RRBorobudur. Dalam rangka peringatan 24 Tahun Ruwat
Rawat Borobudur, akan diselenggarakan peluncuran buku berjudul “Dilema
Borobudur: Di antara Revolusi dan Rekonstruksi.” Buku ini merupakan
refleksi kritis mengenai dinamika pengelolaan Candi Borobudur di tengah
berbagai kepentingan yang saling berkelindan, mulai dari konservasi, ekonomi,
spiritualitas, hingga politik kebudayaan. Melalui buku ini, Borobudur dipandang
bukan sekadar situs warisan dunia, tetapi juga sebagai ruang hidup yang
menyimpan nilai sejarah, identitas budaya, sekaligus arah masa depan peradaban.
Peluncuran perdana buku tersebut akan dilaksanakan
pada Kamis, 12 Maret 2026, bertempat di Gedung CWS BRIN Magelang, Jalan Stupa
IV Kapling Jayan, Dusun XI Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang,
Jawa Tengah. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan pemikiran antara
pemerintah, akademisi, peneliti, serta para pegiat budaya dalam merumuskan cara
pandang yang lebih bijak terhadap masa depan Borobudur.
Sejumlah tokoh direncanakan hadir dalam acara ini,
antara lain Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Dr. Aulia Hadi, Ph.D. selaku
Kepala Pusat Riset Organisasi Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Prof. Dwi
Purwoko selaku Kepala Kelompok Riset Tradisi dan Budaya, serta perwakilan dari Bappeda
Kabupaten Magelang dan Dinas Kominfo Kabupaten Magelang. Selain itu hadir pula
sejumlah akademisi, peneliti, dan pegiat budaya seperti Dr. Dundin Zainuddin
(BRIN), Dedi S. Adhuri, Ph.D. (BRIN), Prof. Totok Rusmanto (UIN Walisongo
Semarang), Prof. Dr. Agus Purwantoro, M.Sn, Hasbi Ansyah Zulkarnain (BPPI), Joe
Marbun (Madja), Dr. William Khan, maestro batik, Pandu Bagas Setyaji, S.Ant, Dr.
Budiana Setiawan (BRIN), Dr. Heru Ponco Wardoyo (BRIN), serta Dr. Nur Wahid
(BRIN).
Buku ini ditulis oleh Sucoro Setrodiharjo,
sekaligus penggagas gerakan Ruwat Rawat Borobudur, bersama tim buku Sucoro.
Dalam pembahasannya, buku ini mengangkat berbagai isu penting seperti gagasan
rekonstruksi, pemasangan chattra, nilai Outstanding Universal Value (OUV)
UNESCO, serta perspektif filosofis Kiblata Papat Lima Pancer dalam memahami
makna Borobudur.
Melalui peluncuran buku ini, diharapkan lahir ruang
refleksi bersama bagi para pengambil kebijakan, akademisi, peneliti, pegiat
budaya, dan masyarakat luas untuk memandang Borobudur secara lebih utuh.
Borobudur tidak hanya dilihat sebagai monumen sejarah, tetapi sebagai pusat
nilai spiritual, kebudayaan, dan peradaban yang perlu dirawat secara arif,
adil, dan bermartabat demi keberlanjutan generasi masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar