Di sebuah serambi rumah tua yang dipeluk rimbun pohon sawo dan rumpun
bambu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Udara sore itu tenang, memberi ruang
bagi pikiran untuk berkelana lebih jauh dari biasanya. Di sana, Dr. Sronto
duduk bersama Mbak Vino, seorang peneliti budaya, dan Rudyanto. Pertemuan yang
tidak resmi itu perlahan berubah menjadi sebuah pengembaraan batin.
Diskusi mereka bermula pada satu titik: ego dan bagaimana ia membayangi
kesadaran manusia terhadap Yang Ilahi.
Dr. Sronto mengawali dengan suara tenang, menjelaskan bahwa manusia
memiliki kapasitas untuk menjelajahi berbagai lapisan eksistensi mulai dari
kesadaran fisik, kesadaran batin atau astral, hingga kesadaran Ilahi
yang paling murni.
“Namun persoalannya,” kata Dr. Sronto sembari menatap langit yang mulai
meredup, “ego itu sangat cerdik. Ia sering ikut menyelinap ke dalam setiap
lapisan itu. Bahkan ketika seseorang merasa sedang berbicara tentang Tuhan,
sering kali yang sebenarnya sedang berbicara hanyalah egonya yang dipoles
sedemikian rupa.”
Mbak Vino mengerutkan dahi, mencoba mencerna. “Kalau begitu, apakah
masih pantas kita membawa ego saat berhadapan dengan Yang Ilahi? Bukankah Yang
Ilahi seharusnya bebas dari kepentingan diri?”
Dr. Sronto tersenyum tipis. “Itulah jebakan yang sering membuat manusia
keliru. Kita sering mengaku sedang mendekati Tuhan, padahal sebenarnya kita
hanya sedang memperhalus ego kita sendiri agar terlihat suci.”
Suasana hening sejenak. Kata-kata itu menggantung di udara, memaksa yang
hadir untuk bercermin. Percakapan kemudian bergeser pada konsep Triwikrama.
Dr. Sronto menjelaskan bahwa dalam tradisi kebatinan Jawa yang juga tersirat
dalam kisah pewayangan manusia memiliki tiga lapisan kesadaran yang dapat
menyatu melalui olah batin yang tekun.
“Tiga kesadaran itu seperti tiga aliran sungai,” jelasnya. “Kesadaran
raga, kesadaran rasa, dan kesadaran cahaya batin. Jika ketiganya bertemu dan
melebur, manusia bisa 'menjelma' dalam arti kesadarannya mengalami transformasi
total.”
Rudyanto, yang sejak tadi menyimak dengan saksama, mencoba menarik
benang merah dari sudut pandang ilmu saraf. “Menariknya,” sela Rudyanto,
“secara biologis otak manusia memang memiliki mekanisme untuk mengerem dorongan
ego. Namun masalahnya klasik: kita lebih rajin memberi makan keinginan daripada
melatih kesadaran.”
Mbak Vino tertawa kecil, sebuah tawa yang getir namun membenarkan. “Jadi
sebenarnya sederhana, ya? Kita hanya terlalu sibuk memelihara nafsu, bukan
kesadaran.”
Dr. Sronto mengangguk pelan. “Dalam bahasa Jawa ada pepatah: Sing
angel iku dudu golek pencerahan, nanging nyuda karepe dhewe. Yang sulit itu
bukan mencari pencerahan, melainkan mengurangi keinginan diri sendiri.”
Matahari hampir tenggelam sepenuhnya saat diskusi sampai pada puncaknya:
tentang belas kasih. Dr. Sronto menutupnya dengan sebuah perumpamaan yang
indah.
“Ego itu seperti debu di atas cermin. Semakin tebal debunya, semakin
kabur pantulannya. Tapi ketika debu itu dibersihkan, kita tidak hanya akan
melihat diri kita dengan jujur—kita juga akan mampu melihat orang lain dengan
lebih jernih. Dari kejernihan itulah belas kasih lahir.”
“Dan belas kasih,” tambah Rudyanto, “mungkin adalah satu-satunya
kekuatan yang benar-benar bisa menyembuhkan dunia.”
Mbak Vino menatap halaman yang kini telah gelap. “Aneh ya,” bisiknya
lirih, “manusia mencari Tuhan jauh-jauh ke mana-mana, padahal mungkin Tuhan
hanya sedang menunggu kita berhenti memuja ego kita sendiri.”
Angin sore bergerak pelan melewati dedaunan bambu, meninggalkan bunyi
keresik yang lembut. Percakapan itu selesai, namun pertanyaan-pertanyaannya
justru baru saja mulai hidup dan berdenyut di dalam hati mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar