HUJAN DI PAGI HARI - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 07 Maret 2026

HUJAN DI PAGI HARI

 
Oleh : Riwanto Tirtosudarmo

Hujan akhir Januari

 

Di akhir Januari hujan seperti mengikuti kemanapun aku pergi

Aku tak mungkin memintanya untuk pergi menjauh dari diriku

Hujan selalu begitu saja datang seolah ingin tiba-tiba menyergapku

Di tengah malam atau pagi hari sebelum aku terbangun dari mimpi

 

Hujan akhir Januari selalu ingin membawaku terbang tinggi

Melayang dalam basah menari menembus langit yang kelabu

Hujan akhir Januari mengajakku melupakan dingin di hatiku

Memelukku dalam hangat bersama desah rintik yang perlahan

 

Aku tak mungkin memintanya untuk membiarkan aku sendiri

Hujan akhir Januari kubiarkan menemani kemanapun aku pergi

Bersama angin hujan akhir Januari membuat hidup seperti mimpi

Hujan akhir Januari mengajakku menembus batas khayal dan mimpi

 

Tonjong Bogor 29 Januari 2026



Di sebuah pagi

 

Aku ingin bangun bersama burung-burung

Bernyanyi menyambut terang matahari dengan riang

Bersiul berkicau bersautan menguak remang kabut pagi

Menghirup segar udara meraba kehangatan sinar mentari

 

Meski tak pasti pagi selalu mengantarkan  mimpi

Seperti menguak luasnya cakrawala membuka lembar hari

Selalu ada yang seolah ingin diraih meski tak akan terjangkau

Mungkinkah keyakinan akan memberi keniscayaan dan kepastian?

 

Aku ingin menyambut pagi bersama burung-burung

Berkicau merayakan keluasan cakrawala yang tak bertepi

Melangkah ringan menapaki hari menyongsong mimpi

Mimpi dan keinginan samar yang selalu tak pasti

 

Tonjong Bogor 30 Januari 2026


Hujan kembali turun

 

Hujan kembali turun renainya membawaku kembali ke ingatan ketika bersamamu

Pagi itu hujan turun dengan derasnya membangunkanku dari tidur lelap bersamamu

Malam itu kami bermalam di penginapan kecil di dekat candi Siwa-Buda yang cantik itu

Kami tidur lelap setelah engkau seharian membaca dan mempelajari relief di dinding candi

Aku menemanimu yang selalu membuatku takjub dengan pengetahuanmu tentang candi-candi tua

Pagi itu kami duduk diam memandangi hujan yang seperti dicurahkan dari langit yang kelabu

Pagi ini hujan turun lagi tak sederas pagi ketika kami terbangun dari tidur lelap malam itu

Renai hujan membawaku terbang ke awan-awan hitam yang menggelantung di angkasa

Hidup seperti mimpi yang melintas di kesunyian malam dalam sepi yang tak bertepi

 

Tonjong-Bogor 27 Februari 2026

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar