Percakapan Sunyi di Serambi Kawedanan - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 07 Maret 2026

Percakapan Sunyi di Serambi Kawedanan


Di sebuah serambi rumah tua yang dipeluk rimbun pohon sawo dan rumpun bambu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Udara sore itu tenang, memberi ruang bagi pikiran untuk berkelana lebih jauh dari biasanya. Di sana, Dr. Sronto duduk bersama Mbak Vino, seorang peneliti budaya, dan Rudyanto. Pertemuan yang tidak resmi itu perlahan berubah menjadi sebuah pengembaraan batin.

Diskusi mereka bermula pada satu titik: ego dan bagaimana ia membayangi kesadaran manusia terhadap Yang Ilahi.

Dr. Sronto mengawali dengan suara tenang, menjelaskan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menjelajahi berbagai lapisan eksistensi mulai dari kesadaran fisik, kesadaran batin atau astral, hingga kesadaran Ilahi yang paling murni.

“Namun persoalannya,” kata Dr. Sronto sembari menatap langit yang mulai meredup, “ego itu sangat cerdik. Ia sering ikut menyelinap ke dalam setiap lapisan itu. Bahkan ketika seseorang merasa sedang berbicara tentang Tuhan, sering kali yang sebenarnya sedang berbicara hanyalah egonya yang dipoles sedemikian rupa.”

Mbak Vino mengerutkan dahi, mencoba mencerna. “Kalau begitu, apakah masih pantas kita membawa ego saat berhadapan dengan Yang Ilahi? Bukankah Yang Ilahi seharusnya bebas dari kepentingan diri?”

Dr. Sronto tersenyum tipis. “Itulah jebakan yang sering membuat manusia keliru. Kita sering mengaku sedang mendekati Tuhan, padahal sebenarnya kita hanya sedang memperhalus ego kita sendiri agar terlihat suci.”

Suasana hening sejenak. Kata-kata itu menggantung di udara, memaksa yang hadir untuk bercermin. Percakapan kemudian bergeser pada konsep Triwikrama. Dr. Sronto menjelaskan bahwa dalam tradisi kebatinan Jawa yang juga tersirat dalam kisah pewayangan manusia memiliki tiga lapisan kesadaran yang dapat menyatu melalui olah batin yang tekun.

“Tiga kesadaran itu seperti tiga aliran sungai,” jelasnya. “Kesadaran raga, kesadaran rasa, dan kesadaran cahaya batin. Jika ketiganya bertemu dan melebur, manusia bisa 'menjelma' dalam arti kesadarannya mengalami transformasi total.”

Rudyanto, yang sejak tadi menyimak dengan saksama, mencoba menarik benang merah dari sudut pandang ilmu saraf. “Menariknya,” sela Rudyanto, “secara biologis otak manusia memang memiliki mekanisme untuk mengerem dorongan ego. Namun masalahnya klasik: kita lebih rajin memberi makan keinginan daripada melatih kesadaran.”

Mbak Vino tertawa kecil, sebuah tawa yang getir namun membenarkan. “Jadi sebenarnya sederhana, ya? Kita hanya terlalu sibuk memelihara nafsu, bukan kesadaran.”

Dr. Sronto mengangguk pelan. “Dalam bahasa Jawa ada pepatah: Sing angel iku dudu golek pencerahan, nanging nyuda karepe dhewe. Yang sulit itu bukan mencari pencerahan, melainkan mengurangi keinginan diri sendiri.”

Matahari hampir tenggelam sepenuhnya saat diskusi sampai pada puncaknya: tentang belas kasih. Dr. Sronto menutupnya dengan sebuah perumpamaan yang indah.

“Ego itu seperti debu di atas cermin. Semakin tebal debunya, semakin kabur pantulannya. Tapi ketika debu itu dibersihkan, kita tidak hanya akan melihat diri kita dengan jujur—kita juga akan mampu melihat orang lain dengan lebih jernih. Dari kejernihan itulah belas kasih lahir.”

“Dan belas kasih,” tambah Rudyanto, “mungkin adalah satu-satunya kekuatan yang benar-benar bisa menyembuhkan dunia.”

Mbak Vino menatap halaman yang kini telah gelap. “Aneh ya,” bisiknya lirih, “manusia mencari Tuhan jauh-jauh ke mana-mana, padahal mungkin Tuhan hanya sedang menunggu kita berhenti memuja ego kita sendiri.”

Angin sore bergerak pelan melewati dedaunan bambu, meninggalkan bunyi keresik yang lembut. Percakapan itu selesai, namun pertanyaan-pertanyaannya justru baru saja mulai hidup dan berdenyut di dalam hati mereka masing-masing.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar