Ada satu kalimat yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya:
“Borobudur itu ibarat keris pusaka yang telah kehilangan pamornya.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan puitis. Ia lahir dari kegelisahan
panjang dari sebuah kesadaran bahwa sesuatu yang besar sedang perlahan
kehilangan ruhnya.
Dalam dunia perkerisan, pamor bukan hanya corak pada bilah. Ia adalah
energi, jiwa, dan daya hidup. Sebuah keris tanpa pamor tetap indah secara
fisik, tetapi kehilangan makna terdalamnya.
Dan hari ini, perumpamaan itu terasa semakin relevan untuk membaca
Borobudur.
Megah yang Terlihat, Sepi yang
Terasa
Borobudur hari ini tidak bisa dibilang terabaikan. Ia dirawat,
dibersihkan, ditata. Infrastruktur diperbaiki, kunjungan meningkat, sistem
semakin modern.
Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja.
Namun, ada pertanyaan yang pelan-pelan muncul:
Apakah Borobudur masih benar-benar “hidup”?
Karena yang terjadi sering kali hanya sebatas aktivitas fisik. Orang
datang, berfoto, menikmati pemandangan, lalu pergi. Semua bergerak, tetapi
tidak selalu menyentuh.
Padahal, Borobudur bukan sekadar destinasi. Ia adalah perjalanan.
Perjalanan batin manusia dari dunia hasrat menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Ketika dimensi ini mulai memudar, maka yang hilang bukan hanya makna tetapi
juga pamor itu sendiri.
Dari Monumen Mati ke Monumen
Hidup
Kita pernah berada di fase di mana Borobudur diperlakukan sebagai monumen
mati. Ia berdiri, tetapi tidak “dihidupkan.” Ia dijaga, tetapi tidak
“dirasakan.”
Kemudian muncul kesadaran baru: Borobudur harus menjadi monumen hidup.
Sebuah gagasan yang sangat penting karena ia mengembalikan Borobudur
bukan hanya sebagai benda, tetapi sebagai ruang makna.
Namun dalam praktiknya, perjalanan menuju “hidup” itu tidaklah
sederhana.
Ketika Tafsir Tidak Lagi Bertemu
Borobudur adalah ruang tafsir. Ia bisa dibaca dari banyak sudut:
sejarah, arkeologi, agama, budaya, hingga spiritualitas yang lebih luas.
Seharusnya, ini adalah kekuatan.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Perbedaan tafsir tidak
selalu bertemu ,melainkan berbenturan. Wacana demi wacana muncul, diskusi
berubah menjadi perdebatan, dan niat baik kadang berakhir pada ketegangan.
Di balik itu semua, ada satu hal yang pelan-pelan menguat: kepentingan.
Dan ketika kepentingan masuk, cara pandang pun ikut berubah.
Fenomena “Suka dan Tidak Suka”
Di titik inilah muncul fenomena yang semakin terasa: “suka dan tidak
suka.”
Tanpa disadari, ruang kebersamaan mulai menyempit.
Yang dianggap sejalan akan lebih mudah diterima. Dilibatkan. Diberi
ruang.
Sementara yang berbeda pandangan meskipun punya niat baik perlahan menjauh dari
lingkaran.
Tidak selalu terlihat jelas, tetapi sangat terasa dampaknya.
Dialog menjadi terbatas.
Ruang bersama menjadi eksklusif.
Dan Borobudur, yang seharusnya menjadi milik semua, perlahan terasa seperti
milik sebagian.
Padahal, sesuatu yang besar seperti Borobudur tidak mungkin hidup dalam
ruang yang sempit.
Borobudur Butuh Kebersamaan,
Bukan Sekat
Kalau kita kembali ke esensinya, Borobudur dibangun bukan untuk satu
kelompok. Ia adalah simbol keseimbangan. Simbol perjalanan. Simbol
keterhubungan.
Artinya, ia hanya bisa benar-benar “hidup” jika dirawat bersama.
Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara rasa.
Bukan hanya dengan aturan, tetapi dengan keterbukaan.
Karena pamor tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari harmoni.
Menghidupkan Kembali yang Hampir
Hilang
Mengembalikan pamor Borobudur bukan pekerjaan cepat. Ia tidak bisa
diselesaikan dengan proyek, program, atau kebijakan semata.
Ia membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar:
kesediaan untuk bersama.
Bersama dalam perbedaan.
Bersama dalam tafsir.
Bersama dalam tujuan.
Selama pola “suka dan tidak suka” masih menjadi cara pandang, maka
Borobudur akan terus terlihat hidup tetapi terasa jauh.
Sebaliknya, ketika ruang dibuka dan sekat mulai runtuh, di situlah pamor
itu perlahan akan kembali.
Merawat, Bukan Memiliki
Borobudur bukan sesuatu yang harus diperebutkan. Ia adalah warisan yang
harus dirawat.
Seperti keris pusaka, ia tidak kehilangan pamornya sepenuhnya. Ia hanya
menunggu untuk dihidupkan kembali.
Dan itu tidak bisa dilakukan oleh satu pihak, satu kelompok, atau satu
kepentingan saja.
Borobudur hanya akan benar-benar hidup ketika ia kembali menjadi milik
bersama—tanpa sekat “suka dan tidak suka.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar