup penting untuk menjadi dasar pertimbangan kebijakan.

Akibatnya, wajah asli Borobudur perlahan menjadi kabur. Pelestarian lebih banyak berbicara tentang kawasan, bangunan, dan angka kunjungan, sementara dimensi kemanusiaan yang menjadi fondasi keberadaan Borobudur justru semakin jauh dari perhatian.

Kondisi makam leluhur di sebelah utara kawasan wisata tersebut bukan sekadar persoalan bangunan yang rusak. Ia merupakan simbol dari masih lemahnya penghargaan terhadap proses pewarisan. Kita begitu teliti merawat batu-batu candi agar tidak retak. Kita begitu serius mengatur arus wisatawan agar tetap tertib. Kita begitu bangga menyebut Borobudur sebagai warisan dunia. Namun pada saat yang sama, kita belum sepenuhnya menunjukkan penghormatan yang layak kepada masyarakat yang pernah menyerahkan ruang hidupnya demi terwujudnya kawasan tersebut.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin kita berbicara tentang penghormatan terhadap warisan leluhur, nilai budaya, dan peradaban masa lalu, jika makam leluhur warga yang telah berkorban bagi Borobudur justru dibiarkan mengalami kerusakan?

Kecerdasan kepemimpinan tidak hanya diukur dari ketebalan dokumen, banyaknya regulasi, atau besarnya anggaran yang dikelola. Kecerdasan sejati terlihat dari kemampuan melihat persoalan yang luput dari perhatian, dari keberanian menepati janji yang pernah diucapkan, dan dari kepekaan merawat hubungan yang retak.

Borobudur membutuhkan dirigen yang mampu memahami bahwa pelestarian tidak berhenti pada batu candi, tetapi juga mencakup penghormatan terhadap manusia, sejarah sosial, dan pengorbanan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan kawasan ini. Pelestarian tidak akan pernah utuh selama mereka yang pernah berkorban masih merasa dilupakan.

Makam leluhur yang rusak itu seolah menyampaikan pesan tanpa suara di bawah bayang-bayang stupa yang megah:

“Kalian menjaga batu-batu yang berdiri di atas tanah yang dahulu kami relakan. Tetapi jangan lupakan mereka yang pernah memberikan tanah itu.”

Sampai kapan keadaan ini akan dibiarkan? Barangkali langkah pertama untuk menemukan kembali arah pelestarian Borobudur yang lebih berkeadilan bukan dimulai dari rapat besar atau proyek bernilai miliaran rupiah. Langkah itu dapat dimulai dari kesediaan untuk mendengar, mengingat, dan memperbaiki hal-hal yang selama ini terabaikan.

Karena warisan sejati Borobudur bukan hanya tumpukan batu yang indah. Warisan sejati adalah keadilan, rasa syukur, dan keharmonisan antara candi, tanah, serta manusia yang menjaganya sejak dulu.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar