RUWAT RAWAT BOROBUDUR – Candi Borobudur bukanlah
sekadar artefak bisu dari masa lalu. Ia adalah entitas hidup yang memikul napas
spiritualitas, pendidikan, dan jati diri bangsa. Namun, di tengah gemuruh
pembangunan kawasan, kita sering terjebak dalam dikotomi antara konservasi yang
kaku dan komersialisasi yang gersang. Melalui kacamata Ruwat Rawat Borobudur
(RRB), kita diingatkan kembali bahwa pusat dari segala pelestarian adalah
kemanusiaan.
Pelestarian yang Menghidupkan
Prinsip utama yang kita pegang teguh adalah
pelestarian fisik dan nilai yang tidak boleh ditawar. Namun, pelestarian tidak
berarti memagari candi dari manusianya. Pelestarian Borobudur adalah
tanggung jawab kolektif; ia hanya akan menjadi sejati ketika setiap
interaksi—baik itu melalui pariwisata berkelanjutan maupun aktivitas
edukasi—mampu menumbuhkan rasa memiliki. Wisatawan harus bertransformasi dari
sekadar penikmat menjadi penjaga budaya. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana
peran Anda dalam merawat warisan luhur ini?
Keadilan Sosial: Subjek di Tanah
Sendiri
Keberadaan Borobudur di tengah pemukiman warga
menuntut adanya keadilan ekonomi dan sosial. Meski infrastruktur seperti
Balkondes telah hadir, tantangan besar masih membentang:
- Subjek
vs Objek:
Masyarakat lokal harus berhenti diposisikan sebagai objek kebijakan top-down.
Mereka adalah subjek utama yang memiliki hak atas arah pengembangan tanah
kelahirannya.
- Pemerataan
Ekonomi:
Keadilan sejati tercapai ketika megahnya pariwisata berbanding lurus
dengan kesejahteraan UMKM dan petani di desa-desa sekitar, bukan justru
menciptakan ketimpangan struktural.
Belajar dari Filosofi Sucoro dan
Ruwat Rawat Borobudur
Di tengah transisi ini, sosok Sucoro
Setrodiharjo melalui Brayat Panangkaran telah memberikan teladan
selama lebih dari dua dekade. Karya budayanya, Ruwat Rawat Borobudur, bukan
sekadar festival, melainkan sebuah manifestasi perlawanan terhadap pendangkalan
nilai pusaka menjadi sekadar komoditas.
"Ruwat" adalah upaya kita membersihkan niat dari pengaruh
negatif komersialisasi berlebih, sementara "Rawat" adalah
janji kita untuk memelihara warisan luhur ini dengan melibatkan akar rumput.
Dengan diusulkannya RRB sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, dunia
kini melihat bahwa kekuatan pelestarian yang paling tangguh lahir dari
kedaulatan komunitas lokal.
Menghidupkan Kembali Marwah
Borobudur
Menghidupkan Borobudur berarti menyelaraskan
harmoni antara batu dan manusia. Kita tidak hanya sedang merawat tumpukan
andesit, tetapi sedang merawat martabat, tradisi, dan masa depan warga yang
hidup di bawah bayang-bayang kemegahannya. Karena pada akhirnya, pelestarian
Borobudur adalah tanggung jawab kolektif. Borobudur adalah jembatan, dan
kemanusiaan adalah fondasinya.
Lantas, sudahkah kita mengambil bagian, atau hanya
menjadi penonton di tengah perubahan? Bagaimana peran Anda dalam merawat
warisan luhur ini?
