Menggugat Marwah Borobudur: Antara Konservasi, Jeritan Warga, dan Transparansi AI

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





RUWAT RAWAT BOROBUDUR – Selama empat dekade, Candi Borobudur berdiri tegak sebagai simbol keagungan peradaban. Namun, di balik kemegahan batu-batu andesitnya, tersimpan luka lama dan dilema yang tak kunjung usai. Hal ini terungkap dalam sebuah presentasi mendalam di hadapan para peneliti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sucoro warga asli Borobudur yang telah menyaksikan dinamika candi selama 74 tahun, menyampaikan refleksi tajam mengenai kondisi terkini sang Warisan Budaya Dunia (WBD). Baginya, Borobudur saat ini ibarat "keris yang kehilangan pamor" indah secara fisik, namun mulai luntur nilai spiritualitasnya.

Dilema 40 Tahun: Pelestarian vs Kesejahteraan

Sejak pemugaran besar (1980–1984), janji kesejahteraan bagi masyarakat terdampak relokasi seolah jalan di tempat. Meski dikelola oleh PT Taman Wisata Candi (TWC) selama 40 tahun, integrasi antara perlindungan cagar budaya dan nasib sosial-ekonomi warga lokal dinilai belum harmonis.

"Saya sebagai warga yang lahir dan meniti kehidupan di kaki candi, melihat bahwa kebijakan yang ada sering kali mengabaikan nilai spiritualitas dan hak-hak masyarakat lokal," ungkapnya dengan nada getir.

Akar persoalan utama yang disorot meliputi:

  1. Krisis Nilai: Pergeseran fokus dari wisata spiritual/sejarah menjadi sekadar "pemburu foto" yang mengancam integritas Outstanding Universal Value (OUV).
  2. Eksklusi Masyarakat: Warga yang memiliki ikatan batin kuat dengan candi belum diposisikan sebagai mitra utama, melainkan hanya penonton di tanah sendiri.
  3. Kebijakan Tumpang Tindih: Dari Keppres hingga Perpres terbaru, koordinasi antar instansi (Pusat-Daerah-Desa) masih diwarnai ego sektoral yang mengakibatkan proyek seperti Balkondes mangkrak.

Efek "Dadal": Peran AI Membongkar Menara Gading

Menariknya, narasi ini menyoroti fenomena baru: peran Artificial Intelligence (AI) sebagai pendobrak kebuntuan informasi. Selama bertahun-tahun, pengelolaan Borobudur didominasi oleh narasi tunggal para teknokrat dan birokrasi tertutup.

Kini, AI hadir mengolah data mentah menjadi informasi yang lugas dan unfiltered. Masyarakat—mulai dari sopir ojek hingga akademisi—kini memiliki akses terhadap data kinerja pembangunan yang selama ini tersembunyi.

"Informasi yang disajikan AI seolah membuka tabir yang lama tertutup. Ia seperti saluran tersumbat yang tiba-tiba 'dadal' (jebol) mengalir deras. Pintu menara gading yang retak kini akan pecah," lanjut narasi tersebut.

Media sosial seperti X dan TikTok pun berubah menjadi "laboratorium rakyat", tempat warga menggugat transparansi dan menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan yang merugikan mereka selama bertahun-tahun.

Tantangan Kolaborasi dan Hati Nurani

Pada akhirnya, masa depan Borobudur bukan hanya soal teknis konservasi batu, melainkan soal kepemimpinan dan kolaborasi. Munculnya teknologi informasi yang masif menuntut para pemangku kebijakan untuk lebih jujur.

Apakah pemerintah akan memanfaatkan kejernihan data ini untuk membangun sistem yang melibatkan hati nurani masyarakat, atau membiarkan diskusi publik terus liar tanpa aksi nyata? Borobudur adalah hukum sebab-akibat (karma). Apa yang ditanam dalam kebijakan hari ini, itulah yang akan dipanen oleh generasi mendatang.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default