Catatan tentang Dirigen yang Bijak
Oleh Sucoro Setrodiharjo
Borobudur-=Magelang 31
Juli 2026 : Lebih dari empat puluh tahun telah berlalu sejak Borobudur
bertransformasi dari kawasan yang tenang menjadi salah satu warisan budaya
paling dikenal di dunia. Miliaran rupiah telah digelontorkan untuk pemugaran,
ribuan pejabat, peneliti, dan wisatawan datang silih berganti, sementara
berbagai kesepakatan dan kemitraan dibangun atas nama pelestarian.
Namun di tengah
kemegahan itu, terdapat sebuah cermin yang memantulkan kenyataan yang jarang
diperbincangkan. Di sebelah utara kawasan Taman Wisata Borobudur, makam leluhur
warga Ngaran, Kerajan, dan Kenayan berada dalam kondisi memprihatinkan. Gapura
makam retak, bangunan penyimpanan perlengkapan pemakaman rusak, dan untuk
melakukan perbaikan sederhana pun para ahli waris harus berjuang keras mencari
kepedulian berbagai pihak.
Padahal merekalah bagian
dari masyarakat yang dahulu dengan lapang dada, meski tidak tanpa kesedihan,
merelakan tanah, rumah, dan ruang hidupnya demi pembangunan Taman Purbakala dan
Taman Wisata Borobudur. Tanpa pengorbanan warga dari Kenayan, Ngaran, sebagian
Bokowan, Gendingan, Seberang Rowo, hingga Gupalan, mungkin tidak akan berdiri
kawasan Borobudur seperti yang kita kenal dan banggakan hari ini.
Selama ini sering
dikatakan bahwa mengelola Borobudur ibarat memimpin sebuah orkestra besar.
Dibutuhkan seorang dirigen yang mampu menyatukan berbagai kepentingan, menjaga
harmoni, dan memastikan tidak ada satu pun instrumen yang terabaikan. Dirigen
yang dimaksud bukan sekadar pemberi aba-aba administratif, melainkan sosok yang
memahami nada dasar pelestarian secara utuh dan mampu melihat hubungan antara
candi, lingkungan, budaya, serta masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Namun setelah lebih dari
empat dekade, dirigen seperti itu terasa belum benar-benar hadir. Yang terlihat
justru harmoni yang sering terpecah oleh kepentingan yang berbeda-beda. Suara
yang paling lantang kerap datang dari mereka yang memiliki kewenangan, akses,
atau legitimasi formal, sementara suara warga yang menyimpan ingatan sejarah
dan pernah berkorban demi Borobudur sering kali berada di pinggir percakapan.
Terjadi pemisahan yang
menyakitkan antara “masyarakat yang diwakili secara administratif” dan
masyarakat pewaris sejarah yang sesungguhnya. Dalam berbagai forum resmi,
kelompok tertentu diundang dan didengar. Sementara itu, warga yang menyimpan
memori kolektif tentang perubahan Borobudur dari masa ke masa tidak selalu
memperoleh ruang yang sama. Pengetahuan akademis dihargai, tetapi pengalaman
hidup yang diwariskan turun-temurun sering kali dianggap tidak cukup penting untuk
menjadi dasar pertimbangan kebijakan.
Akibatnya, wajah asli
Borobudur perlahan menjadi kabur. Pelestarian lebih banyak berbicara tentang
kawasan, bangunan, dan angka kunjungan, sementara dimensi kemanusiaan yang
menjadi fondasi keberadaan Borobudur justru semakin jauh dari perhatian.
Kondisi makam leluhur di
sebelah utara kawasan wisata tersebut bukan sekadar persoalan bangunan yang
rusak. Ia merupakan simbol dari masih lemahnya penghargaan terhadap proses
pewarisan. Kita begitu teliti merawat batu-batu candi agar tidak retak. Kita
begitu serius mengatur arus wisatawan agar tetap tertib. Kita begitu bangga
menyebut Borobudur sebagai warisan dunia. Namun pada saat yang sama, kita belum
sepenuhnya menunjukkan penghormatan yang layak kepada masyarakat yang pernah
menyerahkan ruang hidupnya demi terwujudnya kawasan tersebut.
Pertanyaannya sederhana:
bagaimana mungkin kita berbicara tentang penghormatan terhadap warisan leluhur,
nilai budaya, dan peradaban masa lalu, jika makam leluhur warga yang telah
berkorban bagi Borobudur justru dibiarkan mengalami kerusakan?
Kecerdasan kepemimpinan
tidak hanya diukur dari ketebalan dokumen, banyaknya regulasi, atau besarnya
anggaran yang dikelola. Kecerdasan sejati terlihat dari kemampuan melihat
persoalan yang luput dari perhatian, dari keberanian menepati janji yang pernah
diucapkan, dan dari kepekaan merawat hubungan yang retak.
Borobudur membutuhkan
dirigen yang mampu memahami bahwa pelestarian tidak berhenti pada batu candi,
tetapi juga mencakup penghormatan terhadap manusia, sejarah sosial, dan
pengorbanan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan kawasan ini.
Pelestarian tidak akan pernah utuh selama mereka yang pernah berkorban masih
merasa dilupakan.
Makam leluhur yang rusak
itu seolah menyampaikan pesan tanpa suara di bawah bayang-bayang stupa yang
megah:
“Kalian menjaga
batu-batu yang berdiri di atas tanah yang dahulu kami relakan. Tetapi jangan
lupakan mereka yang pernah memberikan tanah itu.”
Sampai kapan keadaan ini
akan dibiarkan? Barangkali langkah pertama untuk menemukan kembali arah
pelestarian Borobudur yang lebih berkeadilan bukan dimulai dari rapat besar
atau proyek bernilai miliaran rupiah. Langkah itu dapat dimulai dari kesediaan
untuk mendengar, mengingat, dan memperbaiki hal-hal yang selama ini terabaikan.
Karena warisan sejati Borobudur bukan
hanya tumpukan batu yang indah. Warisan sejati adalah keadilan, rasa syukur,
dan keharmonisan antara candi, tanah, serta manusia yang menjaganya sejak dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar